Tuesday, March 2, 2010

~Permasalahan Dakwah~



Dakwah ini bukan jalan tol yang lengang tiada halangan. Juga bukan jalan yang indah ditaburi bunga. Sebaliknya, jalan dakwah ini adalah jalan yang panjang, penuh onak dan duri, kerikil-kerikil tajam, tanjakan-tanjakan curam, dan belokan-belokan berliku. Maka, adalah hal yang sangat wajar jika tik ramai manusia yang mahu memijak jalan ini untuk meraih kemenangan sejati.

Dengan demikian, memasuki wilayah dakwah bukan sederhana. Kalau misalnya seorang daie sudah bulat tekad untuk menapaki jalan ini, belum tentu keluarganya: isteri atau suaminya, anak-anaknya, orang tua dan atau mertuanya, juga demikian. Bahkan, tetangga pun kadang kala turut serta dalam rombongan orang-orang yang menentang pilihan langkah sang daie.

Isteri atau suami mana yang bersedia diajak hidup susah? Orang tua atau mertua mana yang tega melihat anak-cucunya menderita? Apalagi dalam keadaan kewangan yang hidup segan mati tak mahu, misalnya, peruntukan dana untuk dakwah malah lebih besar daripada peruntukan dana untuk keperluan harian. Dalam situasi demikian semangat untuk berjihad di jalan Allah-dengan harta dan jiwa menjadi terasa sangat berat.
Padahal Allah berfirman,
"Berangkatlah kamu-berperang di jalan Allah ini dalam keadaan ringan (lapang) maupun berat (sempit). Dan berjihadlah kamu dengan harta dan jiwamu di jalan Allah..." (At-Taubah: 41)

Ertinya, tentangan dakwah yang pertama kali dihadapi seorang dai adalah tentangan internal: Problem diri dan keluarganya. Mengenai perkara ini, Ustaz Rahmat Abdullah rahimahullah membuat gambaran yang sangat menyentuh hati.
''Alkisah, sepasang belia membangun rumah tangga. Lepas walimah, sang suami pun harus berangkat kembali membina kader-kader dakwah. Kerja yang biasa dilakukan hingga larut malam. Malam panjang tanpa suami pun mendera, membungkusnya dalam selimut sunyi lalu melemparnya ke dalam nyala bara yang menghanguskan keindahan hari-hari madu mereka. Perang pun mulai berkecamuk: zauji au da'wati? (Istriku atau dakwahku).
Dengan mantap sang dai merangkum kata menang, 'Adindaku, kita bertemu di jalan dakwah. Allah melimpahkan kebahagiaan kepada kita dengan membimbing langkah kita ke dakwah yang diberkahi-Nya. Haruskah kita meninggalkannya, sesudah kekuatan itu bersatu dan bertambah untuk lebih meningkatkan kontribusi kita bagi dakwah? ]angan kita langgar janji kita kepada-Nya, sehingga keturunan kita kelak akan tercerai-beraikan oleh pengkhianatan kita.'

Tahun-tahun silihberganti. Ketika bayang-bayang kejenuhan dan kepenatan melintas, istri tercintalah yang tak bosan-bosan mengobarkan semangat dakwah dan pantang menyerah. Sampai anak-anak mereka tak punya pikiran menyuruh tamu menelpon di lain waktu karena ayahnya sedang istirahat. Mereka berlomba membangunkannya. Ia jadi yakin, dakwahlah yang membangunkannya bukan anak-anak yang berkolaborasi dengan tamu dan penelpon yang tak tahu etika itu.

Profil yang lain menghadapi hal yang sama: 'Istriku atau dakwahku?' Satu jurus saja ia jatuh. Ketika dievaluasi, ia menangis dan bertekad; hujan, guntur dan badai tak boleh lagi menghalanginya dati tugas dakwah. Dan saat ia telah bersiap melaksanakan tekad dan ikrarnya, tiba-tiba terdengar suara sang mertua, 'Mertuaku atau dakwahku?' Sekali lagi ia tersungkur.

Tahun-tahun berlalu. Kedua profil itu bertemu; yang satu dengan produk dakwah yang penuh berkah yang lain dengan kemurungan, dunia yang membelenggu dan urusan keluarga yang tak kunjung selesai." Pada saat yang sarna, ketakutan akan kekurangan rezeki kadang juga datang menghampiri. Kekhawatiran akan keselamatan diri dan keluarga turut mengancam. Ada seorang aktivis dakwah dari kalangan pegawai negeri sipil, diancammeski secara tidak langsung-oleh atasannya akan dimutasi ke daerah terpencil jika masih aktifikut kegiatan partai. Sang aktivis takut, kalau-kalau ancaman itu serius, bisa-bisa kariernya akan mati. Istrinya menimpali, "Ya, Mas! Berhenti saja ngaji-nya, daripada nanti dipecat, ke mana lagi kita akan mencari pekerjaan?"
Ya, contoh-contoh seperti diungkapkan Al-Ustaz ada dalam dakwah kita. Kerana daie juga manusia, yang punya rasa, punya hati. Ada masanya iman meningkat dan segala ujian dakwah terasa ringan. Tapi ada pula masanya iman menurun, dan semua yang ada di jalan dakwah terasa sebagai beban yang sangat berat. Pada saat seperti itulah syaitan datang menawarkan janji-janji manis bahawa "mundur sejenak" dari jalan dakwah adalah pilihan yang sepenuhnya rasional.



"Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir) . Sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." (Al-Baqarah: 268)
Mereka berkata, seperti orang-orang Badui yang tidak mau ikut ke Hudaibiyah, "syaghalatna amwaluna wa ahwaluna (kami sibuk dengan berbagai urusan pekerjaan dan urusan keluarga)." (Al-Fath:ll) Jika seorang daie berjaya menghadapi semua ujian "domestik" seperti itu, bukan bererti rintangan dakwah sudah habis. Lepas dari tentangan internal dia akan masuk dalam ujian-ujian eksternaI, iaitu derita-derita dakwah yang ditimbulkan oleh orang-orang yang memang tidak suka dakwah ini berkembang, baik dari kalangan non-muslim maupun orang-orang yang bergabung dengan musuh-musuh dakwah dalam tubuh umat Islam sendiri.

Syaikh Musthafa Masyhur mengatakan, tentangan eksternal pertama yang dihadapi seorang daie adalah keengganan manusia dari jalan Allah. Kerana itu, setiap daie wajib mempersiapkan diri untuk menghadapi penolakan masyarakat terhadap dakwahnya. Ia harus benar-benar faham bahwa untuk mendapat sambutan yang menggembirakan atau mencapai hasil yang memuaskan dalam dakwah bukanlah hal yang mudah. Mengapa? Kerana ia mengajak pada sesuatu yang bertentangan dengan hawa nafsu manusia, mengajak untuk meninggalkan tradisi jahiliah yang sudah mendarah daging dalam kehidupan mereka. Bahkan, mengajak untuk melawan thaghut yang selama ini mencekik leher mereka. Tentu saja, itu bukan hal yang ringan bagi mereka.

Dalam hal ini, setiap aktivis dakwah harus sabar dan terus meningkatkan kesabarannya. Walaupun manusia lari dari dakwahnya, ia tidak boleh putus asa. Ambillah teladanvNabi Yunus as. Beliau diberi "pelajaran" oleh Allah dengan dilemparkan ke dalam perut ikan paus karena meninggalkan umatnya yang tidak mau beriman meskipun beliau sudah berdakwah siang malam. Alhamdulillah, setelah mendapat pelajaran dari peristiwa luar biasa-ditelan ikan paus-tersebut, beliau menyedari kesalahannya dan segera kembali pada jalan dakwah dengan sabar, sehingga pada akhirnya umatnya pun beriman. Tentangan eksternal lainnya adalah ejekan, hinaan atau cercaan. Tidak jarang seorang daie yang mengajak umat ini kembali kepada Islam justru dianggap sebagai aneh atau bahkan dituduh sesat dan menyesatkan, meski yang diserukan itu tidak sedikit pun keluar dari Al-Quran maupun As-Sunnah. Istilah-istilah seperti fundamentalis, ekstrem, garis keras, bahkan disejajarkan dengan teroris, adalah yang biasa dialamatkan kepada aktivis dakwah yang istiqamah menyeru manusia kembali ke jalan Allah. Itu semua adalah pasti. Jangankan kita yang manusia biasa, Rasulullah saw. yang ma'shum (terpelihara dari kesalahan dan dosa) saja selalu diejek sebagai orang gila, dituduh berdakwah demi kepentingan dunia, memecah-belah persatuan dan kesatuan bangsa, dan sebagainya.

Bukan sekadar hinaan, rintangan dakwah juga berupa embargo ekonomi, penganiayaan, penyiksaan bahkan pembunuhan dan pengusiran dari kampung halaman. Rasulullah saw. beserta seluruh keluarga bani Hasyim dan bani AI-Muthalib selama tiga tahun diboikot di lembah (syi'b/camp) Abi Thalib. Musuh-musuh dakwah itu membuat piagam perjanjian yang melarang semua elemen masyarakat untuk melakukan akad nikah, berteman, berkumpul, berbicara, bertamu, dan mengadakan transaksi apa pun dengan keluarga beliau (bani Hasyim dan bani AI-Muthalib) secara keseluruhan.

Allah swt. berfirman,
"Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir memikirkan daya upaya untuk menangkapmu, memenjarakanmu, membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah-lah sebaik-baik Pembalas tipu daya." (AI,Anfal: 30)

Kisah Bilal bin Rabah ra., Khabbab bin Al-Arts ra., keluarga Yasir ra., dan kisah lainnya dari generasi sahabat ra. adalah contoh-contoh nyata. Demikian pula yang dialami oleh generasi-generasi sebelumnya seperti bani Israel pada masa Nabi Musa as., generasi ashabul ukhdud, ashabul kahfi dan lainnya, mahupun generasi-generasi sesudahnya hingga hari Kiamat. Di zaman kiwari ini, kita dapat melihat dengan mata kasar, misalnya, bagaimana para aktivis dakwah dari jamaah Ikhwanul Muslimin di Mesir dianiaya dengan sangat tidak manusiawi oleh rejim Jamal Abdul Nasir; dipenjara hingga puluhan tahun, digiring untuk kerja paksa, dimasukkan dalam sel bersama anjing herder yang kelaparan, dicambuki dengan cemeti atau rotan, sehingga tidak sedikit dari mereka yang mati karena siksaan yang teramat kejam, dan sebagainya. Lebih teruk lagi, kekejian itu bukan saja ditimpakan kepada kalangan ikhwan tetapi juga kepada akhawat. Demikian juga ikhwan dan akhawat di Suriah, mereka dibantai tanpa peri kemanusiaan oleh rejim Ba'ats Annushairiyah pimpinan Hafidz Al-Asad.

