Monday, November 22, 2010

~ The power of love ~

“seseorang yang memiliki rasa cinta dan kasih sayang, maka dia akan rela berkorban apapun untuk yang dicintanya, karena kekuatan cinta sangat dahsyat yang mampu menerjang pagar-pagar kokoh yang menghadangnya”

Cinta dan kasih sayang adalah karunia indah yang diberikan allah kepada setiap makhluknya, berkat curahan cinta seseorang rela berkorban melakukan manfaat apapun untuk yang dicintainya meskipun itu sangat berat dan banyak onak dan duri. Seseorang yang benar-benar cinta pada tubuhnya maka ia akan rela meninggalkan rokoknya, seseorang yang cinta pada orang tuanya maka ia akan manfaatkan dengan baik uang yang diamanahkan padanya, cinta pada ilmu maka ia akan belajar dengan sungguh-sungguh. Begitulah the power of love yang seharusnya kita pahami dan ditanamkan pada diri kita, sehingga dapat dibayangkan betapa manisnya menapaki kehidupan dengan pengorbanan cinta. menuntut ilmu dengan cinta, membelanjakan uang dari orang tua dengan cinta, dan menjaga tubuh dari bahayanya asap nikotin karena cinta.

Cinta kepada allah-lah merupakan cinta tertinggi dari sekian banyak cabang cinta yang ada didunia ini. yang dapat menyingkirkan dan mengalahkan cinta-cinta yang lain. Kecintaan yang tiada lawan bandingnya.

Seorang sufi wanita dari Basrah yaitu Rabi'ah Al- Adawiyah pernah berkata ketika beliau berziarah ke makam Rasulullah Saw. : "Maafkan aku ya Rasul, bukan aku tidak mencintaimu, akan tetapi hatiku telah tertutup untuk cinta yang lain, karena telah penuh cintaku kepada Allah Swt".

Begitulah the power of love seorang Rabiah Al-Adawiyah kepada allah yang kekuatanya mampu mengalahkan cinta-cinta lain, kecintaaan yang paling tertinggi kepada sang maha pemilik cinta. akan tetapi bukan berarti tidak dibenarkan cinta pada yang lain. Karena cinta kepada rasul, cinta kepada istri, cinta kepada hewan, cinta kepada harta, cinta kepada teman-teman adalah merupakan suatu bentuk cinta kepada allah. Dan dia adalah tempat berpusatnya cinta. (Center of the love)

Sewaktu masih kecil Husain cucu Rasulullah Saw. bertaya kepada ayahnya, Sayidina Ali ra: "Apakah ayah mencintai Allah?" Ali ra menjawab, "Ya". Lalu Husain bertanya lagi: "Apakah ayah mencintai kakek dari Ibu?" Ali ra kembali menjawab, "Ya". Husain bertanya lagi: "Apakah ayah mencintai Ibuku?" Lagi-lagi Ali menjawab,"Ya". Husain kecil kembali bertanya: "Apakah ayah mencintaiku?" Ali menjawab, "Ya". Terakhir Si Husain yang masih polos itu bertanya, "Ayahku, bagaimana engkau menyatukan begitu banyak cinta di hatimu?" Kemudian Sayidina Ali menjelaskan: "Anakku, pertanyaanmu sungguh hebat! Cintaku pada kekek dari ibumu (Nabi Saw.), ibumu (Fatimah ra) dan kepada kamu sendiri adalah kerena cinta kepada Allah". Karena sesungguhnya semua cinta itu adalah cabang-cabang cinta kepada Allah Swt. Setelah mendengar jawaban dari ayahnya itu Husain jadi tersenyum mengerti.

Kecintaan seseorang kepada keluarga, harta, kedudukan adalah suatu yang lumrah, siapapun akan berkorban untuk menjaga keluarganya, hartanya, dan kedudukanya dikarenakan besarnya rasa cinta. akan tetapi waspadalah akan kecintaan terhadap mereka, jangan sampai menjauhkan atau bahkan sampai melupakan cintanya kepada allah sang pemilik cinta yang hakiki. Kecintaan yang harus lebih diunggulkan dari pada cinta yang lain, dan ini adalah merupakan tolak ukur mengenai keimanan seseorang. Nabi Saw pernah bersabda;

"Belum sempurna imam seseorang itu hingga ia Mencintai Allah dan Rasulnya melebihi cintanya dari pada yang lain".
Seseorang yang mencintai allah maka dia juga akan mencintai makhluk yang lain, karena cinta kepada allah tidak akan membuat seseorang merusak cintanya kepada yang lain justru malah sebaliknya akan sangat mencintainya karena allah. Akan tetapi cinta yang berlebihan kepada makhluk bisa jadi melupakan akan cinta kepada allah.

