Friday, March 19, 2010

~Mendalami Tauhid Asma Wash Shifat~

Di antara kita mungkin banyak yang belum paham bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki banyak nama dan sifat. Namun tentu saja nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala berbeda dengan nama dan sifat makhluk-Nya, karena tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia. Di antara perbedaannya, nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala penuh dengan kesempurnaan, sedangkan nama dan sifat makhluk mengandung banyak kekurangan. Pemahaman yang benar tentang nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberi dampak yang besar terhadap keimanan seseorang. Sebaliknya, pemahaman yang keliru bisa menyebabkan seseorang kufur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Yang dimaksud dengan tauhid ini ialah mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan seluruh nama dan sifat yang dimiliki-Nya. Keyakinan ini mengandung dua perkara:
1.Penetapan,yang dimaksud adalah menetapkan bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala seluruh nama dan sifat-Nya. Maka tidaklah kita menetapkan nama bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali dengan nama yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan bagi diri-Nya atau ditetapkan oleh Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian pula tidaklah kita menetapkan sifat bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali dengan sifat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan bagi diri-Nya atau ditetapkan oleh Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

2.Peniadaan, yang dimaksud adalah meniadakan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala seluruh nama dan sifat yang telah ditiadakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Meniadakan pula semua penyerupaan dengan nama dan sifat makhluk. Jika ada keserupaan dari sisi asal makna kata namun hakikatnya tetaplah berbeda. Jadi, yang ditiadakan adalah keserupaan dari segala sisi, bukan pada sebagiannya.
Barangsiapa tidak mau menetapkan bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala sesuatu yang sudah Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan bagi diri-Nya berarti dia mu’aththil (seorang penolak) dan penolakannya serupa dengan penolakan Fir’aun. Sebab seorang yang tidak mau menetapkan nama dan sifat bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala berarti dia telah meniadakan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana Fir’aun yang tidak mengimani keberadaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tetapi barangsiapa mau menetapkan lalu menyerupakan nama dan sifat tersebut dengan makhluk berarti dia menyamai kaum musyrikin yang mengibadahi selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebab seorang yang menyerupakan nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sesuatu yang ada pada makhluk, pada hakikatnya dia mengibadahi sesuatu selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak sama dengan makhluk-Nya. Kemudian, barangsiapa mau menetapkan sesuatu yang sudah Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan bagi diri-Nya tanpa menyerupakan dengan yang selain-Nya berarti dia seorang muwahhid (seorang yang bertauhid). Wallahu a’lam bish-shawab.

Penetapan dan peniadaan ini memiliki dali-dalil yang sangat otentik dan akurat dari dua arah yang tak diragukan lagi keabsahannya, yaitu syariat dan naluri logika. Adapun dari syariat, di antaranya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَلِلَّهِ اْلأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوْهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِيْنَ يُلْحِدُوْنَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُوْنَ

“Hanya milik Allah nama-nama yang paling baik, maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu, dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran mengenai nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan atas segala yang telah mereka kerjakan.” (Al-A’raf: 180)

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

“Tak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11)

فَلاَ تَضْرِبُوا لِلَّهِ اْلأَمْثَالَ إِنَّ اللهَ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ

“Maka janganlah kalian mengadakan penyerupaan-penyerupaan bagi Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kalian tidak mengetahui.” (An-Nahl: 74)

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُوْلاً

“Dan janganlah kalian mengikuti sesuatu yang kalian tidak memiliki pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, seluruhnya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” (Al-Isra`: 36)

Sedangkan dalil dari naluri logika yaitu kita mengatakan bahwa berbicara tentang nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala termasuk pemberitaan yang tak mungkin akal kita mampu menangkap perinciannya tanpa tuntunan wahyu. Oleh karena itu, seharusnya kita mencukupkan diri dengan setiap yang diberitakan oleh wahyu saja dan tidak melampauinya.

Menggabungkan antara penetapan dan peniadaan dalam masalah nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan hakikat tauhid. Tak mungkin mencapai kebenaran hakikat tauhid kecuali dengan penetapan dan peniadaan. Karena mencukupkan diri dengan penetapan semata, tidaklah mencegah timbulnya penyerupaan dan penyekutuan. Sedangkan mencukupkan diri dengan peniadaan berarti penolakan yang murni.

Sebagai contoh, jika engkau berkata, “Si Zaid bukan seorang pemberani.” Berarti engkau telah meniadakan sifat pemberani dari si Zaid sekaligus menolak (menjauhkan) Zaid dari sifat pemberani. Jika engkau berkata, “Zaid adalah seorang pemberani.” Berarti engkau telah menetapkan sifat pemberani bagi Zaid, tetapi tidak menolak kemungkinan bahwa selain Zaid juga pemberani. Jika engkau berkata, “Tak ada seorang pun yang pemberani kecuali Zaid.” Berarti engkau telah menetapkan sifat pemberani bagi Zaid dan meniadakannya dari selain Zaid. Dengan demikian, engkau telah mengesakan Zaid dalam perkara keberanian. Jadi, tidak mungkin mengesakan seseorang dalam suatu perkara kecuali dengan menggabungkan antara peniadaan dan penetapan.

Di sini kita perlu menegaskan bahwa seluruh sifat yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi diri-Nya merupakan sifat-sifat kesempurnaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih banyak menyebutkannya secara rinci daripada mengglobalkan. Karena bila pemberitaan dan kandungan-kandungan yang ditunjukkannya semakin banyak maka akan tampak kesempurnaan dzat yang disifatkan dengannya, yang sebelumnya tidak diketahui.

Oleh karena itu, sifat-sifat yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan bagi diri-Nya lebih banyak diberitakan daripada sifat-sifat yang ditiadakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dari diri-Nya. Adapun seluruh sifat yang telah ditiadakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dari diri-Nya merupakan sifat-sifat kekurangan yang tidak pantas bagi Dzat-Nya, seperti sifat kelemahan, letih, aniaya, dan sifat menyerupai para makhluk.

Kebanyakan sifat ini disebutkan secara global. Sebab hal itu lebih mendukung untuk mengagungkan dzat yang disifatkan dan lebih sempurna dalam menyucikannya. Sedangkan penyebutan sifat-sifat itu secara terperinci tanpa alasan, bisa menjadi ejekan dan pelecehan terhadap dzat yang disifati.

Jika anda memuji seorang raja dengan mengatakan kepadanya, “Anda adalah seorang yang dermawan, pemberani, teguh, memiliki hukum yang kuat, perkasa atas musuh-musuhmu” dan sifat-sifat terpuji lainnya, sungguh hal ini termasuk sanjungan yang sangat besar terhadapnya. Bahkan di dalamnya terdapat nilai pujian yang lebih dan menampakkan kebaikan-kebaikannya, sehingga menjadikannya sebagai seorang yang dicintai dan dihormati, karena anda telah memperinci sifat-sifat yang ditetapkan baginya.