Mengapa para aktivis dakwah mesti mengalami penyiksaan seperti itu? Bukankah mereka mengajak pada kebenaran, berjuang menegakkan keadilan dan menuntun manusia pada kesejahteraan hidup dunia dan akhirat? Itulah sunnatullah. Tidak seorang pun yang mengajak pada kebenaran dan berjuang menegakkan keadilan kecuali pasti menghadapi tentangan dari para ahli kebatilan dan pendukung-pendukung kezaliman.

Allah swt. berfirman,
"Dan begitulah, telah Kami tetapkan bagi tiap-tiap nabi, musuhmusuh dari para pendosa. Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong. " (Al-Furqan:31)

"Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji Yang mempunyai kerajaan
langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu." (Al-Buruj:8-9)

"Sebagai sunnatullah yang berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sebelum kamu, dan sekali-kali kamu tidak akan mendapati perubahan pada sunnatullah." (AI,Ahzab: 62)


Dapatkan Mesej Bergambar di Sini


Walaupun demikian, adalah sunnatullah juga bahawa pada akhirnya dakwahlah yang akan memperoleh kemenangan. Kebenaran dan keadilan akan tegak kokoh di muka bumi. Allah swt. berfirman,
"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan beramal shalih bahwa Dia benar-benar akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nyauntuk mereka, dan Diabenar-benarakanmenukar (keadaan) mereka, sesudah dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka menyembah-Ku dan tidak menyekutukan Aku dengan sesuatu apa pun. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik." (An-Nur:55)

Itulah janji Allah dan janji-janji Allah pasti dipenuhi-Nya. Allah swt. berfirman,
"Tetapi kepunyaan Allah lah segala urusan itu. Tidakkah rang-orang yang beriman tahu, seandainya Allah menghendaki Dia akan memberi petunjuk kepada manusia semuanya. Dan orangorang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka, sehingga datanglah janji Allah. Sesungguhnya, Allah tidak pernah menyalahi janji-Nya." (Ar-Ra'd: 31)
Mahasuci Allah. Segala puji hanya bagi-Nya.




~11 Disiplin Bentuk Pendakwah Berjaya~




ORANG yang pada mulanya berminat memahami isu agama dan cuba untuk mendalaminya, akhirnya lari dan menyepikan diri kerana sikap ditunjukkan 'pendakwah awam' atau umat Islam yang tidak bijak membicarakan ilmu agama. Nabi Muhammad SAW pernah berpesan kepada Muaz bin Jabal dengan sabda yang bermaksud:
"Permudahkanlah orang dan janganlah kamu menyusahkan mereka! Gembirakanlah orang dan janganlah membuatkan mereka lari daripada kamu." (Hadis riwayat al-Bukhari)


Konsep 'memberi kemudahan' serta 'menggembirakan' orang yang ingin mengenali Islam disuruh Nabi SAW kepada umatnya. Tidaklah menghairankan dalam masa kurang daripada 100 tahun risalah dakwah dibawa Nabi Muhammad SAW, suara azan sudah berkumandang di benua timur dan barat, melepasi batas budaya dan sempadan negara.

Bagi menghasilkan natijah terbaik pada diri individu Muslim yang ingin menjadikan dirinya sebagai seorang pendakwah berjaya, ada beberapa faktor penting yang perlu dikaji antaranya:

1. Memperbaiki diri dan mendidik jiwa ke arah iman dan takwa. Pendakwah akan menyeru orang lain menerusi perbuatannya terlebih dulu sebelum dinilai melalui tutur perkataannya. Perkara itu ditekankan kerana ia senjata paling penting daripada sudut penilaian manusia di persekitarannya.

2. Pendakwah juga perlu membersihkan jiwanya daripada sifat mazmumah seperti angkuh, sombong, ego, penakut, bakhil, malas dan pendendam. Jika tidak dikikis segala ia pasti mengundang keburukan pada wajah Islam itu sendiri yang menjadi cerminan pada pendakwah berkenaan.


~BIODATA RASULULLAH S.A.W~






Dapatkan Mesej Bergambar di Sini



Dipersilakan...


Nama penuh: Muhammad bin 'Abdullah bin 'Abdul Muttalib bin Hashim

Nama bapa: 'Abdullah bin 'Abdul Muttalib bin Hashim

Nama ibu: Aminah binti Wahab bin 'Abdul Manaf

Nama datuk: Syaibah bin Hâsyim dikenal dengan nama 'Abdul Muttalib

Bapa-bapa saudara:
• Al-Harith bin Abdul Muthalib
• Muqawwam bin Abdul Muthalib
• Zubair bin Abdul Muthalib
• Hamzah bin Abdul Muthalib
• Al-Abbas bin Abdul Muthalib
• Abu Thalib bin Abdul Muthalib
• Abu Lahab bin Abdul Muthalib
• Abdul Kaabah bin Abdul Muthalib
• Hijl bin Abdul Muthalib
• Dzirar bin Abdul Muthalib
• Ghaidaq bin Abdul Muthalib

Nama Ibu susuan Rasulullah:
- Ibu susuan pertama Thuwaibah (hamba perempuan Abu Lahab)
- Ibu susuan kedua Halimah binti Abu Zuaib As-Sa‘diah (lebih dikenali Halimah As-Sa‘diah. Suaminya bernama Abu Kabsyah)

Nama isteri pertama dan usia baginda berkahwin:
Khadijah binti Khuwailid Al-Asadiyah pada 25 tahun