Jadi teringat sepenggal nasehat Aa Gym dalam ceramahnya, "hati-hati jika mencintai makhluk, jangan sampai karena hadirnya makhluk cintamu kepada Sang pencipta makhluk menjadi berkurang, karena suatu saat nanti makhluk yang kamu cintai itu bisa saja diambil dari sisi kamu"

Teman pembaca sekalian, jadi mari, dan silahkanlah bercinta dan mencintai, cinta yang segalanya hanya karena sang pemilik cinta. Cinta yang bernilai ibadah jika disandarkan karena cinta kepadanya. Dan dia adalah cinta yang lebih berharga dari pada dunia beserta isinya.

"Ya Allah karuniakanlah kepada kami kecintaan kepada-Mu, kecintaan kepada orang yang mencintai-Mu dan kecintaan apa saja yang mendekatkan diri kami pada kecintaan-Mu. Jadikanlah dzat-Mu lebih kami cintai dari pada air yang dingin bagi orang yang dahaga." Wallahu a’lam.

~ Antara Ridha dan Pasrah ~

Ridha berasal dari kata radhiya-yardha yang berarti menerima suatu perkara dengan lapang dada tanpa merasa kecewa ataupun tertekan. Sedangkan menurut istilah, ridha berkaitan dengan perkara keimanan yang terbagi menjadi dua macam. Yaitu, ridha Allah kepada hamba-Nya dan ridha hamba kepada Allah (Al-Mausu'ah Al-Islamiyyah Al-'Ammah: 698). Ini sebagaimana diisyaratkan Allah dalam firman-Nya, ''Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.'' (QS 98: 8).

Ridha Allah kepada hamba-Nya adalah berupa tambahan kenikmatan, pahala, dan ditinggikan derajat kemuliaannya. Sedangkan ridha seorang hamba kepada Allah mempunyai arti menerima dengan sepenuh hati aturan dan ketetapan Allah. Menerima aturan Allah ialah dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Adapun menerima ketetapannya adalah dengan cara bersyukur ketika mendapatkan nikmat dan bersabar ketika ditimpa musibah.

Dari definisi ridha tersebut terkandung isyarat bahwa ridha bukan berarti menerima begitu saja segala hal yang menimpa kita tanpa ada usaha sedikit pun untuk mengubahnya. Ridha tidak sama dengan pasrah. Ketika sesuatu yang tidak diinginkan datang menimpa, kita dituntut untuk ridha. Dalam artian kita meyakini bahwa apa yang telah menimpa kita itu adalah takdir yang telah Allah tetapkan, namun kita tetap dituntut untuk berusaha. Allah berfirman, ''Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.'' (QS 13: 11).

Hal ini berarti ridha menuntut adanya usaha aktif. Berbeda dengan sikap pasrah yang menerima kenyataan begitu saja tanpa ada usaha untuk mengubahnya. Walaupun di dalam ridha terdapat makna yang hampir sama dengan pasrah yaitu menerima dengan lapang dada suatu perkara, namun di sana dituntut adanya usaha untuk mencapai suatu target yang diinginkan atau mengubah kondisi yang ada sekiranya itu perkara yang pahit. Karena ridha terhadap aturan Allah seperti perintah mengeluarkan zakat, misalnya, bukan berarti hanya mengakui itu adalah aturan Allah melainkan disertai dengan usaha untuk menunaikannya.

Begitu juga ridha terhadap takdir Allah yang buruk seperti sakit adalah dengan berusaha mencari takdir Allah yang lain, yaitu berobat. Seperti yang dilakukan Khalifah Umar bin Khathab ketika ia lari mencari tempat berteduh dari hujan deras yang turun ketika itu. Ia ditanya, ''Mengapa engkau lari dari takdir Allah, wahai Umar?'' Umar menjawab, ''Saya lari dari takdir Allah yang satu ke takdir Allah yang lain.''

Dengan demikian, tampaklah perbedaan antara makna ridha dan pasrah, yang kebanyakan orang belum mengetahuinya. Dan itu bisa mengakibatkan salah persepsi maupun aplikasi terhadap makna ayat- ayat yang memerintahkan untuk bersikap ridha terhadap segala yang Allah tetapkan. Dengan kata lain pasrah akan melahirkan sikap fatalisme. Sedangkan ridha justru mengajak orang untuk optimistis. Wallahu a'lam.