Demikian pula jika anda mengatakan kepadanya, “Anda adalah seorang raja yang tak bisa disamai oleh seorang pun dari raja-raja dunia yang berada di masamu,” sungguh hal ini juga merupakan sanjungan yang bernilai lebih, karena anda telah mengglobalkan sifat-sifat yang ditiadakan darinya. Jika anda mengatakan kepadanya, “Engkau adalah seorang raja yang tidak pelit, tidak penakut, tidak faqir, dan engkau bukan seorang penjual sayur, bukan seorang tukang sapu, bukan dokter hewan, dan bukan tukang bekam,” dan perincian-perincian yang semacam itu dalam meniadakan segala keaiban yang tidak pantas bagi kemuliaannya, sungguh hal ini akan dianggap sebagai ejekan dan pelecehan terhadap haknya.
Walaupun yang mayoritas pada sifat-sifat yang ditiadakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dari Dzat-Nya adalah disebutkan secara global, namun terkadang Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkannya dengan terperinci pula, karena beberapa sebab:

1. Untuk meniadakan sesuatu yang `diklaim’ oleh para pendusta terhadap hak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana dalam firman-Nya:

مَا اتَّخَذَ اللهُ مِنْ وَلَدٍ وَمَا كَانَ مَعَهُ مِنْ إِلَهٍ

“Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi beserta-Nya.” (Al-Mu`minun: 91)

2. Untuk menepis anggapan akan suatu kekurangan pada kesempurnaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana dalam firman-Nya:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَمَا مَسَّنَا مِنْ لُغُوْبٍ

“Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam hari, dan tidaklah sedikitpun kami ditimpa keletihan.” (Qaf: 38)

Di dalam Al-Qur`an terlalu banyak ayat yang berbicara tentang nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala secara terperinci. Di antaranya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

هُوَ اللهُ الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيْمُ. هُوَ اللهُ الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلاَمُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيْزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللهِ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ. هُوَ اللهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ اْلأَسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

“Dialah Allah yang tiada sesembahan yang berhak diibadahi selain Dia, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dialah Allah yang tiada sesembahan yang berhak diibadahi selain Dia, yang Maha Memiliki, yang Maha Suci, yang Maha Sejahtera, yang Mengaruniakan keamanan, yang Maha Memelihara, yang Maha Perkasa, yang Maha Kuasa, yang Maha Sombong. Maha Suci Allah dari segala yang mereka persekutukan. Dialah Allah yang Maha Menciptakan, yang Mengadakan, yang membentuk rupa, yang mempunyai nama-nama yang baik. Seluruh yang di langit dan bumi bertasbih kepada-Nya. Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Hasyr: 22-24)

Ayat-ayat ini mengandung lebih dari 15 nama, dan setiap nama bisa mengandung satu atau dua sifat bahkan bisa pula lebih. Juga di antaranya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

ليُدْخِلَنَّهُمْ مُدْخَلاً يَرْضَوْنَهُ وَإِنَّ اللهَ لَعَلِيْمٌ حَلِيْمٌ. ذَلِكَ وَمَنْ عَاقَبَ بِمِثْلِ مَا عُوْقِبَ بِهِ ثُمَّ بُغِيَ عَلَيْهِ لَيَنْصُرَنَّهُ اللهُ إِنَّ اللهَ لَعَفُوٌّ غَفُوْرٌ. ذَلِكَ بِأَنَّ اللهَ يُوْلِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُوْلِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَأَنَّ اللهَ سَمِيْعٌ بَصِيْرٌ. ذَلِكَ بِأَنَّ اللهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيْرُ. أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللهَ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَتُصْبِحُ اْلأَرْضُ مُخْضَرَّةً إِنَّ اللهَ لَطِيْفٌ خَبِيْرٌ. لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي اْلأَرْضِ وَإِنَّ اللهَ لَهُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ. أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي اْلأَرْضِ وَالْفُلْكَ تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِأَمْرِهِ وَيُمْسِكُ السَّمَاءَ أَنْ تَقَعَ عَلَى اْلأَرْضِ إِلاَّ بِإِذْنِهِ إِنَّ اللهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوْفٌ رَحِيْمٌ

“Sesungguhnya Allah akan memasukkan mereka ke dalam suatu tempat (surga) yang mereka menyukainya. Dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun. Demikianlah, dan barangsiapa membalas seimbang dengan penganiayaan yang pernah ia derita kemudian ia dianiaya (lagi), pasti Allah akan menolongnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. Yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah (kuasa) memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan bahwasanya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, dialah (Ilah) yang haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah adalah batil, dan sesungguhnya Allah Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. Apakah kalian tiada melihat, bahwasanya Allah menurunkan air dari langit, lalu jadilah bumi itu hijau? Sesungguhnya Allah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui. Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Apakah kamu tiada melihat bahwasanya Allah menundukkan bagimu apa yang ada di bumi dan bahtera yang berlayar di lautan dengan perintah-Nya? Dan dia menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya? Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.” (Al-Hajj: 59-65)

Ayat ini berjumlah tujuh ayat yang saling beriringan. Masing-masing ayat ditutup dengan dua nama dari nama-nama Allah, sedangkan setiap nama mengandung satu atau dua sifat bahkan bisa pula lebih.
Mengenai peniadaan yang disebutkan secara global, di antaranya sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

“Tak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya.” (Asy-Syura: 11)

هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا

“Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?” (Maryam: 65)

وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

“Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (Al-Ikhlash: 4)

Di sini kita ingin kembali menegaskan bahwa kesamaan dalam perkara nama dan sifat tidaklah menunjukkan kesamaan antara dzat-dzat yang diberi nama dan disifati. Hal ini bisa dibuktikan melalui dalil-dalil syariat, logika, dan panca indera.
1. Bukti dari dalil yang syar’i di antaranya, bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman tentang Dzat-Nya:

إِنَّ اللهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللهَ كَانَ سَمِيْعًا بَصِيْرًا

“Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (An-Nisa`: 58)
Di dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan bahwa Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat. Demikian pula di dalam ayat yang lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan bahwa manusia mendengar dan melihat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّا خَلَقْنَا اْلإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيْهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيْعًا بَصِيْرًا

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur, yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan). Karena itu Kami jadikan dia seorang yang mendengar dan melihat.” (Al-Insan: 2)
Namun tentunya pendengaran Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak sama dengan pendengaran manusia walaupun sama-sama diberi nama dan disifati dengan mendengar. Oleh sebab itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan kita akan hal ini dengan firman-Nya:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

“Tak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11)

2. Bukti dari dalil yang logis, yaitu bahwa perkara yang maknawi dan sebuah sifat akan terkait dan terbedakan dari yang lainnya sesuai dengan apa yang dinisbatkan kepadanya. Bila segala sesuatu berbeda-beda dari sisi hakikat dzatnya, maka pastilah segala sesuatu berbeda-beda pula dari sisi sifat dan perkara maknawi yang dinisbatkan kepadanya. Oleh karena itu, sifat setiap dzat yang diberikan padanya sesuai dengan yang dinisbatkan kepadanya dan tidak mungkin kurang atau melebihi dzat yang disifatkan. Sebagai contoh, kita mensifatkan manusia dengan kelembutan dan juga mensifatkan besi yang meleleh dengan kelembutan. Padahal kita mengetahui bahwa jenis kelembutan itu berbeda-beda maknanya sesuai dengan apa yang dinisbatkan kepadanya.

3. Adapun bukti dari dalil secara panca indera, yaitu bahwasanya kita menyaksikan gajah memiliki fisik, kaki, serta kekuatan dan nyamuk juga memiliki fisik, kaki, serta kekuatan. Di sini tentunya kita mengetahui perbedaan antara fisik, kaki, serta kekuatan keduanya.