Nama isteri-isteri Rasulullah:
1. Khadijah bt. Khuwailid al-Asadiyah r.a
2. Saudah bt. Zam'ah al-Amiriyah al Quraisiyah r.a
3. Aisyah bt Abi Bakr r.a (anak Saidina Abu Bakar)
4. Hafsah bt. Umar bin al-Khattab r.a (anak Saidina 'Umar bin Al-Khattab
5. Ummu Salamah Hindun bt. Abi Umaiyah r.a (digelar Ummi Salamah)
6. Ummu Habibah Ramlah bt. Abi sufian r.a
7. Juwairiyah ( Barrah ) bt. Harith
8. Safiyah bt. Huyay
9. Zainab bt. Jansyin
10. Asma' bt. al-Nu'man al-Kindiyah
11. Umrah bt. Yazid al-Kilabiyah
12. Zainab bin Khuzaimah (digelar 'Ummu Al-Masakin'; Ibu Orang Miskin)

Nama anak-anak Rasulullah:
1. Qasim
2. Abdullah
3. Ibrahim
4. Zainab
5. Ruqaiyah
6. Ummi Kalthum
7. Fatimah Al-Zahra'
8. Halah bin Hind bin Habbasy bin Zurarah al-Tamimi (anak kepada Saidatina Khadijah bersama Hind bin Habbasy. Ketika berkahwin dengan Rasulullah, Khadijah adalah seorang janda).[anak tiri Rasulullah]

Pengalaman bekerja Rasulullah:
• Semenjak kecil lagi, baginda telah menternak kambing dan berniaga membantu bapa saudaranya.
• Abu Talib telah membawa baginda ke Syam (Syria) bagi membantunya berniaga.
• Apabila baginda telah agak dewasa, baginda telah mula menjalankan perdagangan baginda sendiri secara kecil-kecilan dan menjalankan perniagaan dengan menggunakan modal orang lain kerana baginda sedar bapa saudaranya bukanlah terdiri daripada orang yang berada dan beliau terpaksa menyara sebuah keluarga yang besar.
• Ketika baginda berusia dua puluh lima tahun, baginda telah pergi ke Syam untuk kali kedua bagi menjalankan perniagaan Sayidatina Khadijah. Bukti Rasulullah adalah seorang ketua keluarga yang patut dicontohi: Rasulullah merupakan seorang yang pengasih.
• Sebagai seorang suami, baginda sering membantu isteri menjalankan urusan rumah seperti memasak, menampal pakaian yang koyak, memmbersih rumah dan menjaga anak.
• Sebagai seorang bapa, baginda memberi pendidikan agama yang secukupnya dan menjadi seorang contoh yang baik kepada anak-anak.

Gelaran Al-Amin: Baginda merupakan seorang yang jujur, amanah dan budi pekerti. Perkataan dan perbuatan baginda sentiasa dipercayai sehingga baginda diberi gelaran al-Amin oleh masyarakat Arab Quraisy.

Sifat-sifat terpuji Rasulullah:
- Berkata benar (siddiq)
- Boleh dipercayai (amanah)
- Penyampai ajaran Islam (tabliq)
- Bijaksana (fatanah)

kepimpinan Rasulullah disebalik peristiwa banjir di kota Mekah ketika Rasulullah berusia 35thn: Kota Mekah telah dilanda banjir kilat yang menyebabkan dinding kaabah pecah dan runtuh. Kaum Quraisy telah membina semula bahagian yang runtuh. Kemudian timbul perbalahan antara ketua kaum Quraisy yang berebut untuk mengangkat dan meletakkan Hajar Aswad di penjuru sebelah timur bangunan kaabah. Perbalahan ini hampir menimbulkan peperangan. Rasulullah telah menjadi hakim bagi menentukan kedudukan Hajar Aswad dan secara tidak langsung Rasulullah telah meleraikan perbalahan antara ketua kaum Quraisy.

Peristiwa Rasulullah menerima wahyu:
- Wahyu pertama diterima Rasulullah pada hari isnin, 17 ramadan (6 ogos 610 M)
- Ketika itu Rasulullah berusia 40 tahun.
- Wahyu tersebut diterima baginda di Gua Hirak al-Jabar Nur.
- Surah al-Alaq, wahyu pertama yang berbunyi "Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dengan nama Tuhanmu yang Amat Pemurah, yang mengajar manusia dengan perantaraan (menulis, membaca). Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya."
- Wahyu kedua, surah al-Muddasir (ayat 1-7) diturunkan di Bukit Nur berhampiran Makkah.
- Wahyu kedua ini menandakan pelantikan baginda sebagai Rasulullah atau pesuruh Allah.

Tokoh-tokoh awal memeluk Islam:
• Zaid bin Harithah (anak angkat nabi)
• Ali bin Abu Talib (sepupu nabi berusia 10 tahun)
• Khadijah binti Khuwailid (isteri nabi dan orang pertama memeluk Islam)
• Abu Bakar al-Siddiq (sahabat karib)

wahyu pertama yg diterima oleh Rasulullah, masanya dan usia Rasulullah:
- Wahyu pertama iaitu dari surah al-Alaq yang berbunyi "Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dengan nama Tuhanmu yang Amat Pemurah, yang mengajar manusia dengan perantaraan (menulis, membaca). Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya."
- pada hari isnin, 17 ramadan (6 ogos 610 M)
- Berusia 40 tahun.

