… Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim,(QS. Ali Imran : 140)
Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.(QS. Al-Baqarah : 153)
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan(QS. Alam Nasyrah : 5-6)
Adversis major, par secundis
“Dibalik kemalangan akan muncul kemakmuran”
Nemo Sine cruce beatus
“Tak ada kebahagiaan tanpa rintangan”
Seseorang menemukan kepompong seekor kupu. Suatu hari lubang kecil muncul.
Dia duduk mengamati dalam beberapa jam calon kupu-kupu itu ketika dia berjuang dengan memaksa dirinya melewati lubang kecil itu.
Kemudian kupu-kupu itu berhenti membuat kemajuan. Kelihatannya dia telah berusaha semampunya dan dia tidak bisa lebih jauh lagi. Akhirnya orang tersebut memutuskan untuk membantunya. Dia mengambil sebuah gunting dan memotong sisa kekangan dari kepompong itu.Kupu-kupu tersebut keluar dengan mudahnya. Namun, dia mempunyai tubuh gembung dan kecil, sayap-sayap mengkerut. Orang tersebut terus mengamatinya karena dia berharap bahwa, pada suatu saat, sayap- sayap itu akan mekar dan melebar sehingga mampu menopang tubuhnya, yang mungkin akan berkembang seiring dengan berjalannya waktu.
Semuanya tak pernah terjadi.
Kenyataannya, kupu-kupu itu menghabiskan sisa hidupnya merangkak di sekitarnya dengan tubuh gembung dan sayap-sayap mengkerut.
Dia tidak pernah bisa terbang.
Yang tidak dimengerti dari kebaikan dan ketergesaan orang tersebut adalah bahwa kepompong yang menghambat dan perjuangan yang dibutuhkan kupu-kupu untuk melewati lubang kecil adalah jalan Allah SWT untuk memaksa cairan dari tubuh kupu-kupu itu ke dalam sayap-sayapnya sedemikian sehingga dia akan siap terbang begitu dia memperoleh kebebasan dari kepompong tersebut.
Kadang-kadang perjuangan adalah suatu yang kita perlukan dalam hidup kita. Jika Allah SWT membiarkan kita hidup tanpa hambatan perjuangan, itu mungkin justru akan melumpuhkan kita.
Kita mungkin tidak sekuat yang semestinya yang dibutuhkan untuk menopang cita-cita dan harapan yang kita mintakan. Kita mungkin tidak akan pernah dapat “Terbang”.
Sesungguhnya Allah SWT itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Kita memohon Kekuatan…
Dan Allah SWT memberi kita kesulitan-kesulitan untuk membuat kita tegar.
Kita memohon kebijakan…Dan Allah SWT memberi kita Berbagai persoalan Hidup untuk diselesaikan agar kita bertambah bijaksana.
Kita memohon kemakmuran…
Dan Allah SWT memberi kita Otak dan Tenaga untuk dipergunakan sepenuhnya dalam mencapai kemakmuran.
Kita memohon Keteguhan Hati…Dan Allah SWT memberi Bencana dan Bahaya untuk diatasi.
Kita memohon Cinta…Dan Allah SWT memberi kita orang-orang bermasalah untuk diselamatkan dan dicintai.
Kita Memohon kemurahan/kebaikan hati. Dan Allah SWT memberi kita kesempatan-kesempatan yang silih berganti.
Begitulah cara Allah SWT membimbing Kita.
Apakah jika saya tidak memperoleh yang saya inginkan, berarti bahwa saya tidak mendapatkan segala yang saya butuhkan?
Kadang Allah SWT tidak memberikan yang kita minta, tapi dengan pasti Allah SWT memberikan yang terbaik untuk kita, kebanyakan kita tidak mengerti mengenal, bahkan tidak mau menerima rencana Allah SWT, padahal justru itulah yang terbaik untuk kita.
Tetaplah berjuang…berusaha…dan berserah diri…
Jika itu yang terbaik maka pasti Allah SWT akan memberikannya untuk kita.
Saturday, November 6, 2010
~ Kisah Seekor Kupu-Kupu ~
Thursday, November 4, 2010
~ Tanya Jawab tentang Manhaj bersama Asy Syaikh Shalih Al Fauzan ~
Oleh: Asy Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan
1. S: Sekarang ini banyak sekali jama’ah (kelompok) dengan beraneka ragam nama, apakah dasar penamaan ini? Bolehkah bergabung dengan mereka jika terbebas dari bid’ah?
J: Rasulullah telah mengabarkan dan menjelaskan apa yang harus kita perbuat, tidak ada satu perkarapun yang bisa mendekatkan ummatnya kepada Allah kecuali telah beliau jelaskan dan tidak ada satu perkarapun yang bisa menjauhkan ummatnya dari Allah kecuali telah beliau jelaskan pula. Di antara masalah yang beliau jelaskan adalah apa yang dipertanyakan sekarang ini.
Rasulullah pernah bersabda: “Sesungguhnya barangsiapa yang hidup di antara kalian akan melihat perselisihan yang banyak.” -apakah obat penyakit ini- beliau bersabda: “Wajib atas kalian untuk berpegang dengan sunnahku dan sunnah khulafaurrasyidin setelahku, peganglah dan gigitlah dengan gigi geraham kalian, hati-hati kalian dari perkara yang diada-adakan karena semua perkara yang baru adalah bid’ah dan setiap yang bid’ah adalah sesat.”