Jika kita sudah mengetahui bahwa kesamaan dalam perkara nama dan sifat di antara para makhluk tidaklah berkonsekuensi keserupaan dalam bentuk hakikatnya, padahal mereka adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka tidak adanya keserupaan antara Dzat yang Maha pencipta dengan makhluk ciptaan-Nya dalam hakikat nama dan sifat tentu lebih utama dan jelas. Bahkan kesamaan antara Dzat Yang Maha Pencipta dan makhluk ciptaan-Nya dalam perkara nama dan sifat adalah sesuatu yang amat sangat tidak mungkin terjadi. Wallahu a’lam bish-shawab.

Prinsip dalam Menetapkan Nama dan Sifat bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala
Berdasarkan dalil-dalil dari Al-Qur`an dan As-Sunnah, Ahlus Sunnah menetapkan nama dan sifat-sifat bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak diragukan lagi, bahwa menetapkan nama dan sifat-sifat bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala haruslah dengan prinsip-prinsip yang benar. Ahlus Sunnah menyucikan nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa menolaknya dan menetapkannya tanpa menyerupakannya (dengan nama dan sifat-sifat makhluk). Ada empat perkara yang diingkari oleh Ahlus Sunnah dalam menetapkan nama dan sifat-sifat bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagai berikut:

1. At-Tahrif
At-Tahrif secara bahasa bermakna menyimpangkan sesuatu dari hakikat, bentuk, dan kebenarannya. Adapun menurut istilah syariat, maknanya adalah memalingkan sebuah ucapan dari makna zhahirnya yang semula dipahami, kepada makna lain yang tidak ditunjukkan oleh rangkaian kalimatnya. Perbuatan At-Tahrif terbagi kepada dua jenis:

a. At-Tahrif yang dilakukan pada teks lafadz. Jenis yang ini terbagi kepada tiga bentuk:

• . Mengubah harakatnya. Di antaranya seperti bacaan dari sebagian ahli bid’ah terhadap firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَكَلَّمَ اللهُ مُوْسَى تَكْلِيْمًا

“Dan Allah telah berbicara kepada Musa secara langsung.” (An-Nisa`: 164)

Mereka membacanya dengan memberi harakat fathah pada kata (اللهَ) dengan tujuan untuk mengubah maknanya, yaitu Nabi Musa ‘alaihissalam yang mengajak Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk berbicara, bukan sebaliknya.

• Menambahkan hurufnya, yang demikian itu seperti men-tahrif bacaan اسْتَوَى yang artinya tinggi, menjadi اسْتَوْلَى yang artinya berkuasa.

• Menambahkan kalimatnya, yang demikian itu seperti menambahkan kata (الرَّحْمَةُ) yang artinya rahmat, pada firman Allah وَجَاءَ رَبُّكَ yang artinya “telah datang Rabbmu”, sehingga menjadi وَجَاءَ رَحْمَةُ رَبِّكَ yang artinya “telah datang rahmat Rabbmu.”

b At-Tahrif yang dilakukan pada makna kata tanpa mengubah harakat dan lafadznya. Contohnya seperti ucapan sebagian ahli bid’ah terhadap firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوْطَتَانِ

“Bahkan kedua tangan-Nya terbentang.” (Al-Ma`idah: 64)

Mereka mengatakan bahwa yang dimaksud dengan tangan-Nya adalah kekuasaan atau nikmat-Nya, atau yang selain itu.

Di sini perlu ditegaskan bahwa ahli bid’ah yang suka melakukan At-Tahrif tidak menamakannya dengan At-Tahrif, tetapi menyebutnya sebagai At-Ta`wil yang artinya menafsirkan. Hal ini karena mereka tahu bahwa kata At-Tahrif berkonotasi jelek dan tercela di dalam Al-Qur`an. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

مِنَ الَّذِيْنَ هَادُوا يُحَرِّفُوْنَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ

“Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mentahrif (mengubah) perkataan dari tempat-tempatnya.” (An-Nisa`: 46)

Pada ayat di atas Allah Subhanahu wa Ta’ala menisbatkan perbuatan At-Tahrif kepada kaum Yahudi. Ini menunjukkan bahwa konotasi maknanya adalah jelek. Mereka mengganti istilah At-Tahrif dengan istilah At-Ta`wil agar lebih diterima oleh banyak kalangan, dan dalam rangka melariskan dagangan kebid’ahan mereka di antara orang-orang yang tidak bisa membedakan antara keduanya.

2. At-Ta’thil
At-Ta’thil secara bahasa maknanya meninggalkan dan mengosongkan. Adapun menurut istilah syariat, maknanya adalah menolak makna yang benar di dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah. At-Ta’thil terbagi kepada dua jenis:

a. At-Ta’thil yang bersifat global, yaitu menolak nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala secara menyeluruh, sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok Al-Jahmiyyah, Al-Qaramithah, para ahli filsafat, dan yang selain mereka.

b. At-Ta’thil yang bersifat parsial, yaitu menolak sebagian dan menetapkan sebagian yang lain, sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok Al-Mu’tazilah yang menolak sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menetapkan nama-nama-Nya. Demikian pula kelompok Al-Asya’irah, Al-Kullabiyyah, dan Al-Maturidiyyah yang menolak sebagian sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menetapkan sebagian yang lainnya.

3. At-Tamtsil
At-Tamtsil secara bahasa maknanya menyerupakan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Adapun menurut istilah syariat, maknanya adalah meyakini bahwa sifat-sifat Allah yang Maha Pencipta serupa dengan sifat-sifat makhluk ciptaan-Nya. At-Tamtsil terbagi dua jenis:

a. Menyerupakan makhluk dengan Dzat Yang Maha Pencipta, yaitu menetapkan untuk makhluk sesuatu yang telah menjadi kekhususan Dzat yang Maha Pencipta. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Nasrani ketika mereka mengatakan bahwa Nabi ‘Isa adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

b. Menyerupakan Dzat yang Maha Pencipta dengan makhluk ciptaan-Nya, yaitu menetapkan untuk Dzat yang Maha Pencipta sesuatu yang telah menjadi kekhususan makhluk-Nya. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Yahudi ketika mereka mengatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Dzat yang faqir, pelit, dan lemah.

4. At-Takyif
At-Takyif maknanya meyakini sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam bentuk tertentu yang dibayangkan di alam pikiran, atau menanyakan bagaimana bentuknya walaupun tanpa menyerupakannya dengan sesuatu yang wujud. Berarti At-Takyif berbeda dari At-Tamtsil dari satu sisi dan sama dari sisi yang lainnya. Perbedaan keduanya, At-Takyif menyerupakan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sesuatu yang tak ada wujudnya di luar alam pikiran, sedangkan At-Tamtsil menyerupakan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sesuatu yang ada wujudnya di luar alam pikiran. Adapun kesamaannya, keduanya sama-sama perbuatan menyerupakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan yang selainnya. Sehingga setiap orang yang melakukan At-Tamtsil pasti melakukan pula At-Takyif, tetapi tidak sebaliknya.