Keadaan Rasulullah ketika menerima wahyu:
Pada suatu ketika sedang dia bertafakkur itu datanglah malaikat kepadanya, lalu berkata: "Bacalah!" (Iqra'). Lalu Rasulullah menjawab; "Saya tidak pandai membaca." Lalu kata beliau: "Maka diambilnya aku dan dipagutnya sampai habis tenagaku. Kemudian dilepaskan¬nya aku dan dia berkata pula: "Bacalah!" Tetapi aku jawab: "Aku tidak pandai membaca!" Lalu dipagutnya pula aku sampai habis pula tenagaku.

Kemudian ditegakkannya aku baik-baik dan dikatakannya pula: "Bacalah!", yang ketiga kali, lalu berkatalah malaikat itu: "Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menjadikan," sampai kepada ujung "Yang telah mengajarkan kepada manusia apa yang dia tidak tahu." Setelah sampai pada ujung ayat tersebut malaikat itu pun ghaiblah dan tinggallah beliau seorang diri dalam rasa kengerian.

Lalu beliau segera pulang kepada isterinya Khadijah. Lalu beliau berkata: "Selimutilah aku, selimutilah aku." (Zammiluuni, zammiluuni). Maka segeralah orang-orang dalam rumah menyelimuti beliau, sampai rasa dingin itu hilang. Lalu berkatalah beliau kepada Khadijah: "Hai Khadijah, apakah yang telah terjadi atas diriku ini?" Lalu beliau ceriterakan segala yang telah beliau alami itu, akhirnya beliau berkata: "Aku ngeri atas diriku."


Saturday, February 27, 2010

~6 Perkara Yang Mendorong Seseorang Itu Mengumpat Menurut Imam Al Ghazali~

SIKAP suka mengumpat atau menceritakan keburukan dan kelemahan orang lain
dilaknat oleh Allah.
Mereka yang bersikap demikian, secara disedari atau tidak mencela dan
mengaibkan orang lain yang hukumnya berdosa besar.
Ketika berbual, sama ada secara sengaja atau tidak, mereka menceritakan
keburukan ketuanya, jiran, saudara mara dan orang yang lalu di hadapan
mereka.
Firman Allah bermaksud: "Hai orang yang beriman, kalau datang kepada kamu
orang jahat membawa berita, periksalah dengan saksama supaya kamu jangan
sampai mencelakakan suatu kaum yang tidak diketahui, kemudian kamu menyesal
di atas perbuatanmu itu." (Surah al-Hujurat, ayat 6)
Sabda Rasulullah saw seperti yang diriwayatkan oleh Al-Thabrani daripada
Abu Hurairah bermaksud: "Yang paling dikasihi Allah antara kamu ialah mereka
yang baik akhlaknya, merendah diri, suka pada orang dan disukai orang. Dan
yang paling dimarahi Allah ialah mereka yang membawa fitnah, mencerai
beraikan di antara sesama saudara dan mencaci orang yang tidak bersalah."
Imam al-Ghazali ada menyebut enam perkara yang mendorong seseorang itu
mengumpat;
1. Ingin memuaskan hati disebabkan kemarahan yang memuncak hingga sanggup
mendedahkan keaiban dan kesalahan orang lain. Jika kemarahan tidak dapat
dikawal, ia boleh menimbulkan hasad dan dendam;
2. Suka mendengar dan mengikuti perbualan orang yang menyerang peribadi
dan kehormatan seseorang;
3. Mahu bersaing dan menonjolkan diri dengan menganggap orang lain bodoh
dan rendah;
4. Disebabkan dengki, dia iri hati dengan orang lain yang lebih beruntung
dan berjaya, seperti dinaikkan gaji dan pangkat;
5. Bergurau dan suka melawak untuk mencela dan mengatakan kelemahan dan
kecacatan hingga mengaibkan orang lain; dan
6. Sikap suka mengejek dan mencela disebabkan rasa bongkak dan sombong
kerana memandang rendah orang lain.
Sehubungan itu, Imam al-Ghazali menyarankan lima perkara untuk
menghentikan sikap suka mengumpat, antaranya ialah;
Harus sedar dan insaf mengumpat dan memburuk-burukkan orang lain itu
berdosa besar;
#Sedar dan membetulkan kesalahan sendiri daripada menyalahkan orang; dan
#Hendaklah berasa malu apabila memperli kecacatan orang lain. Ini kerana
mencela kecacatan fizikal seolah-olah mencerca Tuhan yang menciptakan.

Thursday, February 25, 2010

~CINTA UNTUK SIAPA ?~

Menemui hati-hati yang dirahmati dan dilimpahi kasih Ilahi,

Perlu difahami dan dihayati satu hakikat yang dicurahkan oleh Rabbul 'Izzati ke seluruh pelusuk alam dan buat semua insan...

Tahukah anda?
Sesungguhnya CINTA adalah limpahan kasih-sayang YANG MAHA PENCIPTA kepada semua makhluk CIPTAANNYA. Ini juga bermakna CINTA merupakan anugerah ALLAH kepada hambaNya (MANUSIA). Sepertimana maksud firman Allah dalam surah Thaha ayat 39:
"Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih-sayang yang datang daripadaKu dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasanKu."