Kelompok yang ada sekarang ini jika sesuai dengan petunjuk Rasulullah dan para shahabatnya khususnya khulafaur rasyidin dan masa yang utama maka kita harus bersama mereka, menisbatkan diri dan beramal dengan mereka. Dan semua kelompok yang menyelisihi petunjuk Rasulullah maka kita harus menjauhinya walaupun mereka menamakan dirinya dengan nama “ahlus sunnah wal jama’ah” karena yang dinilai bukanlah namanya akan tetapi hakikatnya, adapun namanya kadang besar akan tetapi hakikatnya kosong bahkan batil.
Rasulullah bersabda: “Yahudi terpecah menjadi tujuh puluh satu golongan, Nashara terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan dan ummatku ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan semuanya akan masuk neraka kecuali satu. Para shahabat bertanya: “Siapa mereka itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Yaitu orang-orang yang berpegang dengan sunnahku dan sunnah para sahabatku.”
Inilah jalan yang sangat jelas… Jamaah (kelompok) yang mempunyai ciri seperti dalam hadits ini harus kita ikuti, yaitu yang berjalan di atas sunnah Rasulullah dan para sahabatnya, “merekalah golongan yang selamat”. Adapun jamaah yang menyalahi manhaj (jalan) ini dan berjalan di atas manhaj yang lain bukanlah kelompok kita, dan kitapun tidak termasuk golongan mereka, kita tidak akan menisbatkan diri kepada jamaah tersebut.
2. S: Apa pendapatmu tentang jamaah-jamaah yang ada, sebagai hukum ‘Amm (Dasar)?
J: Semua jamaah yang menyelisihi Ahlus sunnah adalah salah, bagi kami tidak ada jamaah kecuali satu yaitu (Ahlus sunnah wal jamaah), maka semua jamaah yang menyelisihi Ahlus sunnah berarti kelompok tersebut menyelisihi manhaj Rasulullah. Kita katakan: “Semua yang menyelisihi Ahlus sunnah adalah ahlul ahwa (ahlul bid’ah) adapun hukumnya dalam kekafiran dan kesesatannya berbeda-beda sesuai dengan besar kecil dan jauh dekatnya perselisihan tersebut.
3. S: Apakah orang yang bergabung dengan kelompok yang ada sekarang ini dianggap sebagai ahlul bid’ah?
J: Sesuai dengan kelompok yang diikutinya… kalau kelompok tersebut menyelisihi Al Qur`an dan As Sunnah maka orang yang bergabung di dalamnya dianggap mubtadi’ (ahlul bid’ah).
4. S: Mana yang lebih keras siksanya orang yang berbuat maksiat atau ahlul bid’ah?
J: Mubtadi’ lebih keras adzabnya, karena bid’ah lebih berbahaya daripada maksiat, bid’ah lebih dicintai syaithan daripada maksiat, karena orang yang berbuat maksiat kadang bertaubat, adapun mubtadi’ jarang sekali kita temukan mereka bertaubat, karena dia menyangka bahwa dirinya di atas kebenaran, berbeda dengan orang yang berbuat maksiat. Adapun mubtadi’ dia menyangka kalau dirinya adalah orang yang taat dan tengah berada di atas ketaatan, karena itulah maka bid’ah -wal ‘iyadzubillah- lebih jelek dari maksiat, oleh karena itu pula salafus shalih mentahdzir (memperingatkan) dan melarang duduk dengan ahlul bid’ah, karena mereka bisa mempengaruhi teman duduknya dan bahaya mereka sangat besar. Oleh karena itulah tidak diragukan lagi bahwa bid’ah lebih jelek dari maksiat, dan bahaya ahlul bid’ah lebih besar atas manusia daripada bahayanya orang berbuat maksiat.
5. S: Apakah boleh kita bergaul dengan kelompok-kelompok tersebut atau harus mengisolir mereka?
J: Jika tujuan bergaul dengan mereka itu adalah untuk mendakwahi mereka, agar mereka berpegang dengan sunnah serta meninggalkan kebiasaannya yang jelek maka ini diperbolehkan, dan termasuk dakwah ke jalan Allah. Adapun jika tujuan berbaur hanya semata ingin bergaul dan bersahabat tanpa mau mendakwahinya maka ini tidak diperbolehkan… Seseorang tidak boleh berbaur dengan orang-orang yang menyelisihi kecuali dalam bentuk yang ada faidahnya, yakni mendakwahi mereka kepada Islam yang benar dan menerangkan al haq kepada mereka dengan harapan mereka kembali kepada Al Haq.
6. S: Apakah ada jeleknya mentahdzir kelompok yang menyelisihi Ahlus sunnah wal jamaah?
J: Kita mentahdzir mereka, dan kita katakan: “Kami akan melazimi jalannya Ahlus sunnah wal jamaah serta meninggalkan orang-orang yang menyelisihi Ahlus sunnah wal jamaah, baik penyelisihannya sedikit ataupun besar, karena kalau kita menganggap remeh orang yang menyelisihi sunnah, mungkin urusannya akan semakin berkembang dan menjadi besar. Tidak diperbolehkan menyelisihi ahlus sunnah selamanya. Wajib mengikuti jalannya Ahlus sunnah wal jamaah baik dalam masalah besar ataupun kecil.