Wednesday, November 17, 2010

~ Berprasangka Baik dan Lapang Dada Dalam Tiap Kejadian ~

Terbentangnya langit di angkasa, dengan awan sebagai hiasan, matahari sebagai penerang di siang hari, bukanlah sesuatu hal yang biasa dan tanpa makna. Bagi golongan orang-orang yang berakal (Ulil Albab) yang Alloh SWT sebutkan di dalam Al Qur’an, setiap kejadian penciptaan terdapat hikmah di dalamnya. Tak satupun kejadian yang sia-sia. Apakah kejadian penciptaan manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, serta segala yang ada di seluruh jagad raya ini merupakan tanda-tanda adanya Alloh SWT, zat yang maha memelihara segala sesuatu dengan segala kesempurnaan-Nya.

Manusia di dalam menjalani kehidupan, tentu akan berhadapan dengan berbagai permasalahan. Sungguh suatu pernyataan yang ganjal jika ada seseorang yang mengatakan bahwa ia tidak mempunyai permasalahan sama sekali. Namun, dalam hal cara menyikapi tentu terdapat banyak perbedaan. Bisa jadi, bagi sebagian orang suatu permasalahan yang menghadangnya termasuk dalam kategori ‘Berat’ , sementara bagi sebagian lainnya merupakan hal yang ‘ringan dan sederhana’ serta bisa diselesaikan dengan mudah.

Sungguh, Semua terpulang pada cara pandang bagaimana seseorang menilai dan melihat sebuah permasalahan. berprasangka baik terhadap setiap ketentuan yang singgah dalam cerita kehidupan kita serta menjadikannya hikmah yang secara tidak langsung mengajari kita, dapat semakin meringankan langkah hidup kita menjadi lebih bijaksana serta hati-hati.

Ada seorang sholeh yang berkata dalam kitabnya bahwa jika manusia menghadapi dunia dengan jiwa yang lapang, mereka akan banyak memperoleh kegembiraan yang semakin lama semakin bertambah dan semakin luas, duka yang makin mengecil dan menyempit. Selanjutnya menurut beliau, jika manusia mengatakan bahwa dunia terasa sempit baginya, sebenarnya jiwa merekalah yang sempit, bukan dunianya.

Semoga Alloh SWT memberikan kemampuan bagi kita menghadapi setiap ketentuan yang hadir dalam kehidupan kita, serta mampu berlapang dada serta berprasangka baik atasnya.

Tuesday, November 16, 2010

~ Zakat Harta dan Daging Kurban bagi Orang Kafir ~

Oleh: Komisi Tetap untuk Pembahasan Ilmiyah dan Fatwa

Soal:
Bolehkah memberikan zakat harta atau hewan kurban untuk tetangga kafir yang musyrik yang tidak memiliki hubungan kekerabatan?

Jawab:
Allah telah menjelaskan siapa saja yang berhak menerima zakat harta pada sebuah ayat di Surat At Taubah,

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَاِبْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (٦٠)

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (At Taubah: 60)

Demikian juga sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika beliau mengutus Mua’dz ke Yaman. Beliau mengabarkan bahwa Allah telah mewajibkan kaum muslimin untuk membayar shadaqah (zakat) yang diambil dari orang-orang kaya mereka lalu diserahkan kepada orang-orang fakir di antara mereka. Hadits ini disepakati keshahihannya[1]. Sehingga, zakat harta tidak boleh diserahkan kepada selain muslim kecuali bagi para muallaf[2].

Adapun daging kurban maka tidak mengapa diberikan kepada tetangga atau karib kerabat yang kafir, karena daging tersebut adalah salah bentuk shadaqah.

Wabillahit taufiq, semoga shalawat dan salam tercurah kepada nabi kita Muhammad, keluarga, dan para sahabat beliau.