Ayat di atas menjelaskan peristiwa ketika Allah mengilhamkan kepada ibu Nabi Musa a.s supaya memasukkan bayinya ke dalam peti dan dihanyutkan di Sungai Nil. Sehingga sampai ke istana Firaun yang sangat zalim yang dikenali sebagai musuh Allah. Dia juga merupakan musuh Nabi Musa a.s. Diiringi dan disusuli kakaknya yang menunjukkan kepada Asiyah isteri Firaun, siapa yang sesuai menyusui bayi Musa. Semuanya telah Allah atur begitu rupa menepati maslahat yang baik di sisiNya. Musa diasuh oleh Asiyah yang beriman, di istana Firaun. Dapat pula disusui oleh ibu kandungnya. Begitu besar rahmat Allah. Mengatur begitu rapi demi satu perencanaan besar, untuk tanggungjawab nubuwwah. Bakal menyebar kebenaran bagi seluruh alam...!

Hakikat Lebih Awal.
Pada penciptaan manusia yang pertama lagi; iaitu NABI ADAM a.s, terbukti CINTA itu FITRAH INSAN. Dikatakan demikian kerana pada mulanya Adam yang Allah ciptakan dan lantik sebagai khalifah Allah hidup sendirian. Ketika itu belum ada manusia lain selain dirinya. Dia berasa kesunyian dalam kemewahan hidup di syurga. Kemudian Allah menciptakan pula Hawa menjadi teman dan isteri bagi Adam. Mereka menjadi penghuni syurga buat beberapa ketika. Disebabkan mereka terpedaya dengan hasutan iblis, maka mereka dicampakkan ke dalam kehidupan dunia!. Begitulah bermulanya hidup manusia di mayapada ini. Namun mesti difahami, semuanya telah Allah atur sebaik-baiknya di dalam dakapan KASIH ILAHI lagi HAKIKI. Supaya dengannya kita sentiasa terpimpin ke arah kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat kelak.

Sudah Jatuh Cinta?
Sering kita mendengar orang berkata; TAK KENAL MAKA TAK CINTA.
Kini apabila kita ketahui bahawa Allah Yang Maha Bijaksana mencipta dan mengatur seluruh isi alam ini untuk memudahkan kita menikmati limpahan kasihNya, akan terbukalah jalan untuk kita kenali dengan lebih dekat CINTA ILAHI.

Seterusnya kita menyedari pula, segala apa yang kita hajatkan datang dari sisiNya. Bukan dari yang selainNya. Maka akan terbitlah rasa kagum kita terhadap kebesaran dan keagungan Allah .

Cinta Berputik.
Paduan antara KENAL dan KAGUM inilah yang menerbitkan sepenuh rasa CINTA TULUS seorang hamba seiring ketaatan dan kepatuhan kepada Al-Khaliq. Kemudian kesetiaan cinta akan terbukti dengan melaksanakan amal soleh. Inilah cinta hakiki di atas landasan kasih Ilahi. Inilah juga piawaian cinta untuk seisi alam. Semuanya dipersembahkan kepada Rabbul 'Izzati.

Kata Ibnu Qayyim:
"Tidak ada yang lebih disukai oleh hati, melainkan suka kepada penciptanya kerana;
* Penciptanya memelihara dan mentadbir segala urusannya.
* Penciptanya memberi rezeki.
* Penciptanya menghidup dan mematikan.

Cinta kepada Allah adalah;
* Kebahagiaan semua jiwa.
* Makanan setiap hati.
* Cahaya bagi akal dan mata."

Ibnu Taimiyah berkata:
"Hati manusia secara tabie berhajat kepada Allah kerana dua sebab;
1. Untuk beribadat.
2. Untuk berserah diri.
Hati tidak akan jadi baik, bersih, gembira dan tenang selagi belum sepenuhnya beribadah menyembah Allah dan sepenuh cintanya berpaut kepada Allah." Inilah cinta pertama dan utama.

Bentuk Sebenar Cinta Ilahi.
Imam Fakhru Al-Razi berkata:
"Orang yang memahami faedah beribadat, akan senang mengerjakan ibadat dan akan merasa berat untuk mementingkan orang lain selain Allah."

Rabiatul Adawiyah berkata:
"Kekasihku tiada yang menandingiNya,
Sekali pun Kekasih ku tidak dapat kupandang dengan mata,
Namun Dia tetap hadir bersama degup jantungku.
Dia akan kusanjung dan kupuja, sekali pun ada orang lain di sampingku.
Jiwa dan hatiku kupersembahkan hanya untukNya."

Begitulah bentuk cinta Ilahi yang menguasai hati;
Laksana pohon dalam hati.
Akarnya adalah kepatuhan kepada Allah.
Dahannya ialah makrifatullah.
Rantingnya takutkan kemurkaan Allah.
Daunnya adalah malu kepada Allah.
Buahnya ialah istiqomah.
Air dan bajanya adalah zikirullah.

Bukti dan Pengorbanan Cinta.
apabila tautan jiwa si pencinta terhadap yang dicintainya telah begitu teguh dan padu, dia sanggup berkorban dan mengorbankan apa saja yang dimilikinya. Semata-mata memuaskan penerimaan yang dicintainya. Dengan itu, dirinya sendiri juga akan merasa bahagia.

Begitulah juga halnya bagi setiap diri yang teguh cinta dan kepatuhannya kepada Allah, dia akan sedaya-upaya berusaha memenuhi perintah Allah juga menjauhi laranganNya.