7. S: Apakah ketika mentahdzir harus menyebutkan kebaikan mereka?
J: Jika engkau sebutkan kebaikan mereka maknanya engkau berdakwah untuk membela mereka, jangan… jangan kau sebutkan kebaikan mereka, sebutkan kesalahan yang mereka lakukan saja, karena engkau tidak dibebani menjaga nama baik mereka, akan tetapi engkau bertanggung jawab menjelaskan kesalahan yang mereka lakukan, dengan harapan mereka bertaubat dari perbuatannya, dan memperingatkan orang lain dari kejahatannya.
8. S: Jamaah Tabligh -sebagai contoh- berkata: “Kami ingin berjalan di atas manhaj Ahlus sunnah wal jamaah”, akan tetapi ternyata sebagian mereka melakukan kesalahan, kemudian mereka berkata: “Mengapa kalian menghukumi dan mentahdzir kami?”
J: Telah banyak orang yang pernah ikut pergi bersama mereka dan mempelajari ajaran mereka, kemudian menulis tentang mereka dengan menjelaskan kesalahan-kesalahan yang terdapat dalam tubuh jamaah tabligh. Kalian harus membaca buku-buku tersebut. Adapun hakikat Jamaah Tabligh banyak ditulis dalam kitab… lihatlah! Nanti kalian akan mengetahuinya, penulisnya adalah orang-orang yang pernah pergi safar dan bergaul dengan mereka, sehingga menulisnya dengan pengetahuan dan di atas kejelasan.
9. S: Apakah kelompok-kelompok yang ada sekarang ini termasuk tujuh puluh dua golongan yang akan masuk neraka?
J: Semua kelompok yang menyelisihi Ahlus sunnah wal jamaah masuk ke dalam tujuh puluh dua golongan, hingga hal ini merupakan celaan dan hukuman sesuai kadar penyelisihan mereka.
10. S: Apakah orang yang menamakan dirinya salafi dianggap hizbiyah?
J: Menamakan diri dengan salafiyah jika secara hakiki tidak mengapa, tapi kalau hanya sekedar akuan semata, tidak boleh dilakukan…, tidak boleh menamakan diri salafiyah kalau tidak berada di atas manhaj salaf. Misalnya Asy’ariyah, mereka berkata: “Kami adalah ahlus sunnah wal jamaah”, sebetulnya pernyataan ini tidak boleh diucapkan oleh mereka, karena yang mereka jalani bukanlah manhaj Ahlus sunnah wal jamaah demikian pula halnya firqah-firqah yang lainnya.
Semua orang mengaku sebagai kekasih Laila, padahal Laila tidak menganggap mereka sebagai kekasih.
Orang yang mengaku dirinya Ahlus sunnah wal jamaah akan mencari ahlus sunnah dan meninggalkan orang-orang yang menyelisihi mereka, adapun kalau dia ingin mencampur antara (Dhab dan nun) -begitu perkataan mereka- menggabungkan antara binatang darat dan binatang laut, tidak mungkin bisa dilakukan, atau menggabungkan air dan api dalam satu telapak tangan. Kesimpulannya: wajib membedakan dan membersihkan perkara-perkara di atas.
11. S: Apa pendapatmu terhadap orang yang berkata: Permusuhan kita dengan Yahudi bukan karena agama, karena Al Qur`an menganjurkan untuk berbaris dan berteman dengan mereka?[1]
J: Ini adalah perkataan keliru dan menyesatkan, Yahudi adalah kaum yang kafir, Allah telah mengkafirkan dan melaknat mereka, Rasulullahpun mengkafirkan dan melaknat mereka.
Allah berfirman: “Orang-orang kafir Bani Israil dilaknat…” (Al Maidah: 78). Rasulullah bersabda: “Allah melaknat Yahudi dan Nashara.” (HR Bukhari Muslim).
——————————————————
[1] Ini adalah ucapan Hasan Albanna pendiri Firqah Ikhwanul Muslimin
(Sumber : Al Ajwibah Al Mufidah, edisi Indonesia “Kedudukan As Sunnah dalam Islam dan Penjelasan Sesatnya Ingkarus Sunnah”, diterjemahkan oleh Abdurahman Mubarak Ata. Pustaka Al Atsari, cetakan pertama, Juni 1998. Diambil dari http://salafy.iwebland.com/baca.php?id=25)
~ Bertepuk Tangan ? ~
diambil dari sebuah tanya jawab
Assalamualaikum..
Saya mau tanya adkah dalam islam ada diajar cara2 nak tepuk tangan bukan dalam solat ni tapi yg biasa2 tulah..sebabnya dulu2 saya ada dengar takleh tepuk tangan dengan melagakan kedua2 tangan melalui hadapan tapi kalu belakang tapak tangan dibenarkan.benarkah begitu?? ***************
Waalaikumussalam
Alhamdulillah, inilah jawapannya:
Firman Allah:
وَمَا كَانَ صَلاَتُهُمْ عِندَ الْبَيْتِ إِلاَّ مُكَاء وَتَصْدِيَةً فَذُوقُواْ الْعَذَابَ بِمَا كُنتُمْ تَكْفُرُونَ
Terjemahan: Sembahyang mereka di sekitar Baitullah itu, lain tidak hanyalah siulan dan tepukan tangan. Maka rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu.