Komite Tetap untuk Penelitian Ilmiyah dan Fatwa

Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz

Anggota:
- Abdurrazzaq Afifi
- Abdullah bin Ghudayan
- Abdullah bin Qu’ud

(Diterjemahkan dari: Fatwa Lajnah Daimah No. 3635)

Catatan Kaki:
(1) HR. Al Bukhari (6848) dan Muslim (1676)

(2) Syaikh Shalih Al Fauzan menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan muallafatul qulub (muallaf) itu ada dua golongan: Kafir dan muslim. Zakat harta diberikan kepada seorang yang kafir apabila diharapkan keislamannya, untuk menguatkan niatnya untuk masuk ke dalam Islam dan memperkokoh kecenderungannya, atau diharapkan pemberian zakat tersebut bisa menahan kejahatannya terhadap kaum muslimin. Adapun zakat harta diberikan kepada muallaf muslim untuk memperkuat keimanannya atau untuk menarik orang dekatnya pula ke dalam Islam. (Al Mulakhas Al Fiqhi, 1/362)

Monday, November 15, 2010

~ HUKUM BERKAITAN KORBAN ~

Definisi Dan Dalil Korban
Korban bermaksud menyembelih unta, lembu dan kambing dengan tujuan untuk mengabdikan diri kepada Allah (swt).
Dalil mengenai korban terdapat dalam ayat suci al-Quran iaitu;
“Maka dirikanlah solat kerana Rabbmu, dan sembelihlah korban.”
(Surah al-Kauthar: 2)

Hukum Korban
Para ulama berselisih pendapat mengenai hukum korban sama ada ianya wajib atau sunat.
Menurut pandangan jumhur (majoriti) ulama iaitu Maliki, Syafi’i dan Hambali bahawa menyembelih korban pada Hari Raya Aidil Adha adalah sunat muakkad (sunah yang sangat dituntut). Sementara itu, menurut Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Al-Auza’i, Laits dan Ibn Taymiyyah (rh) mengatakan hukum korban adalah wajib ke atas mereka yang berkemampuan. Di bawah ini adalah dalil yang dipegang oleh kedua kumpulan ini.

1. Di antara dalil yang dipegang oleh jumhur ulama yang mengatakan korban adalah sunat muakkad ialah hadis berikut:-

“Jika masuk sepuluh hari pertama Zulhijjah dan salah seorang dari kamu mahu berkorban, maka jangan mencukur sedikitpun dari rambut dan kukunya.” (HR Al-Jamaah kecuali Bukhari)
Dalam hadis ini dikaitkan dengan keinginan/kemahuan dan ia dianggap tidak wajib. Selain dari itu, terdapat riwayat bahawa Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar (ra) meninggalkan korban dengan sengaja pada sebahagian tahun dan ini menunjukkan ia tidak wajib.

2. Di antara dalil yang dipegang oleh mazhab Hanafi yang mengatakan korban adalah wajib adalah dari surah al-Kauthar ayat 2 di atas dan hadis berikut:-
Dari Abu Hurairah (ra), Rasulullah (saw) bersabda;
“Sesiapa yang mempunyai kemampuan, lalu ia tidak berkorban, maka jangan dia menghampiri tempat solat kami.” (HR Ahmad dan Ibn Maajah. Hadis ini mauquf yang dihukum marfu’)
Ulama Hanafi mengatakan perintah mengerjakan solat dan menyembelih korban dalam surah al-Kauthar adalah sama status wajibnya. Sementara itu, tegahan yang terdapat dalam hadis di atas menunjukkan korban adalah wajib.

Haiwan Untuk Korban & Pembahagiannya
Asal haiwan untuk korban hendaklah dari haiwan ternak iaitu unta, lembu dan kambing seperti yang telah sabit dari sumber hadis Rasulullah (saw) dan ayat suci al-Quran. Sebahagian ulama membolehkan berkorban dengan kuda belang, lembu hutan dan kijang. Selain dari haiwan ini tidak dibolehkan.
Pembahagian yang telah ditetapkan oleh syariah ialah kambing untuk satu orang dan unta atau lembu untuk tujuh (7) orang yakni tujuh bahagian.

Jenis Korban
Para ulama membahagikan korban kepada 2 jenis iaitu korban wajib dan korban sunat.

Korban Wajib
Terdapat tiga perkara menyebabkan korban menjadi wajib seperti berikut:-

1. Korban menjadi wajib disebabkan nazar dengan mengatakan “kerana ALLAH wajib ke atas diriku korban seekor kambing” atau “aku jadikan kambing ini sebagai korban” dan seumpamanya.

2. Korban juga menjadi wajib kepada sesorang yang tidak wajib korban seperti orang fakir dengan cara dia membeli haiwan untuk niat korban. Ini kerana setiap pembelian dengan niat korban dikira melakukan saluran menjadikannya sebagai wajib. Pada ‘uruf perbuatan ini dikira sebagai satu nazar untuk korban.