Dia tidak akan ragu-ragu dalam memenuhi arahan-arahan berikut;
* Katakanlah(​Muhammad)​:​ Jika kamu mengasihi Allah, ikutlah aku nescaya Allah akan mengasihi kamu dan mengampuni dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS Ali-Imran:31)

* "Tidak beriman seseorang dari kamu, sebelum Allah dan RasulNya lebih dicintai daripada orang lain."(HR Bukhari dan Muslim)

Anugerah Kualiti Cinta.
Semestinya kita yakini Allah berlaku benar di dalam janjiNya. Telah sedaya upaya kita buktikan ikrar cinta terhadap Allah. Iaitu apa jua bentuk ibadah kita adalah semata-mata untuk beroleh redha Allah.
Maka layaklah kita beroleh anugerah dan pengiktirafan;
* "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beraaml soleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam hati mereka rasa kasih dan sayang."(QS Maryam: 96)

* Dari Abu Hurairah r.a Rasulullah SAW bersabda; "Jika Allah mencintai seseorang hamba, maka Jibril berseru..., Sesungguhnya Allah mencintai Fulan. maka cintailah dia! Maka seluruh penghuni langit mencintainya. Kemudian dijadikan orang-orang yang menyambut cintanya di bumi."

* Rasulullah juga bersabda; "Allah berfirman pada hari qiamat, 'Manakah orang-orang yang saling mencintai dengan keagunganKu? Pada hari ini Aku melindungi mereka di bawah lindunganKu, pada hari yang tiada lindungan selain perlindunganKu.​"​(​HR Muslim)

Begitulah hasilnya yang akan kita perolehi sekiranya kecintaan kepada Allah kita beri keutamaan. Segala kebaikan akan mewarnai jalan hidup kita. Semua tahap cinta yang kita lalui, akan mampu kita realisasikan praktiknya dalam batasan yang telah Allah tetapkan...

* Cinta ayah-ibu terhadap anak-anak akan berlangsung sepertimana yang Allah pertanggungjawa​bkan.​

* Cinta anak terhadap ayah-ibu juga dalam rangka ketaatan yang Allah tetapkan.

* Cinta suami-isteri tertakluk kepada peraturan-​peraturan dan hak yang Allah perintahkan.

* Cinta sesama saudara muslim semestinya demi mendapatkan keredhaan Allah.

Doa:
"Ya ALLah! Sesungguhnya aku memohon kepadaMU cintaMu dan cinta orang-orang yang mencintaiMu. Juga cinta yang dapat mendekatkan aku kepada cintaMu.

Ya Allah! Jadikan aku mencintaiMu dengan sepenuh hatiku dan redha kepadaMu dalam segala usahaku.

Ya Allah! Setiap apa ayng aku perolehi dari apa yang aku cintai, jadikanlah ia kekuatan yang Engkau redhai. Setiap yang Engkau singkirkan daku dari apa yang aku cintai, jadikanlah ketenangan dalam hatiku.

Ya Allah! Jadikanlah cinta ku kepadaMu menguasai seluruh yang aku cintai.
Dengarlah permohonan hambaMu wahai Yang Maha Mendengar. Amiin."

Thursday, February 18, 2010

~Baju Ketat~

Bicara tentang batasan aurat,
Terutama sekali bagi muslimat,
Kerana kelihatan dalam masyarakat,
Dibuangnya Islam, dijauhinya adat.

Yang kelihatan pada remaja,
Batas aurat tidak dikira,
Pakaian ditubuh tidak terjaga,
Tanpa malu, silu dan dosa.

Tudung nipis terbayang rambut,
Rambut terjulur kerana singkat,
Kepala dililit kepala kain diikat,
Jambul tertonjol terasa hebat.

Baju t-shirt menjadi kegemaran,
Nampak ketiak tiada lengan,
Bulu roma jelas kelihatan,
Parut dan tahi lalat bertebaran.

Baju sendat tertonjol dada,
Sepatutnya dilabuh berlaku tiada,
Lelaki melihat menempa dosa,
Menjadi fasiq mudah sahaja.

Seluar ketat menjadi pakaian,
Tiada beza lelaki perempuan,
Terutama jeans pudar jadi pilihan,
Sarung nangka pun boleh tahan.

Apa jadi dengan remaja,
Namanya Islam, iman tiada,
Perintah Tuhan buat bersahaja,
Larangan Allah buat selamba.

Allah murka Syaitan menang,
‘Perempuan berpakaian tapi bertelanjang’
Ada baju tak cukup benang,
Dihumban ke neraka sangatlah malang.

Saya hanya boleh menasihat,
Kepada remaja dan muslimat,
Ikut Islam akan selamat
Ikut syaitan akan dilaknat.

Friday, February 12, 2010

~Sambutan Hari Kekasih (Valentine Day) Salah Di Sisi Islam~



Oleh Mohd Hariri Bin Haji Mohamad Daud, (Panel Penulis Luar Jakim), Majalah Cahaya keluaran Februari 2009.

Tarikh 14 Februari setiap tahun menjadi tarikh yang ditunggu-​tunggu oleh pasangan bercinta sebagai hari untuk memperingati dan meluahkan cinta sejati kononnya kepada pasangan masing-masing. Amalan songsang seperti ini sudah menjadi taqwim tahunan remaja dan semestinya penganut agama Kristian. Lantas, remaja Islam di Malaysia diseru agar tidak terpengaruh dan meraikan sambutan Hari Kekasih (Valentine Day) yang disambut pada 14 Februari ini. Sudah jelas bahawa sambutan Hari Kekasih ini salah di sisi agama Islam dan bercanggah dengan aqidah Islam itu sendiri.