Kelompok-kelompok yang Sesat
Secara garis besar, kelompok-kelompok yang sesat dalam perkara nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala terbagi menjadi dua golongan:

1. Al-Mu’aththilah, yaitu orang-orang yang mengingkari nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik secara keseluruhan atau sebagiannya. Mereka mengingkari karena keyakinan bahwa menetapkannya berarti menyerupakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan makhluk-Nya. Keyakinan mereka ini adalah batil dan bertentangan dengan dalil-dalil Al-Qur`an dan As-Sunnah. Untuk membuktikan kebatilan keyakinan mereka, bisa dilihat dari beberapa sisi, di antaranya:

a. Keyakinan mereka ini mengandung beberapa konsekuensi yang batil, di antaranya berkonsekuensi terjadinya kontradiksi di antara firman-firman Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pada sebagian ayat, Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan nama dan sifat-sifat bagi Dzat-Nya. Pada ayat yang lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala meniadakan penyerupaan-Nya dengan yang selain-Nya. Jika menetapkan nama dan sifat-sifat bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala berarti menyerupakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan makhluk-Nya, maka telah terjadi kontradiksi di antara firman-firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan sebagiannya telah mendustakan sebagian yang lain.

b. Kesamaan antara dua hal dalam perkara nama atau sifat, tidaklah menuntut keserupaan antara hakikat keduanya dari segala sisi. Kita bisa melihat dua orang yang sama-sama disebut dengan manusia, mendengar dan melihat. Namun bukan berarti keduanya sama dalam sifat kemanusiaan, pendengaran, dan penglihatan dari segala sisi. Pasti sifat-sifat yang dimiliki oleh keduanya sangat berbeda hakikatnya. Bila perbedaan hakikat nama dan sifat terjadi di kalangan makhluk walaupun ada kesamaan pada sebagian sisi, maka perbedaan hakikat nama dan sifat antara Allah Subhanahu wa Ta’ala dan makhluk-Nya tentu lebih nyata dan lebih besar.

2. Al-Musyabbihah, yaitu orang-orang yang menetapkan nama dan sifat-sifat bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapi menyerupakan dengan nama dan sifat-sifat para makhluk. Mereka menyerupakannya karena berkeyakinan bahwa hal itu merupakan kandungan makna yang terdapat di dalam nash-nash Al-Qur`an dan As-Sunnah. Tentunya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengajak manusia berbicara dengan sesuatu yang mereka pahami. Kita meyakini bahwa keyakinan mereka ini adalah batil. Bisa dibuktikan kebatilan keyakinan mereka dari beberapa sisi, di antaranya:

a. Menyerupakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan makhluk-Nya adalah kebatilan yang ditolak oleh naluri logika dan syariat. Sebab, kandungan-kandungan makna yang terdapat di dalam nash-nash Al-Qur`an dan As-Sunnah tidak mungkin merupakan perkara yang batil.

b. Bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengajak manusia berbicara dengan sesuatu yang mereka pahami dari sisi asal makna kata atau kalimat. Adapun bentuk dan hakikat yang berkaitan dengan nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah mereka ketahui, dan ilmunya hanya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagai contoh, ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan sifat ‘mendengar’ dan ‘melihat’ bagi Dzat-Nya, niscaya kita bisa memahami maksud kata ‘mendengar’ dan ‘melihat’ dari sisi asal makna kata. ‘Mendengar’ artinya mampu menangkap segala suara dan ‘melihat’ artinya mampu menangkap apa saja yang bisa dilihat. Namun tak seorang pun di antara manusia yang dapat mengetahui hakikat pendengaran dan penglihatan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, hakikat sifat mendengar dan melihat yang ada di kalangan manusia berbeda dengan hakikat sifat mendengar dan melihat yang dimiliki oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Wallahu a’lam bish-shawab.

Al-Ilhad dalam Masalah Nama dan Sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala
Al-Ilhad secara bahasa maknanya miring atau menyimpang dari sesuatu. Disebut liang lahad dalam kuburan dengan nama itu karena lubangnya berada di bagian samping dari kuburan dan bukan di tengahnya. Adapun menurut istilah syariat, maknanya adalah menyimpang dari syariat yang lurus kepada salah satu bentuk kekafiran.
Al-Ilhad dalam perkara nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala artinya menyimpang dari kebenaran yang wajib untuk ditetapkan pada nama dan sifat-sifat-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلِلّّهِ اْلأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوْهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِيْنَ يُلْحِدُوْنَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُوْنَ

“Hanya milik Allah nama-nama yang baik, maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama yang baik itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam perkara nama-nama-Nya. Niscaya mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (Al-A’raf: 180)

Al-Ilhad dalam perkara nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala terbagi kepada lima jenis, sebagai berikut:

1. Menetapkan bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala sebuah nama atau lebih, yang tidak ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi Dzat-Nya. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh para ahli filsafat ketika mereka menamakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebutan, (عِلَّةٌ فَاعِلَةٌ) yang artinya unsur pembuat. Demikian pula yang dilakukan oleh kaum Nasrani ketika mereka menamakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebutan tuhan bapak dan menamakan Nabi ‘Isa dengan sebutan tuhan anak. Semua ini adalah penyimpangan dalam perkara nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sepantasnya juga kaum muslimin menghindari memanggil nama Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebutan ‘Gusti’ atau ‘Pangeran’, seperti ucapan: “Wahai Gusti ampunilah aku,” atau “Wahai Pangeran tolonglah aku.” Hal ini sebaiknya dihindari, karena dikhawatirkan termasuk dalam bentuk penamaan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sesuatu yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menamai diri-Nya dengannya, dan tidak pula dinamai oleh Rasul-Nya. Karena nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah perkara tauqifiyyah, yakni tidak bisa ditetapkan kecuali dengan pemberitaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Bila kita menamakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sesuatu yang tidak Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan bagi Dzat-Nya, berarti kita telah menyimpang dalam perkara nama-Nya. Ini merupakan perbuatan Al-Ilhad.

2. Mengingkari satu nama atau lebih, yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi Dzat-Nya. Perbuatan ini adalah kebalikan dari yang pertama. Maka pengingkaran terhadap nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala baik secara keseluruhan atau sebagian merupakan perbuatan Al-Ilhad. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian manusia yang menolak nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti kelompok Al-Jahmiyyah. Mereka mengingkari dan menolak nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan alasan agar tidak menyerupakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan benda-benda yang ada di alam ini. Pendapat mereka ini jelas merupakan kebatilan murni dan tidak bisa diterima. Bila Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan sebuah nama bagi Dzat-Nya maka kita harus menetapkannya pula dan tak ada alasan untuk menolaknya. Jika kita mengingkari atau menolaknya berarti kita telah menyimpang dalam perkara nama-Nya. Ini merupakan perbuatan Al-Ilhad.

3. Menetapkan nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapi mengingkari sifat-sifat-Nya. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Al-Mu’tazilah. Sebagai contoh, mereka menetapkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Dzat Yang Maha Mendengar namun tanpa pendengaran, Maha Melihat namun tanpa penglihatan, Maha Mengetahui namun tanpa ilmu, Maha Kuasa namun tanpa kekuasaan, dan seterusnya. Sebagian mereka mengatakan bahwa nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang banyak itu pada hakikatnya hanyalah satu nama saja, tidak lebih. Pendapat-pendapat mereka ini sangat tidak logis bagi siapa saja yang memiliki akal pikiran. Terlebih lagi jika diukur dengan penilaian Al-Qur`an dan As-Sunnah. Tidaklah ditetapkan sebuah nama pada sesuatu melainkan karena dia memiliki sifat yang sesuai dengan namanya. Dan setiap nama pasti menunjukkan kepada suatu sifat yang sesuai dengannya. Maka bagaimana mungkin dinyatakan bahwa nama-nama yang banyak pada hakikatnya hanya menunjukkan pada satu nama? Ini jelas penyimpangan dalam perkara nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

4. Menetapkan nama dan sifat-sifat bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapi juga menyerupakannya dengan nama dan sifat-sifat para makhluk. Hal ini sebagaimana dilakukan kelompok Al-Musyabbihah. Seharusnya kita menetapkan nama dan sifat-sifat bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa menyerupakannya dengan nama dan sifat-sifat para makhluk. Jika tidak, berarti kita telah melakukan penyimpangan dalam perkara nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini merupakan perbuatan Al-Ilhad.