3. Korban menjadi wajib bagi orang kaya kerana ia berkemampuan. Ia bukannya disebabkan dua perkara yang di atas. Kewajipan ini disebabkan orang kaya dituntut melakukannya sebagai tanda kesyukuran atas segala nikmat ALLAH (swt) dan menghidupkan sunah Nabi Ibrahim (as).

Korban Sunat
Korban sunat ialah korban seorang yang musafir atau orang fakir yang tidak bernazar untuk berkorban atau tidak membeli haiwan dengan niat korban. Ia dikira sebagai sunat kerana tidak mempunyai sebab atau syarat menjadikannya wajib.

Jenis Dan Umur Haiwan Korban
Bagi haiwan unta hendaklah berumur 5 tahun, lembu berumur 2 tahun dan kambing berumur 6 bulan. Bagi unta dan lembu hanya perlu diambil satu daripada tujuh bahagian. Syarat sah korban hendaklah haiwan korban itu tidak mempunyai kecacatan dan sembelihan korban hendaklah dilaksanakan dalam waktu yang ditentukan.

Waktu Penyembelihan Korban
Waktu penyembelihan bermula dari selepas solat Hari Raya Adha (10 Zulhijjah) sehingga berakhirnya hari-hari Tasyrik (11, 12 dan 13 Zulhijjah) seperti yang diriwayatkan dalam Bukhari, Muslim dan Ahmad.

Hukum Daging Korban
Maksud dan tujuan korban terlaksana dengan mengalirkan darah haiwan tersebut. (Mughni al-Muhtaj).Jumhur fuqaha mengatakan bahawa korban yang dilakukan secara sukerala (sunat) harus dimakan, tetapi jika ia korban nazar atau wajib melalui pembelian, maka ia haram dimakan. Demikian juga haiwan yang dikongsi seramai tujuh orang dan seorang daripadanya berniat menqadhakan korbannya (korban wajib) yang telah lepas, maka haram dimakan.
Larangan memakan daging korban yang dinazarkan adalah kerana ia telah menjadi sedekah dan seseorang itu tidak boleh makan sedekahnya. Ini adalah secara umum, kerana terdapat perbezaan pandangan berkaitan korban yang dinazarkan. Berkaitan dengan nazar yang dibuat secara umum di mana seseorang itu bernazar untuk tidak memberikannya secara khusus kepada orang faqir miskin – sama ada secara lisan atau dengan niat – ia dibolehkan dimakan menurut mazhab Maliki dan sebahagian ulama Syafi’i. (Mawsu’ah al-Fiqhiyyah).

Disyariatkan bagi orang yang melakukan korban memakan dagingnya, menghadiahkan (kepada sesiapa yang dikehendaki walaupun orang kaya) dan menyedekahkan kepada fakir miskin. Ini berdasarkan firman Allah (swt) yang maksudnya:
“ ..Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.” (Al-Hajj:28)
“.. Maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta.” (Al-Hajj:36)
Para fuqaha (rh) berbeza pendapat mengenai jumlah yang harus dimakan, dihadiahkan dan disedekahkan. Perkara ini adalah luas, tetapi cara pembahagian yang terbaik adalah 1/3 dimakan sendiri, 1/3 dihadiahkan dan 1/3 disedeqahkan. Ini adalah pendapat Ibn Masud dan Ibn Umar (ra) yang disebut dalam al-Wazaif. Bahagian yang boleh dimakan boleh disimpan selama yang diinginkan selagi tidak rosak seperti hadis Rasulullah (saw) maksudnya;
“Makan dan simpanlah serta sedekahkanlah (daging korban itu).” (HR Muslim)
Kebenaran memakan dan mengagihkan daging korban tidak ada perbezaan di antara korban sunat atau wajib, yang dilakukan bagi pihak orang yang hidup atau meninggal dunia dan dalam melaksanakan wasiat.

Haram hukumnya menjual mana-mana anggota haiwan korban, sama ada dagingnya atau lain-lain bahagian termasuk kulit. Orang yang menyembelih korban tidak boleh mengambil mana-mana bahagian haiwan korban sebagai maksud upah di atas kerjanya kerana ia seumpama menjualnya. Terdapat hadis Nabi (saw) yang melarang hal ini. Jika hendak dibayar upahnya, hendaklah dari sumber dan cara yang lain. Dibolehkan jika seseorang itu memberikan kepada orang yang menyembelih dengan niat sebagai hadiah atau sedekah di atas kemiskinannya.