Ayat di atas berkaitan dengan siulan dan tepuk tangan yang dilakukan oleh masyarakat jahiliah. Menurut Ibn Abbas, orang2 Quraisy jahiliah bertawaf dalam keadaan telanjang sambil bertepuk tangan dan bersiul. Menurut sangkaan mereka itulah ibadat.
Bertepuk tangan sebagaimana yang biasa berlaku sekarang tidak ada kaitan dengan bentuk ibadah tertentu atau untuk taqarrub kepada Allah. Mereka bertepuk tangan kerana maksud2 lain. Contoh: Mereka bertepuk tangan dalam satu majlis apabila seseorang selesai memberi ucapan. Atau bertepuk tangan apabila seseorang diberi hadiah. Atau bertepuk tangan ketika bermain dengan kanak2 krn menyatakan kegembiraan. Dsbnya.
Tepuk tangan begini tidak ada larangannya menurut syara'.
Cuma, dinasihatkan agar dapat menghindarkan diri dari bertepuk tangan di dalam majlis/keramaian yg diadakan di dalam masjid. Alasannya adalah utk melepaskan diri dari persamaan dari sudut bentuk perbuatan yg dilakukan oleh org musyrikin. Nyatakan kekaguman kita bukan dalam bentuk bertepuk tangan, tetapi hendaklah dengan bertakbir atau dengan cara yang sesuai dengan keagungan masjid.
Wallahu a'lam.
Sekian, harap bermanfaat.. Wassalam
-----------------------------------
Rujukan:
Ahsanul Kalam, Athiyah Saqr, vol. 13, hal. 359, petikan:
يقول الله تعالى عن الكفار: (وما كان صلاتهم عند البيت إلا مكاء وتصدية) [سورة الأنفال: 35] المكاء هو الصفير، والتصدية هي التصفيق كما قال ابن عمر والُسدى ومجاهد. وهناك أقوال أخرى في تفسيرهما لا داعي لذكرها، قال ابن عباس: كانت قريش تطوف بالبيت عراة، يصفقون ويصفرون، فكان ذلك عبادة في ظنهم.
من هذا يعرف أن الذين يتقربون إلى الله ويعبدونه بالتصفير والتصفيق مخطئون، وقد أشار إلى ذلك القرطبي في تفسيره، حيث حمل على الجهال من الصوفية الذين يرقصون ويصفقون، وقال: إنه منكر يتنزه عن مثله العقلاء، ويتشبه فاعله بالمشركين فيما كانوا يفعلونه عند البيت. انتهى.
لكن التصفيق المذكور في السؤال ليس عبادة، ولا يقصد به التقرب إلى الله، ليثيبهم على احترامهم لإنسان يستحق الاحترام، بل هو عرف وسلوك اختاروه ابتداء أو قلدوا فيه غيرهم ليظهروا الإعجاب بما يثير إعجابهم، وليس هناك ما يمنع ذلك شرعًا.
وإن كنا نوصي بألا يكون ذلك في الأحفال التي تقام في المساجد، تنزها عن المشاركة للمشركين في الصورة التي كانت تقع منهم في المسجد للتقرب، وليكن الإعجاب بالتكبير مثلاً أو بصيغة تتناسب وجلال المسجد، وقد روي بسند ضعيف أن النبي صلى الله عليه وسلم قال للنابغة لما أنشد شعرًا أعجبه "أحسنت يا أبا ليلى، لا يفضض الله فاك" وكذلك قال لعمه العباس لما مدحه بقصيدة شعرية "العراقي على الإحياء- كتاب آداب السماع
Kembali kepada Pesanan
Selembar Bulu Mata
Air mata takut hari pembalasan untuk tambah ilmu lebih mahal daripada isi dunia
DUA belah mata boleh menangis, tetapi hati tetap reda atas ketentuan-Nya. Demikianlah keadaan orang Mukmin yang bersedih. Tawa dan tangis, gembira dan sengsara, nikmat dan ujian semuanya adalah lumrah kehidupan.
Seseorang itu tidak mungkin hanya melalui satu episod dalam kehidupannya, sedih dan menangis untuk selama-lamanya. Semua akan datang dan pergi silih berganti, tiada yang kekal di dunia ini.
Orang beriman berada di atas batas pertengahan, tidak berlebih-lebihan mengungkapkan perasaan yang bergejolak di hati. Inilah yang disebut sebagai jiwa hamba yang zuhud. Apabila mendapat nikmat, tidak terlalu gembira dan jika diserang musibah tidak pula terlalu bersedih. Semua dikembalikan kepada ketentuan Allah semata-mata.
Menangis adalah suatu ungkapan perasaan normal pada diri manusia. Biasanya manusia menangis atas sebab tertentu. Mungkin berduka kerana sudah kembali kepada Allah seseorang yang mereka kasihi. Kerana rindu yang menyeksa kepada orang disayangi.
Begitu juga orang akan menangis apabila menahan sakit, tidak kira sakit kerana dilukai perasaannya ataupun sakit pada zahir tubuh badannya. Orang akan menangis apabila kehilangan harta, diseksa dan dizalimi, diusir atau dihina peribadinya dan dimalukan di khalayak ramai.