5. Mengambil pecahan kata dari nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala lalu menjadikannya sebagai nama untuk sesembahan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh kaum musyrikin di masa jahiliah. Mereka menamakan sebagian berhala mereka dengan pecahan kata yang diambil dari nama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seperti, Al-Laatta yang diambil dari nama Allah Subhanahu wa Ta’ala Al-Ilah, Al-‘Uzza yang diambil dari nama Allah Al-‘Aziz, Al-Manaat yang diambil dari nama Allah Al-Mannan. Ini adalah penyimpangan dalam menggunakan nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seharusnya nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadi perkara yang khusus bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak mengambil pecahan-pecahan katanya sebagai nama untuk sesembahan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini merupakan perbuatan Al-Ilhad.

Demikianlah jenis-jenis penyimpangan dalam perkara nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ahlus Sunnah tidak berbuat Al-Ilhad (penyimpangan), bahkan mereka menyikapi nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala sesuai dengan yang diinginkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri. Mereka menetapkan pula seluruh makna yang telah ditunjukkan oleh nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala itu, karena mereka meyakini bahwa menyelisihi prinsip ini merupakan perbuatan Al-Ilhad dalam perkara nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Wallahu a’lam bish-shawab.

Buah Keimanan kepada Nama dan Sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala
Beriman kepada nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala bukan suatu perkara yang sia-sia tanpa manfaat. Bahkan hal itu mengandung berbagai manfaat yang sangat positif terhadap tauhid dan ibadah seorang hamba. Lebih dari itu, beriman kepada nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah wujud dari tauhid dan ibadah hamba itu sendiri. Dalam tulisan ini kita akan menyebutkan sebagian manfaat tersebut, antara lain:

1. Merealisasikan tauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga seorang hamba tidak menggantungkan harapan, rasa takut, dan ibadahnya kepada yang selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

2. Menyempurnakan rasa cinta dan pengagungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sesuai dengan kandungan nama-nama-Nya yang baik dan sifat-sifat Nya yang tinggi.
3. Merealisasikan peribadahan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Demikianlah yang bisa kita tuliskan di sini, semoga bermanfaat bagi segenap kaum muslimin. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Walaupun ada yang mengatakan bahwa hal ini dibolehkan bila ditinjau dari sisi penerjemahan, namun dalam praktiknya lebih mengarah kepada penamaan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sesuatu yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menamakan diri-Nya dengannya, tidak pula oleh Rasul-Nya. Sehingga, sebaiknya memanggil nama Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan nama-nama-Nya, seperti; “Ya Rabbi,” atau “Ya Allah.”

Wednesday, March 17, 2010

~BALASAN MEMUSUHI WALI-WALI ALLAH DAN SEUTAMA-UTAMA AMAL UNTUK MENDEKAT KAN DIRI KEPADA ALLAH TA'ALA~

Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah saw. bersabda : "Sesungguhnya Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman: "Barangsiapa yang memusuhi waliKu, maka Aku telah mengumumkan perang kepadanya. HambaKu tidak mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatu yang paling Aku sukai dari pada sesuatu yang Aku fardhukan atasnya. HambaKu senantiasa mendekatkan diri kepadaKu dengan sunnat-sunnat sampai Aku mencintainya. Apabila Aku mencintainya maka Aku menjadi pandangan yang untuk mendengarnya, penglihatan yang untuk melihatnya, tangan yang untuk menamparnya dan kaki yang untuk berjalan olehnya. Jika ia memohon kepadaKu, niscaya Aku benar­benat memberinya. Jika ia memohon kepadaKu, niscaya Aku benar-benar melindunginya. Dan Aku tidak bimbang terhadap sesuatu yang Aku iakukan seperti kebimbanganKu terhadap jiwa hambaKu yang beriman yang mana ia tidak senang mati sedang Aku tidak senang berbuat buruk terhadapnya". (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).

~Mengenal ALLAH~

Tak kenal maka tak sayang, demikian bunyi pepatah. Banyak orang mengaku mengenal Allah, tapi mereka tidak cinta kepada Allah. Buktinya, mereka banyak melanggar perintah dan larangan Allah. Sebabnya, ternyata mereka tidak mengenal Allah dengan sebenarnya.

Sekilas, membahas persoalan bagaimana mengenal Allah bukan sesuatu yang asing. Bahkan mungkin ada yang mengatakan untuk apa hal yang demikian itu dibahas? Bukankah kita semua telah mengetahui dan mengenal pencipta kita? Bukankah kita telah mengakui itu semua?

Kalau mengenal Allah sebatas di masjid, di majelis dzikir, atau di majelis ilmu atau mengenal-Nya ketika tersandung batu, ketika mendengar kematian, atau ketika mendapatkan musibah dan mendapatkan kesenangan, barangkali akan terlontar pertanyaan demikian.

Yang dimaksud dalam pembahasan ini yaitu mengenal Allah yang akan membuahkan rasa takut kepada-Nya, tawakal, berharap, menggantungkan diri, dan ketundukan hanya kepada-Nya. Sehingga kita bisa mewujudkan segala bentuk ketaatan dan menjauhi segala apa yang dilarang oleh-Nya. Yang akan menenteramkan hati ketika orang-orang mengalami gundah-gulana dalam hidup, mendapatkan rasa aman ketika orang-orang dirundung rasa takut dan akan berani menghadapi segala macam problema hidup.

Faktanya, banyak yang mengaku mengenal Allah tetapi mereka selalu bermaksiat kepada-Nya siang dan malam. Lalu apa manfaat kita mengenal Allah kalau keadaannya demikian? Dan apa artinya kita mengenal Allah sementara kita melanggar perintah dan larangan-Nya?

Maka dari itu mari kita menyimak pembahasan tentang masalah ini, agar kita mengerti hakikat mengenal Allah dan bisa memetik buahnya dalam wujud amal.

Mengenal Allah ada empat cara yaitu mengenal wujud Allah, mengenal Rububiyah Allah, mengenal Uluhiyah Allah, dan mengenal Nama-nama dan Sifat-sifat Allah.

Keempat cara ini telah disebutkan Allah di dalam Al Qur’an dan di dalam As Sunnah baik global maupun terperinci.

Ibnul Qoyyim dalam kitab Al Fawaid hal 29, mengatakan: “Allah mengajak hamba-Nya untuk mengenal diri-Nya di dalam Al Qur’an dengan dua cara yaitu pertama, melihat segala perbuatan Allah dan yang kedua, melihat dan merenungi serta menggali tanda-tanda kebesaran Allah seperti dalam firman-Nya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian siang dan malam terdapat (tanda-tanda kebesaran Allah) bagi orang-orang yang memiliki akal.” (QS. Ali Imran: 190)

Juga dalam firman-Nya yang lain: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang, serta bahtera yang berjalan di lautan yang bermanfaat bagi manusia.” (QS. Al Baqarah: 164)

Mengenal Wujud Allah.

Yaitu beriman bahwa Allah itu ada. Dan adanya Allah telah diakui oleh fitrah, akal, panca indera manusia, dan ditetapkan pula oleh syari’at.