Sekian. Wallahu’alam.

~ BERPUASA SUNAT HARI ‘ARAFAH DAN KELEBIHANNYA ~

Pasa ketika ini, semua jemaah haji dari seluruh pelusuk dunia sedang bersiap sedia untuk melaksanakan ibadah haji di tanah suci Makkah al-Mukarramah. Marilah kita mendoakan kesejahteraan kepada mereka semoga mereka semua dapat menyempurnakan ibadah tersebut dan pulang dengan selamat dengan beroleh haji yang mabrur. Amin!
Pada hari kelapan (8) Zulhijjah ini, para jemaah haji dikehendaki berihram bermula dari Makkah atau di sekitarnya. Mereka seterusnya akan berangkat dan bermalam di Mina. Ketika matahari terbit pada hari ke 9 Zulhijjah, mereka dikehendaki berangkat ke ‘Arafah. Di sini, mereka disunatkan memperbanyakkan doa, zikir dan istighfar sehingga terbenam matahari. Para jemaah seterusnya akan melaksanakan kewajipan-kewajipan lain sehinggalah hari-hari Tasyrik berakhir.
Bagi yang tidak menunaikan haji, kita juga boleh meningkat amal ibadah dalam bulan Zulhijjah yang mulia ini dengan melakukan ibadah sunah seperti berpuasa sunah pada awal bulan ini dan berpuasa pada hari ‘Arafah.
Terdapat beberapa hadis mengenai kelebihan sepuluh hari pertama Zulhijjah. Oleh itu, sesiapa yang berpuasa dalam sembilan hari pada awal bulan ini (hari ke-10 adalah hari Raya) hukumnya adalah sunah. Sabda Rasulullah (saw) yang maksudnya;
يصوم تسع ذي الحخّه ويوم عا شوراء وثلاثه ايّام من كل شهر اوّل اثنين من الشّهروخميسين
“Rasulullah (saw) berpuasa sembilan hari dalam bulan Zulhijjah dan pada hari Asyura dan tiga hari bagi setiap bulan, Isnin pertama setiap bulan dan dua hari Khamis.” (Status hadis ini ada sedikit pertikaian dan ada yang mengatakan sahih – HR Ahmad dan Abu Daud)
PENENTUAN HARI ARAFAH
Timbul persoalan dalam menentukan bilakah hari ‘Arafah bagi negara-negara selain Makkah/Madinah. Penentuan bilakah hari ke-9 Zulhijjah adalah penting bagi membolehkan kita berpuasa sunah ‘Arafah dan bagi menentukan jatuhnya Hari Raya ‘Adha/Haji.
Terdapat perbezaan pendapat di kalangan ulama sama ada ianya berdasarkan timbulnya anak bulan di sesuatu negara itu atau berdasarkan timbulnya anak bulan di Makkah. Pandangan yang lebih kukuh adalah mengikut masa timbulnya anak bulan bagi negara yang didiaminya. Misalnya, jika negara Malaysia melihat anak bulan sehari selepas hari ‘Arafah di Makkah iaitu 9 haribulan di Makkah ialah 8 haribulan di Malaysia, maka, maka penduduk Malaysia akan berpuasa pada hari ke 9 (iaitu hari ke 10 bagi Makkah).
Pandangan ini sejajar dengan ayat al-Quran surah al-Baqarah ayat 185 bermaksud sesiapa yang tidak mengesan anak bulan, tidak dikehendaki memulakan puasa. Dalil al-Quran ini juga disokong oleh hadis Rasulullah (saw). Perlu disedari, ibadah puasa adalah di antara ibadah yang ditentukan mengikut peredaran bulan bukannya peredaran matahari. Bagi penduduk di negara sebelah Barat atau Timur Tengah mereka akan menerima kemunculan anak bulan lebih awal dari negara sebelah Timur sebab itulah dalam hal ini mereka lebih awal dari Malaysia.
Bagi mereka yang masih mempunyai kemusykilan dalam hal ini, sebahagian ulama menyarankan kita berpuasa pada dua hari iaitu pada 8 haribulan (9 haribulan di Makkah) dan pada 9 haribulan mengikut masa Malaysia.
KELEBIHAN PUASA SUNAH ARAFAH
Berdasarkan beberapa hadis yang sahih, berpuasa pada hari ‘Arafah mempunyai kelebihan yang besar seperti di bawah: -
صيام يوم عرفه احتسب على الله ان يكفّر السّنة التي قبله والسّنة التي بعده
وصيام يوم عا شوراء احتسب على الله ان يكفّرالتي قبله
Rasulullah (saw) bersabda yang maksudnya;
“Berpuasa pada hari ‘Arafah, aku berdoa agar ALLAH menghapuskan dosa bagi tahun sebelumnya dan tahun selepasnya dan berpuasa pada hari Asyura, aku berdoa agar ALLAH menghapuskan dosa tahun sebelumnya ” (HR Muslim)
Dari Qatadah bin An-Nu’man, beliau mendengar Rasulullah (saw) bersabda maksudnya;
من صام يوم عفرالله له سنتين, سنة امامه وسنة خلفه
“Sesiapa yang berpuasa pada hari ‘Arafah, nescaya ALLAH akan mengampuni dosa-dosanya selama dua tahun, setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya.” (Dinilai sahih – Ibn Maajah, Shahih Al-Jaami’ Ash-Shagiir”)
Kita wajar merebut peluang ini kerana sebagai insan tentunya kita banyak melakukan dosa sama ada yang kita sedari mahu pun tidak disedari.
LARANGAN BERPUASA BAGI JEMAAH HAJI DI ‘ARAFAH
نهى (رسول الله ص) عن صيام يوم عرفة بعرفة
“Rasulullah (saw) telah melarang berpuasa di hari ‘Arafah (bagi mereka yang berwukuf) di ‘Arafah ” (HR Abu Daud)