Menurut al-Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, tangisan boleh diperincikan menjadi 10 jenis mengikut pelbagai maksud dan tujuan. Tangisan kasih sayang, ketakutan, gembira, kegundahan, cinta dan rindu, kesedihan, tidak berdaya, kemunafikan, orang upahan dan tangisan ikut-ikutan.
Satu tangisan yang istimewa dianugerahkan Allah SWT kepada hamba-Nya. Tangisan ini tidak bersifat melemahkan semangat, bahkan ia boleh menghidupkan jiwa yang sudah lama mati. Ia tidak mendatangkan rasa putus asa dan kesakitan, bahkan air mata ibarat gelombang membangkitkan rasa optimis, kecekalan dan azam bergelora.
Tangisan itu membawa satu janji untuk hidup lebih bererti dan ia mampu mencelikkan pandangan mata hati meneroka alam lebih jauh lagi. Alam ghaib tidak nampak di mata kasar, hanya hati yang beriman boleh merasai kebenarannya. Tangisan itu dianugerahkan kepada Nabi dan Rasul, syuhada dan orang salih. Mereka berhak mendapat perlindungan Allah pada hari yang tiada perlindungan, selain perlindungan-Nya.
Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud:
“Dan seseorang yang berzikir mengingati Allah dalam keadaan sendirian, lalu berlinanganlah air matanya kerana takutkan Allah.” (Hadis riwayat al-Bukhari)
Tangisan itu mendatangkan kelembutan hati dan membangkitkan rasa takut kepada Allah. Saidatina Aisyah Ummul Mukminin menangis ketika membaca ayat al-Quran dalam sembahyangnya, yang bermaksud:
“Maka Allah memberi kurnia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka.” (Surah al-Tur, ayat 27)
Dan menangis pula ketika membaca ayat Allah yang bermaksud:
“Jika Engkau menyeksa mereka sesungguhnya mereka adalah hamba-Mu. Dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Surah Al-Maidah, ayat 118)
Saidina Umar al-Khatab berkata: “Seandainya ada seruan dari langit yang mengatakan: Wahai manusia, sesungguhnya kalian semua masuk syurga, kecuali seorang. Tentulah aku amat takut kalaulah orang itu adalah diriku.” Maka beliau pun teresak-esak demi membayangkan kengerian peristiwa itu.
Saidina Ali bin Abi Talib berkata: “Sesungguhnya aku menyaksikan sahabat Rasulullah SAW, tetapi kini aku tidak menemukan lagi orang seperti mereka. Sesungguhnya mereka berpagi-pagi dalam keadaan yang kusut, mata yang bengkak kerana menangis ketika qiyam pada malam hari. Mereka membaca al-Quran sambil berdiri, duduk dan berbaring pada lambung mereka. Mereka berzikir dengan tubuh yang bergoncang bagaikan pohon ditiup angin kuat sedangkan mata mereka basah oleh air mata sehingga membasahi pakaian mereka. Demi Allah, seolah-olah keadaan umat sekarang seperti umat yang semalaman dalam keadaan lalai.”
Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud:
“Aku belum pernah melihat sesuatu yang boleh menyebabkan orang yang tidur terbangun lantas lari daripada satu ancaman seperti ancaman neraka.” (Hadis riwayat al-Tirmizi)
Malam yang panjang itu sebenarnya ada bahagian untuk melembutkan hati, ada ruang mengadu kepada Allah, ada peluang mengetuk pintu maghfirah-Nya, ada kesempatan meminta perlindungan daripada azab neraka. Tetapi manusia yang lalai sudah melepaskan peluang keemasan itu untuk sekadar menikmati mimpi yang sebenarnya tidak dapat memuaskan hati.
Untuk mencapai darjat iman yang tinggi seperti sahabat Rasulullah SAW, tentu banyak rintangan yang harus dihadapi. Malas dan leka dengan permainan serta hiburan membuat hati manusia keras, ditambah lagi kurangnya ilmu, penghayatan mengenai jalan mendekatkan diri kepada Allah.
Kesibukan memuaskan nafsu syahwat terlalu mengganggu kekhusyukan hati. Akhirnya kelalaian itu menjadi kebiasaan, bagi yang sudah terbiasa akhirnya bukan menjadi suatu keaiban lagi selepasnya. Semakin lama dirinya semakin tenggelam kealpaan. Bahawa kita perlukan pertolongan Allah kerana hanya Allah yang berkuasa menyelamatkan manusia daripada kejahatan dirinya sendiri.
Allah berfirman menerusi lisan Nabi Yusuf yang bermaksud:
“Sesungguhnya nafsu itu sentiasa menyuruh kepada kejahatan kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.” (Surah Yusuf, ayat 53)
Apabila nafsu sentiasa menyuruh berbuat maksiat, lalai dan menunda amal maka keraslah hati dan keringlah mata daripada air mata taubat. Jika berdiri untuk sembahyang, akalnya menjelajah hingga ke seluruh ruang pemikiran yang terpendam dalam memorinya. Barang yang hilang pun boleh diingat di manakah tempat menyimpannya.
Maka terbukti sembahyangnya kosong, hatinya hampa, fikirannya tidak menumpu kepada kebesaran dan keagungan Allah. Bagaimanakah matanya boleh menangis, hatinya boleh takut dan akalnya boleh tunduk di hadapan Maha Pencipta?