Ketika seseorang melihat makhluk ciptaan Allah yang berbeda-beda bentuk, warna, jenis dan sebagainya, akal akan menyimpulkan adanya semuanya itu tentu ada yang mengadakannya dan tidak mungkin ada dengan sendirinya. Dan panca indera kita mengakui adanya Allah di mana kita melihat ada orang yang berdoa, menyeru Allah dan meminta sesuatu, lalu Allah mengabulkannya. Adapun tentang pengakuan fitrah telah disebutkan oleh Allah di dalam Al Qur’an: “Dan ingatlah ketika Tuhanmu menurunkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman ): ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu’ Mereka menjawab: ‘(Betul Engkau Tuhan kami) kami mempersaksikannya (Kami lakukan yang demikian itu) agar kalian pada hari kiamat tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami bani Adam adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan-Mu) atau agar kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu sedangkan kami ini adalah anak-anak keturunan yang datang setelah mereka.’.” (QS. Al A’raf: 172-173)

Ayat ini merupakan dalil yang sangat jelas bahwa fitrah seseorang mengakui adanya Allah dan juga menunjukkan, bahwa manusia dengan fitrahnya mengenal Rabbnya. Adapun bukti syari’at, kita menyakini bahwa syari’at Allah yang dibawa para Rasul yang mengandung maslahat bagi seluruh makhluk, menunjukkan bahwa syari’at itu datang dari sisi Dzat yang Maha Bijaksana. (Lihat Syarah Aqidah Al Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin hal 41-45)

Mengenal Rububiyah Allah
Rububiyah Allah adalah mengesakan Allah dalam tiga perkara yaitu penciptaan-Nya, kekuasaan-Nya, dan pengaturan-Nya. (Lihat Syarah Aqidah Al Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin hal 14)

Maknanya, menyakini bahwa Allah adalah Dzat yang menciptakan, menghidupkan, mematikan, memberi rizki, mendatangkan segala mamfaat dan menolak segala mudharat. Dzat yang mengawasi, mengatur, penguasa, pemilik hukum dan selainnya dari segala sesuatu yang menunjukkan kekuasaan tunggal bagi Allah.

Dari sini, seorang mukmin harus meyakini bahwa tidak ada seorangpun yang menandingi Allah dalam hal ini. Allah mengatakan: “’Katakanlah!’ Dialah Allah yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya sgala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan-Nya.” (QS. Al Ikhlash: 1-4)

Maka ketika seseorang meyakini bahwa selain Allah ada yang memiliki kemampuan untuk melakukan seperti di atas, berarti orang tersebut telah mendzalimi Allah dan menyekutukan-Nya dengan selain-Nya.

Dalam masalah rububiyah Allah sebagian orang kafir jahiliyah tidak mengingkarinya sedikitpun dan mereka meyakini bahwa yang mampu melakukan demikian hanyalah Allah semata. Mereka tidak menyakini bahwa apa yang selama ini mereka sembah dan agungkan mampu melakukan hal yang demikian itu. Lalu apa tujuan mereka menyembah Tuhan yang banyak itu? Apakah mereka tidak mengetahui jikalau ‘tuhan-tuhan’ mereka itu tidak bisa berbuat apa-apa? Dan apa yang mereka inginkan dari sesembahan itu?

Allah telah menceritakan di dalam Al Qur’an bahwa mereka memiliki dua tujuan. Pertama, mendekatkan diri mereka kepada Allah dengan sedekat-dekatnya sebagaimana firman Allah:

“Dan orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai penolong (mereka mengatakan): ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami di sisi Allah dengan sedekat-dekatnya’.” (Az Zumar: 3 )

Kedua, agar mereka memberikan syafa’at (pembelaan ) di sisi Allah. Allah berfirman:

“Dan mereka menyembah selain Allah dari apa-apa yang tidak bisa memberikan mudharat dan manfaat bagi mereka dan mereka berkata: ‘Mereka (sesembahan itu) adalah yang memberi syafa’at kami di sisi Allah’.” (QS. Yunus: 18, Lihat kitab Kasyfusy Syubuhat karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab)

Keyakinan sebagian orang kafir terhadap tauhid rububiyah Allah telah dijelaskan Allah dalam beberapa firman-Nya:
“Kalau kamu bertanya kepada mereka siapakah yang menciptakan mereka? Mereka akan menjawab Allah.” (QS. Az Zukhruf: 87)
“Dan kalau kamu bertanya kepada mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan yang menundukkan matahari dan bulan? Mereka akan mengatakan Allah.” (QS. Al Ankabut: 61)
“Dan kalau kamu bertanya kepada mereka siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan bumi setelah matinya? Mereka akan menjawab Allah.” (QS. Al Ankabut: 63)

Demikianlah Allah menjelaskan tentang keyakinan mereka terhadap tauhid Rububiyah Allah. Keyakinan mereka yang demikian itu tidak menyebabkan mereka masuk ke dalam Islam dan menyebabkan halalnya darah dan harta mereka sehingga Rasulullah mengumumkan peperangan melawan mereka.

Makanya, jika kita melihat kenyataan yang terjadi di tengah-tengah kaum muslimin, kita sadari betapa besar kerusakan akidah yang melanda saudara-saudara kita. Banyak yang masih menyakini bahwa selain Allah, ada yang mampu menolak mudharat dan mendatangkan mamfa’at, meluluskan dalam ujian, memberikan keberhasilan dalam usaha, dan menyembuhkan penyakit. Sehingga, mereka harus berbondong-bondong meminta-minta di kuburan orang-orang shalih, atau kuburan para wali, atau di tempat-tempat keramat.

Mereka harus pula mendatangi para dukun, tukang ramal, dan tukang tenung atau dengan istilah sekarang paranormal. Semua perbuatan dan keyakinan ini, merupakan keyakinan yang rusak dan bentuk kesyirikan kepada Allah.

Ringkasnya, tidak ada yang bisa memberi rizki, menyembuhkan segala macam penyakit, menolak segala macam marabahaya, memberikan segala macam manfaat, membahagiakan, menyengsarakan, menjadikan seseorang miskin dan kaya, yang menghidupkan, yang mematikan, yang meluluskan seseorang dari segala macam ujian, yang menaikkan dan menurunkan pangkat dan jabatan seseorang, kecuali Allah. Semuanya ini menuntut kita agar hanya meminta kepada Allah semata dan tidak kepada selain-Nya.