Thursday, November 11, 2010

~ Ketekunan Itu Mahal ~

Di sebuah negeri hiduplah dua orang pengrajin yang tinggal bersebelahan. Mereka adalah pengrajin emas dan pengrajin kuningan. Keduanya telah lama menjalani pekerjaan itu, sebab itu adalah pekerjaan yang diwariskan secara turun-temurun. Telah banyak pula barang yang dihasilkan: cincin, kalung, gelang, dan untaian rantai penghias.

Setiap akhir bulan, mereka membawa hasil kerja itu ke kota. Hari pasar, demikian mereka menyebut hari itu. Mereka akan menjual barang-barang logam itu dan membeli keperluan selama sebulan. Beruntunglah pekan depan akan ada rombongan tamu agung mengunjungi kota dan bermaksud memborong barang-barang yang ada disana. Kabar ini tentu membuat mereka senang. Tentu, berita ini mendorong para pedagang agar membuat lebih banyak barang untuk dijajakan. Tak terkecuali dua orang pengrajin yang menjadi tokoh kita ini.


Siang-malam terdengar suara logam ditempa. Tungku-tungku api seakan tak pernah padam. Kayu bakar yang membara seakan mewakili semangat keduanya. Percik-percik api yang timbul tak pernah dihiraukan mereka. Keduanya sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Sudah puluhan cincin, kalung, dan untaian rantai penghias telah dihasilkan. Hari pasar makin dekat. Dan, lusa adalah waktu yang tepat untuk berangkat ke kota.

Hari pasar telah tiba dan keduanya pun sampai di kota. Hamparan terpal telah digelar, tanda barang dagangan siap dijajakan. Keduanya pun berjejer berdampingan. Tampaklah barang-barang logam yang telah dihasilkan. Namun, ah sayang.., ada kontras diantara keduanya. Walaupun terbuat dari logam mulia, barang-barang yang dibuat oleh pengrajin emas tampak kusam. Warnanya tidak berkilau. Ulir-ulirnya kasar. Pokok-pokok simpul rantai tidak rapi. Seakan pembuatnya adalah orang yang tergesa-gesa.

”Ah, biar saja,” demikian ucapan yang terlontar saat pengrajin kuningan menanyakan kenapa perhiasan kawannya tampak kusam. ”Setiap orang akan memilih daganganku, sebab emas selalu lebih baik dari kuningan,” ujar pengrajin emas lagi. ”Apalah artinya logam buatanmu dibanding logam mulia yang kupunya. Aku akan membawa uang lebih banyak darimu”

Pengrajin kuningan hanya tersenyum. Ketekunannya mengasah logam membuat semua hasil karyanya lebih bersinar. Ulir-ulirnya halus. Lekuk-lekuk cincin dan gelang buatannya terlihat seperti lingkaran yang tak putus. Liku-liku rantai penghiasnya pun lebih sedap dipandang mata.