Begitu juga ketika membaca ayat al-Quran, ia hanya semata-mata untuk pahala, kerana ilmunya belum sampai kepada penghayatan yang mendalam terhadap isi kandungan al-Quran. Padahal Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud:
“Sesungguhnya al-Quran itu diturunkan dalam kesedihan. Maka menangislah apabila kamu membacanya. Jika kamu tidak dapat menangis maka buat-buatlah menangis. Dan elokkan suara saat membacanya kerana siapa yang tidak melagukannya dia bukanlah termasuk golongan kami.” (Hadis riwayat Ibnu Majah, Abu Ya’la dan al-Baihaqi daripada Saad bin Abi Waqqash)
Rasulullah SAW pernah meminta Abdullah bin Mas’ud untuk membacakan al-Quran kepada Baginda. Beliau membaca awal surah al-Nisa hingga ke ayat 41 dan beliau melihat Rasulullah SAW menitiskan air mata.
Abdullah bin al-Syakir berkata:
“Aku pernah menemui Rasulullah SAW ketika Baginda bersembahyang, sementara dari dalam tubuhnya terdengar suara seperti air yang mendidih kerana tangisan.” (Hadis riwayat Abu Daud dan al-Tirmizi)
Bagaimana jika air mata tidak juga mahu keluar, puas sudah hati memaksa sedih supaya kekhusyukan boleh singgah, walaupun sekejap. Kesilapan apakah yang dilakukan hamba Allah yang tidak dapat menangis ini?
Pertama, kerana ceteknya ilmu sehingga hati dan akalnya tidak dapat meneroka lebih jauh memikirkan keagungan Allah.
Kedua, kerana dirinya tidak merasai kesusahan ujian dan musibah, segalanya berjalan dengan aman dan lancar dalam kehidupannya sehari-hari.
Ketiga, berlebih-lebihan dalam bergembira, bergurau dan bermain-main.
Keempat, kurang muhasabah dan bertafakur melihat kelemahan dan kekurangan diri.
Dan yang kelima, berlebihan pula membanggakan amal sehingga mematikan rasa takut kepada Allah.
Menangis tidak semestinya menunjukkan seseorang itu lemah bahkan menangis kerana takut kepada Allah boleh melonjakkan semangat seorang hamba untuk mengorbankan segala-galanya yang dimiliki demi Tuhannya.
Bukankah syuhada menumpahkan darahnya kerana meninggikan kalimah Allah, biarlah kita mulakan ia dengan menitiskan air mata kerana Allah, itu saja yang termampu karna harga setitis air mata itu lebih mahal dari dunia dan segala isinya.
Tafakur Ujian Penuh Nikmat
Dalam perjalanan panjang kisah hidup seseorang, pasti akan dipenuhi ujian, baik itu menyenangkan maupun yang kurang menyenangakan. Hidup adalah peralihan dari satu ujian ke ujian berikutnya.
Kesabaran kita diuji di setiap adegan kehidupan. Masalahnya bukan bagaimana ujian yang menimpa kita, tetapi bagaimana kita menghadapinya. Bila ada seseorang yang mengecewakan, mengkhianati, berbuat tidak baik, berkata kasar, pasti akan menyakitkan kita.
Menangislah bila itu melegakanmu sesaat…
Namun selanjutnya bertafakurlah. Kita perlu bertafakur mengapa orang lain sampai menyakiti kita, mengapa suatu musibah menimpa kita.. apa kira-kira hikmah kejadian tersebut untuk kita.
Bila ada seseorang yang menipu kita, kita bisa menjadi sangat membencinya hingga lupa bahwa dia pernah baik.
Padahal…
tafakuri lagi, bagaimana kita menipu Allah dengan amal kita, seberapa banyak kata yang tidak sesuai dengan hati, berapa banyak amal yang tidak ikhlas, berapa kali kita bermaksiat setelah kita bertaubat…
Ingat-ingatlah berapa jumlah orang yang mengkhianati atau menyakiti kita dibandingkan jumlah teman dan saudara yang menyayangi kita..
Bila kita kehilangan harta kita, atau mungkin kehilangan pekerjaan, hingga kita berputus asa dan membenci orang-orang yang mengambil harta kita….
Padahal…
tafakuri lagi, berapa banyak rezeki dari Allah dibandingkan yang diambil oleh orang lain itu, Bagaimana bila rezeki indra kita dapat melihat dan mendengar dengan baik sepanjang hidup hingga hari, dibandingkan harta yang hilang itu. Tafakuri bila kita justru jauh dari Allah karena pekerjaan kita, sholat menjadi tidak tepat waktu karena takut atasan, sholat sulit khusyuk, jumlah bacaan Quran kita berkurang karena kelelahan, jumlah rokaat sholat malam berkurang karena ngantuk..
Tafakuri bila selama ini harta kita atau sedikit kelebihan rezeki kita menjadikan kita sombong, ujub dan takabur, ada selintas perasaan meremehkan orang lain.. tafakuri bila wajah yang tampan memandang hina orang yang dikaruniai wajah berbeda dengannya, bila dari wajah yang cantik justru dalam hati merendahkan orang yang tidak cantik. Apakah ketampanan itu yang dinilai Allah atau ketakwaan?