Mengenal Uluhiyah Allah
Uluhiyah Allah adalah mengesakan segala bentuk peribadatan bagi Allah, seperti berdo’a, meminta, tawakal, takut, berharap, menyembelih, bernadzar, cinta, dan selainnya dari jenis-jenis ibadah yang telah diajarkan Allah dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Memperuntukkan satu jenis ibadah kepada selain Allah termasuk perbuatan dzalim yang besar di sisi-Nya yang sering diistilahkan dengan syirik kepada Allah.
Allah berfirman di dalam Al Qur’an:
“Hanya kepada-Mu ya Allah kami menyembah dan hanya kepada-Mu ya Allah kami meminta.” (QS. Al Fatihah: 5)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah membimbing Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu dengan sabda beliau:
“Dan apabila kamu minta maka mintalah kepada Allah dan apabila kamu minta tolong maka minta tolonglah kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)

Allah berfirman:
“Dan sembahlah Allah dan jangan kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun” (QS. An Nisa: 36)

Allah berfirman:
“Hai sekalian manusia sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, agar kalian menjadi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al Baqarah: 21)

Dengan ayat-ayat dan hadits di atas, Allah dan Rasul-Nya telah jelas mengingatkan tentang tidak bolehnya seseorang untuk memberikan peribadatan sedikitpun kepada selain Allah karena semuanya itu hanyalah milik Allah semata.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Allah berfirman kepada ahli neraka yang paling ringan adzabnya. ‘Kalau seandainya kamu memiliki dunia dan apa yang ada di dalamnya dan sepertinya lagi, apakah kamu akan menebus dirimu? Dia menjawab ya. Allah berfirman: ‘Sungguh Aku telah menginginkan darimu lebih rendah dari ini dan ketika kamu berada di tulang rusuknya Adam tetapi kamu enggan kecuali terus menyekutukan-Ku.” ( HR. Muslim dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu )

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Allah berfirman dalam hadits qudsi: “Saya tidak butuh kepada sekutu-sekutu, maka barang siapa yang melakukan satu amalan dan dia menyekutukan Aku dengan selain-Ku maka Aku akan membiarkannya dan sekutunya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu )

Contoh konkrit penyimpangan uluhiyah Allah di antaranya ketika seseorang mengalami musibah di mana ia berharap bisa terlepas dari musibah tersebut. Lalu orang tersebut datang ke makam seorang wali, atau kepada seorang dukun, atau ke tempat keramat atau ke tempat lainnya. Ia meminta di tempat itu agar penghuni tempat tersebut atau sang dukun, bisa melepaskannya dari musibah yang menimpanya. Ia begitu berharap dan takut jika tidak terpenuhi keinginannya. Ia pun mempersembahkan sesembelihan bahkan bernadzar, berjanji akan beri’tikaf di tempat tersebut jika terlepas dari musibah seperti keluar dari lilitan hutang.

Ibnul Qoyyim mengatakan: “Kesyirikan adalah penghancur tauhid rububiyah dan pelecehan terhadap tauhid uluhiyyah, dan berburuk sangka terhadap Allah.”

Mengenal Nama-nama dan Sifat-sifat Allah

Maksudnya, kita beriman bahwa Allah memiliki nama-nama yang Dia telah menamakan diri-Nya dan yang telah dinamakan oleh Rasul-Nya. Dan beriman bahwa Allah memiliki sifat-sifat yang tinggi yang telah Dia sifati diri-Nya dan yang telah disifati oleh Rasul-Nya. Allah memiliki nama-nama yang mulia dan sifat yang tinggi berdasarkan firman Allah:

“Dan Allah memiliki nama-nama yang baik.” (Qs. Al A’raf: 186)

“Dan Allah memiliki permisalan yang tinggi.” (QS. An Nahl: 60)

Dalam hal ini, kita harus beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah sesuai dengan apa yang dimaukan Allah dan Rasul-Nya dan tidak menyelewengkannya sedikitpun. Imam Syafi’i meletakkan kaidah dasar ketika berbicara tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah sebagai berikut: “Aku beriman kepada Allah dan apa-apa yang datang dari Allah dan sesuai dengan apa yang dimaukan oleh Allah. Aku beriman kepada Rasulullah dan apa-apa yang datang dari Rasulullah sesuai dengan apa yang dimaukan oleh Rasulullah” (Lihat Kitab Syarah Lum’atul I’tiqad Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin hal 36)

Ketika berbicara tentang sifat-sifat dan nama-nama Allah yang menyimpang dari yang dimaukan oleh Allah dan Rasul-Nya, maka kita telah berbicara tentang Allah tampa dasar ilmu. Tentu yang demikian itu diharamkan dan dibenci dalam agama. Allah berfirman:
“Katakanlah: ‘Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tampa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah (keterangan) untuk itu dan (mengharamkan) kalian berbicara tentang Allah tampa dasar ilmu.” (QS. Al A’raf: 33)

“Dan janganlah kamu mengatakan apa yang kamu tidak memiliki ilmu padanya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya akan diminta pertanggungan jawaban.” (QS. Al Isra: 36)

Wallahu ‘alam

~Mengenal Bid'ah~

Al Allamah Asy Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa`di rahimahullah memaparkan tentang bid`ah : "Bid`ah adalah perkara yang diada-adakan dalam agama. Sesungguhnya agama itu adalah apa yang datangnya dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sebagaimana termaktub dalam Al Qur'an dan As Sunnah. Dengan demikian apa yang ditunjukkan oleh Al Qur'an dan As Sunnah itulah agama dan apa yang menyelisihi Al Qur'an dan As Sunnah berarti perkara itu adalah bid`ah. Ini merupakan defenisi yang mencakup dalam penjabaran arti bid`ah. Sementara bid`ah itu dari sisi keadaannya terbagi dua :

Pertama : Bid`ah I'tiqad (bid`ah yang bersangkutan dengan keyakinan)
Bid`ah ini juga diistilahkan bid`ah qauliyah (bid`ah dalam hal pendapat) dan yang menjadi patokannya adalah sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang diriwayatkan dalam kitab sunan :
"Umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya berada dalam neraka kecuali satu golongan".
Para shahabat bertanya : "Siapa golongan yang satu itu wahai Rasulullah ?.
Beliau menjawab : "Mereka yang berpegang dengan apa yang aku berada di atasnya pada hari ini dan juga para shahabatku".

Yang selamat dari perbuatan bid`ah ini hanyalah ahlus sunnah wal jama`ah yang mereka itu berpegang dengan ajaran Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan apa yang dipegangi oleh para shahabat radliallahu anhum dalam perkara ushul (pokok) secara keseluruhannya, pokok-pokok tauhid , masalah kerasulan (kenabian), takdir, masalah-masalah iman dan selainnya.

Sementara yang selain mereka dari kelompok sempalan (yang menyempal/keluar dari jalan yang benar) seperti Khawarij, Mu`tazilah, Jahmiyah, Qadariyah, Rafidhah, Murji`ah dan pecahan dari kelompok-kelompok ini , semuanya merupakan ahlul bid`ah dalam perkara i`tiqad. Dan hukum yang dijatuhkan kepada mereka berbeda-beda, sesuai dengan jauh dekatnya mereka dari pokok-pokok agama, sesuai dengan keyakinan atau penafsiran mereka, dan sesuai dengan selamat tidaknya ahlus sunnah dari kejelekan pendapat dan perbuatan mereka. Dan perincian dalam permasalahan ini sangatlah panjang untuk dibawakan di sini.