Ketekunan memang mahal. Hampir semua orang yang lewat tak menaruh perhatian pada pengrajin emas. Mereka lebih suka mendatangi cincin dan kalung kuningan. Begitupun tetamu agung yang berkenan datang. Mereka pun lebih menyukai benda-benda kuningan itu dibandingkan dengan logam mulia. Sebab, emas itu tidaklah cukup membuat mereka tertarik dan mau membelinya. Sekali lagi, terpampang kekontrasan di hari pasar itu. Perajin emas tertegun diam dan perajin kuningan tersenyum senang.

Hari pasar usai. Para tetamu telah kembali pulang. Kedua pengrajin itu pun telah membereskan barang dagangan. Dan, keduanya mendapat pelajaran dari apa yang telah mereka lakukan hari itu.

–

Teman, ketekunan memang mahal. Tak banyak orang yang bisa menjalaninya. Begitupun kemuliaan dan harga diri. Tak banyak orang yang menyadari bahwa kedua hal itu tak berasal dari apa yang kita sandang hari ini. Setidaknya tindak-laku kedua pengrajin di atas adalah potongan siluet kehidupan kita.

Ketekunan adalah titin jalan panjang yang licin berliku. Seringkali jalan panjang itu membuat kita tergelincir dan jatuh. Sering pula titian itu menjadi saringan penentu bagi setiap orang yang hendak menuju kepada kebahagiaan di ujung simpulnya. Namun percayalah, ada balasan bagi ketekunan. Di ujung sana ada sesuatu yang menunggu setiap orang yang mau menekuni jalan itu.

Emas dan kuningan tentu punya nilai yang berbeda. Tapi, apakah kemuliaan dinilai hanya apa yang disandang keduanya? Apakah harga diri hanya ditunjukkan dari simbol-simbol yang tampak dari luar? Sebab, kita sama-sama belajar dari pengrajin kuningan bahwa kemuliaan adalah buah dari ketekunan. Dan, bahwa kemalasan akan membuahkan kelemahan jiwa.

Membentuk ketekunan mungkin hampir sama sulitnya dengan menempa logam, bahkan lebih sulit. Tanyakan saja kepada mereka yang berusaha untuk tekun qiyamullail, betapa sulit dan keras usahanya. Atau tanyakan kepada mereka bagaimana beratnya membiasakan diri shoum sunnah. Atau coba tanyakan kepada mereka yang sudah menekuni tilawah Qur’an 10 halaman hingga satu juz setiap harinya. Tanyakan kepada mereka yang punya hafalan 5 juz. Atau coba tanyakan pula kepada saudara kita yang sudah berusaha menekuni diri selalu hadir di majelis halaqoh dan majelis taklim. Apalagi mereka yang menekuni peran sebagai guru, murabbi atau ustadz. Hanya orang bermental baja yang bersedia menekuni pekerjaan itu.

Sekali lagi, ketekunan itu mahal. Dan, ketekunan itulah yang bisa merubah nilai atau harga diri seseorang, walaupun pada mulanya ia hanyalah berasal dari keluarga "kuningan" bukan keluarga "emas". Karakter diri yang kuat, kedewasaan, daya juang yang tinggi dan kematangan bertindak hanya mungkin diraih oleh orang-orang yang punya ketekunan dan mau berproses untuk bisa menjadi tekun. Tingkat ketekunan adalah ukuran yang bisa dipercaya untuk menilai seseorang.

Bisa jadi saat ini kita pandai, kaya, punya kedudukan yang tinggi, dan hidup sempurna layaknya emas mulia. Namun, adakah semua itu berharga bila ulir-ulir hati kita kasar dan kusam? Adakah itu mulia, jika lekuk-lekuk kalbu kita koyak dan penuh dengan tonjolan-tonjolan kedengkian? Adakah itu semua punya harga jika pokok-pokok simpul jiwa yang kita punya tak dipenuhi dengan simpul-simpul ikhlas dan perangai nan luhur?

Teman, mari kita asah kalbu dan hati kita agar bersinar mulia. Mari kita bentuk ulir dan leku-lekuk jiwa kita dengan ketekunan agar menampilkan cahaya-Nya. Susunlah simpul-simpul itu dengan jalinan keluhuran budi dan perilaku. Tempalah dengan kesungguhan diri agar hati kita tidak keras dan menjadi lembut, luwes, serta mampu memenuhi hati orang lain. Percayalah, ada imbalan untuk semua itu. Amin.