Bertafakur dan menghitung berapa banyak dari harta tersebut yang kita belanjakan untuk Allah, berapa banyak yang kita infakkan dibanding yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan atau bahkan hanya keinginan duniawi.. salahkah bila Allah ingin memintanya lagi?
Tafakuri lagi bahwa justru disaat kita kehilangan harta, disakiti orang, kita menjadi lebih nikmat beribadah. Hati diberi nikmat untuk merasakan tawakal yang sebenar-benarnya. Tafakuri lagi bahwa kita menjadi tahu siapa kawan-kawan sejati kita. Tafakuri lagi teman…
Tafakuri bahwa mereka yang menyakiti kita ada dalam kekuasaan Allah, rezeki kita ada dalam kekuasaan Allah. Dan semua yang menimpa kita adalah seizin Allah…
Mudah bagi Allah menjadikan sesuatu dan mengubahnya kembali
Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: "Tuhanku telah memuliakanku". Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezkinya maka dia berkata: "Tuhanku menghinakanku".(QS. Al Fajr-15-16)
Bukankah disaat kita terjatuh, kehilangan dan mendapat musibah kita justru mendapat nikmat kedekatan dengan Allah yang Maha Memberi ketenangan, lebih dekat pada yang Memberi rezeki. Inikah yang lebih baik atau saat-saat dunia justru terasa sempit padahal harta dan kekuasaan ada ditangan? Saat semua orang dengan topengnya masing-masing berlaku baik pada kita atau saat Allah tunjukan siapa yang hatinya benar-benar tulus pada kita?
Mengapa kita hanya bergembira dalam, nikmat yang penuh ujian,
tetapi sulit merasakan dan mensyukuri ujian yang penuh nikmat?
Tafakuri dengan hati yang terdalam…. Bahwa yang dinilai pada diri kita di hadapan Allah adalah:
bagaimana sikap kita pada mereka, bukan sikap dia atau mereka pada kita.
Bagaimana keridhaan kita pada takdir Allah, hingga akhirnya Allah meridhai doa kita.
Bagaimana bukti kesabaran dan kecintaan kita padaNya.
Seberapapun ujian dari Allah, sungguh lebih banyak nikmat dari Allah..
Maka nikmat dari Tuhanmu manakah yang dapat kamu dustakan…..
Berilah waktu untuk hatimu menafakuri kehidupan..
Ya Rabb, bukalah hati-hati kami untuk dapat mengetahui hikmah dibalik setiap kejadian kehidupan ini..amiin.
Wednesday, November 3, 2010
~ Anda Ingin berpasangan..?? ~
"Pada asasnya, hukum bercinta-kasih, berpasangan(couple) atau seumpamanya adalah harus. Akan tetapi terdapat beberapa perkara/tindakan yang boleh menyebabkannya menjadi HARAM. Antaranya :
PERTAMA: TIDAK MEMPUNYAI NIAT YANG BAIK ATAU SEBALIKNYA
Sesebuah perhubungan ‘istimewa’ antara seorang lelaki dan wanita seharusnya didasari dengan niat yang baik seperti bertujuan untuk berkahwin. Justeru sebarang perhubungan yang tidak bertujuan seperti tersebut adalah tidak harus seperti bercouple untuk berhibur, bersuka-suka dan sebagainya.
KEDUA: TIDAK MEMATUHI (MELAMPAUI) SYARIAT AGAMA
Lumrah bercouple seakan tidak dapat lari dari aktiviti seperti ber“dating”, ber“shoping” dan sebagainya hatta ada yang sampai ke peringkat “membonceng”. Tidak kurang juga (tanpa segan silu) menggunakan istilah-istilah yang kononnya menunjukkan sikap ‘caring’ seperti memanggil “darling” kepada pasangannya. Paling tidak, pasti di dalam pertemuan(dating) akan berlaku pandangan mata yang tidak harus, perbicaraan yang tidak wajar dan seumpamanya. Semua perlakuan ini adalah bercanggah dengan ajaran Islam yang mengharamkan perhubungan bebas di antara lelaki dan perempuan. Yang paling penting, apabila Syariat Islam mengharamkan sesuatu perkara/perbuatan, maka wasilah atau tindakan yang menuju kepada perkara yang diharamkan tersebut juga turut diharamkan. Kaedah Fiqh ada menyebutkan : “sesuatu yang membawa kepada yang haram, maka ia juga menjadi haram”. Justeru berdasarkan kaedah ini, maka bercouple yang membawa kepada perlanggaran hukum syariat juga adalah haram.
KETIGA: MENJATUHKAN MARUAH (PERIBADI) SEORANG WANITA
Apabila pasangan yang bercouple berdating, maka peribadi seorang wanita muslimah akan dipersoalkan. Khalayak tidak akan berbicara tentang si lelaki yang bercouple tersebut, tetapi si perempuan. Masyarakat akan bertanya bagaimana begitu mudah si perempuan tersebut membiarkan dirinya diusung(maaf jika agak keterlaluan) ke sana-sini atau setidak-tidaknya umum akan menganggap bahawa perempuan tersebut telah dimiliki. Kesan buruk yang mungkin dihadapi ialah apabila berlaku perpisahan antara pasangan tersebut. Masyarakat akan mula membuat pelbagai tanggapan negatif terhadap si perempuan tersebut. Prasangka-prasangka negatif akan direka dan dihebahkan. Akhirnya berlakulah tohmahan-tohmohan yang menjatuhkan maruah dan kehormatan seorang wanita. Ingatlah bahawa Islam amat memprihatinkan penjagaan maruah seorang wanita. Di atas dasar itulah adanya hukum Qazaf dan kerana tujuan tersebut jugalah Islam mengharamkan perhubungan yang di luar batasan. Sebabnya adalah kerana Islam memelihara kehormatan seorang wanita.