Kedua : Bid`ah Amaliyah (bid`ah yang bersangkutan dengan amalan ibadah)
Bid`ah amaliyah adalah penetapan satu ibadah dalam agama ini padahal ibadah tersebut tidak disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Dan perlu diketahui bahwasanya setiap ibadah yang tidak diperintahkan oleh Penetap syariat (yakni Allah ta`ala) baik perintah itu wajib ataupun mustahab (sunnah) maka itu adalah bid`ah amaliyah dan masuk dalam sabda nabi shallallahu alaihi wasallam :
"Siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak di atas perintah kami maka amalannya itu tertolak".
Karena itulah termasuk kaidah yang dipegangi oleh para imam termasuk Imam Ahmad rahimahullah dan selain beliau menyatakan :
"Ibadah itu pada asalnya terlarang (tidak boleh dikerjakan)"

Yakni tidak boleh menetapkan/mensyariatkan satu ibadah kecuali apa yang disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Dan mereka menyatakan pula :
"Muamalah dan adat (kebiasaan) itu pada asalnya dibolehkan (tidak dilarang)"

Oleh karena itu tidak boleh mengharamkan sesuatu dari muamalah dan adat tersebut kecuali apa yang Allah ta`ala dan rasul-Nya haramkan. Sehingga termasuk dari kebodohan bila mengklaim sebagian adat yang bukan ibadah sebagai bid`ah yang tidak boleh dikerjakan, padahal perkaranya sebaliknya (yakni adat bisa dilakukan) maka yang menghukumi adat itu dengan larangan dan pengharaman dia adalah ahlu bid`ah (mubtadi). Dengan demikian, tidak boleh mengharamkan satu adat kecuali apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Dan adat itu sendiri terbagi tiga :
Pertama : yang membantu mewujudkan perkara kebaikan dan ketaatan maka adat seperti ini termasuk amalan qurbah (yang mendekatkan diri kepada Allah).
Kedua : yang membantu/mengantarkan kepada perbuatan dosa dan permusuhan maka adat seperti ini termasuk perkara yang diharamkan.
Ketiga : adat yang tidak masuk dalam bagian pertama dan kedua (yakni tidak masuk dalam amalan qurbah dan tidak pula masuk dalam perkara yang diharamkan) maka adat seperti ini mubah (boleh dikerjakan). Wallahu a`lam.*****
(Al Fatawa As Sa`diyah, hal. 63-64 sebagaimana dinukil dalam Fatawa Al Mar'ah Al Muslimah)

Thursday, March 11, 2010

~TIGA ORANG YANG DICINTAI OLEH ALLAH AZZA WA JALLA_

Dari Abu Dzar ra. dari Nabi saw, beliau bersabda : Tiga orang yang dicintai oleh Allah Maha Muliia dan Maha Besar, yaitu : Seseorang yang mendatangi suatu kaum, ia minta kepada mereka dengan nama Allah, dan ia tidak minta karena kekerabatan antara dia dan mereka, namun mereka mencegahnya, lalu ada seseorang yang mengiringinya; dia memberinya secara rahasia, yang hanya diketahui oleh Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Besar dan orang yang diberinya. Dan suatu kaum vang berjalan di malam hari sehingga ketika ia lebih senang tidur dari pada apa yang sedang mereka jalankan, mereka singgah dan meletakkan kepala mereka, lalu di antara mereka ada seorang yang bangun untuk merendahkan diri kepada-Ku dan membaca ayat-ayatKu. Dan seseorang yang berada di daslam pasukan, mereka bertemu musuh lalu mereka berbalik ke belakang namun ia maju lagi sehingga ia terbunuh atau mendapat kemenangan". (Hadits ditakhrij oleh An Nasa'i).

~Bersiwak Dan Bersugi Sebelum Solat

Assalamualaikum,

Hadis Abu Hurairah r.a:
Diriwayatkan daripada Nabi s.a.w, baginda bersabda: "Sekiranya arahan aku tidak akan menyusahkan orang mukmin pada Hadis Zuhair ke atas umatku nescaya aku akan memerintahkan mereka bersugi iaitu mencuci gigi setiap kali hendak mendirikan sembahyang." (Riwayat Muslim)

Memberus dan membersihkan gigi sebelum bersembahyang adalah amalan yang mendapat keredhaan Allah SWT seperti yang disebut di hadith yang berikut:-

Dari Abdullah bin Abbas r.a. bahawa Rasullullah s.a.w. bersabda: "Hendaklah kamu bersiwak untuk membersihkan mulut dan memperoleh keredhaan Tuhan". (al-Bukhari dan al-Baihaqi)

Pernah tidak saudara-saudari apabila solat berjemaah di waktu Suboh atau pun Ishaq di masjid-masjid, sdra-sdri mengalami bau yang busuk yang datang dari mulut Muslimin-Muslimat yang berdiri di sebelah sdra-sdri semasa solat itu?

Apakah rasa sdra-sdri apabila terbau bauan yang tidak menyenangkan itu? Oleh yang demikian sekiranya kita tidak mau jiran disebelah kita terbau bauan yang busuk yang datang dari mulut kita, beruslah gigi kita sebelum ke masjid dan kalau boleh, berkomor dengan "Listerine" supaya mulut kita terasa segar.

Kekhusyukan jiran kita semasa bersolat akan terganggu sekiranya dia terbau sesuatu yang tidak menyenangkan yang datang dari mulut kita dan secara tidak langsung, kita tidak akan mendapat keredhaan Allah SWT dan pahala kita akan dikurangkan dengan sebab yang demikian.

Kita biasanya memberus gigi sebelum tidur atau selepas bangun dari tidur. Tetapi sekiranya kita menambah dengan memberus gigi tiap-tiap kali sebelum solat, maka mulut kita akan sentiasa bersih dari kuman-kuman yang boleh membawa berbagai jenis penyakit kepada badan kita.

Wallahu'alam

HUSNUZH ZHAN (BAIK SANGKA) KEPADA ALLAH TA'ALA

----------------------------------------------------------------------------------

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Nabi saw. bersabda : "Allah Ta'ala berfirman : "Aku menurut sangkaan hambaKu kepadaKu, dan Aku bersamanya apabila ia ingat kepadaKu. Jika ia ingat kepadaKu dalam dirinya maka Aku mengingatnya dalam diriKu. Jika ia ingat kepadaKu dalam kelompok orang-orang yang lebih baik dari kelompok mereka. Jika ia mendekat kepadaKu sejengkal maka Aku mendekat kepadanya sehasta. jika ia mendekat kepadaKu sehasta maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepadaKu dengan berjalan maka Aku datang kepadanya dengan berlari-lari kecil". (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah saw bersabda : "Sesungguhnya Allah berfirman : "Aku menurut dugaan hambaKu kepadaKu, dan Aku bersamanya apabila ia ingat kepadaKu. (Hadits ditakhrij oleh Turmidzi).


Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah saw. bersabda : Allah swt. berfirman : "Aku menurut sangkaan hambaKu kepadaKu, dan Aku bersamanya ketika ia mengingatKu. Jika ia mengingatKu dalam dirinya maka Aku mengingatnya dalam diriKu. Jika ia mengingatKu dalam kelompok orang-orang yang lebih baik dari padanya. Jika ia mendekat kepadaKu sejengkal maka Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepadaKu sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepadaKu dengan berjalan maka Aku datang kepadanya dengan berlari-lari kecil". (Hadits ditakhrij oleh At Turmidzi).


Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi saw, bersabda : "Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berfirman : "Aku bersama hambaKu apabila ia ingat kepadaKu dan kedua bibirnya bergerak (mengucapkan dzikir) kepadaKu". (Hadits ditakhrij oleh Ibnu Majah).


Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasuulullah saw. bersabda : "Allah swt. berfirman : "Aku menurut sangkaan hambaKu kepadaKu, dan Aku bersamanya ketika ia mengingatKu. Jika ia ingat kepadaKu dalam dirinya maka Aku ingat kepadanya dalam diriKu. Jika ia ingat kepadaKu dalam kelompok orang banyak maka Aku mengingatnya dalam kelompok yang lebih baik dari padanya. Jika ia mendekat kepadaKu sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia datang kepadaKu dengan berjalan maka Aku datang kepadanya dengan berlari-lari kecil''. (Hadits ditakhrij oleh Ibnu Majah).

----------------------------------------------------------------------------------