KEEMPAT: MEMBAZIRKAN WANG KEPADA PERKARA YANG TIDAK WAJAR
Di dalam budaya bercouple, biasanya pasangan lelaki akan banyak menghabis duit pinjaman PTPTN, JPA, yayasan negeri (bagi mahasiswa IPT) atau duit pemberian ibubapa untuk memenuhi kehendak pasangan wanitanya. Ajak saja dinner, lunch, breakfeast atau bershoping pasti si lelaki yang perlu mengeluarkan duit poketnya. Terdapat juga keadaan di mana si perempuan yang berbelanja si lelaki. Itu belum dikira dengan pembeliaan kad top-up handset yang out of control. Hanya kerana call untuk tanya khabar, dah makan ke belum, ada yang sanggup men“top up” handset mereka beberapa kali dalam seminggu. Cuba bayangkan jumlah wang perlu dibazirkan hanya untuk perkara yang sangat remeh dan tidak perlu. Paling menyedihkan, wang tersebut adalah pemberian keluarga yang seharusnya digunakan bagi tujuan pengajian. Begitu juga wang pinjaman PTPTN, ia adalah hutang yang perlu dibayar selepas tamat pengajian. Justeru, penggunaan kedua-dua jenis wang ini kepada perkara yang tidak wajar adalah tidak harus dan ditegah oleh syarak. Perbuatan membazir dan menyalahgunakan harta juga adalah amalan syaitan.(Rujuk Al-Isra’ ayat 27)
KELIMA: MEMBUANG MASA KEPADA PERKARA YANG TIDAK SEWAJARNYA
Seperkara yang wajar diprihatinkan di sini ialah penggunaan waktu kepada perkara yang tidak bermanfaat. Lebih malang lagi, masa yang amat terhad sebagai seorang mahasiswa telah diisi dengan perbuatan-perbuatan yang ditegah oleh Allah. Bukankah berdating, berbual telefon secara marathon dan lain-lain aktiviti rutin bercouple merupakan perbuatan yang menyimpang dari anjuran agama. Justeru setiap saat dan minit yang digunakan bagi tujuan tersebut akan dipersoal dan diperbicarakan di hadapan Allah.
Perlu diingat bahawa Islam bukan mengharamkan secara total perkara yang dinyatakan di atas. Islam tidak menghalang perbuatan tersebut, tetapi meletakkan beberapa prasyarat yang perlu dipenuhi. Sekiranya kita gagal mengikut syarat-syarat tersebut, maka status perbuatan tersebut menjadi HARAM serta menjauhkan diri pelaku daripada kasih sayang dan cinta Allah. (Rujuk kitab al-Halal wal Haram Fil Islam, Dr. Yusuf Al-Qardhawi)
~ Persoalan Tentang Hidupku ~
Apakah tujuan hidupmu??
Untuk Menegakkan Agama Islam,tetapi sejauh
manalah kebenaran kata-katamu,Astagfirullah..
Apakah yang dicari dalam hidupmu??
Rahmat dan Redha ALLAH,tapi selalu melakukan kemaksiatan kepadanya..Astagfirullah
Apakah jalan yang kamu pilih untuk merentasi onak duri dunia yang fana ini??
Agama Islam..tetapi kamu beriman dgn sebahagiannya dan mendustakan sebahagian lagi..Astagfirullah..
Sejauh manakah keikhlasan kamu terhadap agama kamu ??
Banyak melakukan ibadah,tetapi disaluti dgn perasaan riya' dan takbur...Astagfirullah
Adakah sudah lengkap di dadamu pegangan Al-Quran dan As-Sunnah untuk menghadapi fitnah Yahudi dan Al-Masih Dajjal ??
Jauh sekali Ya ALLAH..Astagfirullah..
Sejauh manakah kepercayaan kamu terhadap ancaman ALLAH dan Rasul-Nya ??
Percaya..tetapi tidak begitu mengimaninya..Astagfirullah..lagi teruk bagi mereka yang tidak percaya langsung..Na`udzibillah Min Zalik
Sama-samalah kita mengisafi dan memperbaiki diri kita yang masih lemah..terutamanya ummat akhir zaman ni..yang banyak sekali..tetapi seperti buih-buih di lautan...
Kita masih lagi diberi peluang untuk bertaubat dan
melengkapkan diri dgn keyakinan yang jitu terhadap Islam..
Kita masih diberi waktu untuk mengangkat semula Islam di pesada dunia...
Kita masih lagi diberi peluang untuk memperjuangkan agama Islam di muka bumi ini..
Jadi mengapa masih berdalih dan berlengah .. ??
Fikir-fikirkan dan muhasabah serta bimbinglah diri kita ke arah kesyumulan Islam yang sebenar...
ALLAHUAKBAR...ALLAHUAKBAR...ALLAHUAKBAR.....