Perbuatan untuk meraikan sambutan Hari Kekasih amat bercanggah dengan syara’ kerana ianya mempunyai unsur kepercayaan agama kristian dan menjurus kepada kebobrokan akhlak. Selain itu, sambutan yang tidak berfaedah ini dirai dengan penuh adegan maksiat seperti berdua-duaan, berpeleseran hatta membawa kepada perbuatan seks bebas. Hari yang dianggap “hari berbulan madu” bagi remaja sehingga mereka sanggup menggadaikan maruah demi membuktikan cinta mereka kepada kekasih masing-masing. Sesungguhnya budaya meniru budaya barat yang terpesong dan mencampurkan perkara aqidah mengikut kepercayaan agama lain adalah salah di sisi Islam.

Dalam erti lain umat Islam tidak boleh mencampuradukka​n akidah dan peribadatan agama Islam dengan akidah dan peribadatan agama lain. Ini berdasarkan firman Allah SWT yang bermaksud “Katakanlah (wahai Muhammad): Hai orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah dan kamu tidak mahu menyembah (Allah) apa yang aku sembah. Dan aku tidak akan beribadat secara kamu beribadat dan kamu pula tidak mahu beribadat secara aku beribadat. Bagi kamu agama kamu, dan bagi aku agamaku.” (Surah Al-Kafirun ayat 1-6 )

Nabi SAW dengan tegas telah melarang kita daripada meniru budaya Yahudi dan Nasrani dalam hadis yang bermaksud, “Nescaya kamu akan turut jejak langkah mereka (Yahudi dan Nasrani ) sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta sehingga kamu akan turuti mereka walaupun mereka masuk ke dalam lubang biawak. Lantaran sahabat bertanya: Adakah mereka itu Yahudi dan Nasrani? Baginda menjawab: Siapa lagi kalau bukan mereka.”




Keputusan Jawatankuasa Fatwa Negeri Selangor telah menyatakan melalui Mesyuarat Jawatankuasa Fatwa Negeri Selangor Kali 1/2006 pada 21 Februari 2006 telah memutuskan bahawa amalan merayakan Valentine’s Day tidak pernah dianjurkan oleh Islam. Roh perayaan tersebut mempunyai unsur-unsur Kristian dan amalannya yang bercampur dengan perbuatan maksiat adalah bercanggah dan dilarang oleh Islam”.

Para mufti di Malaysia juga telah bersepakat untuk memutuskan bahawa amalan meraikan Hari Kekasih tidak digalakkan oleh agama Islam seperti yang dibincangkan dalam Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Majlis Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Agama Islam Malaysia kali ke-71 yang bersidang pada 22 hingga 24 November 2005 yang lalu.

Melalui sejarah Valentine, jelas ianya dapat disabitkan dengan budaya Kristian yang menyatakan Valentine’s Day bermula dari kematian tragis seorang Paderi yang bernama St. Valentine yang dibunuh oleh seorang Raja Romawi yang bernama Raja Claudius pada II (268-270M ).

Bermula dari kisah ini mereka telah mengabdikan St. Valentine sebagai seorang tokoh yang hebat dalam mempertahankan cinta dan dianggap sebagai simbol ketabahan, keberanian dan kepasrahan dalam menghadapi cubaan hidup. Maka, 14 Februari dijadikan sebagai hari perlambangan dalam memperingati kematian St.Valentine dan dianggap sebagai upacara keagamaan masyarakat Kristian.

Justeru, Islam menyeru seluruh umat Islam khususnya remaja-remaja Islam agar tidak meraikan sambutan Hari Kekasih dan menghindari perkara-​perkara yang boleh membawa kepada sikap untuk meraikannya. Berikut adalah sikap-sikap yang perlu dihindari oleh remaja Islam pada Hari Kekasih :

1- Sikap untuk keluar berfoya-foya sesama kekasih dan mengadakan majlis untuk menyambut hari tersebut dengan mengadakan parti atau majlis seumpamanya.

2- Menghantar kad-kad ucapan yang tertera kata-kata Valentine Day dan pada kad-kad tersebut terdapat gambar pari-pari yang mempunyai dua sayap yang menjadi simbol kepercayaan agama kristian.

3- Menulis ucapan kata-kata cinta di dalam kad yang diutuskan dengan menyatakan keinginan cinta kepada kekasih kerana ianya juga sikap mempamerkan rasa gembira dan percaya akan hari tersebut.

4- Kebanyakan negara-negara Barat, parti-parti diadakan sempena hari tersebut disambut dengan pesta seks dan tari-menari. Kebanyakan mereka menghantar hadiah-hadiah seperti bunga ros dan sekotak coklat kepada sesiapa yang mereka cintai.

5- Menghantar pesanan ringkas (SMS) kepada kekasih untuk meluahkan rasa sayang bersempena dengan Hari memperingati kekasih (Valentine Day) sebagai tanda percaya akan “keajaiban” hari tersebut.

Namun, segelintir pihak sanggup menaja majlis sambutan Hari Kekasih dan menjual barang-barang cenderahati untuk mempengaruhi remaja memperingati hari tersebut sehingga mengheret ke lembah makisat. Ironinya, remaja menganggap sambutan ini sebagai simbol kecintaan dan kasih sayang yang tidak berbelah bagi kepada pasangan. Islam melarang umatnya berlebih-​lebihan dalam bercinta sehinggakan sanggup menyerahkan maruah kepada pasangan yang dicintainya.

Sesungguhnya perbuatan ini juga bercanggah dengan syara’ kerana ianya juga menyumbang berlakunya perkara maksiat dan zina. Firman-Nya:“ Dan janganlah kamu menghampiri zina, sesungguhnya zina itu adalah satu perbuatan yang keji dan satu jalan yang membawa kepada kerosakan.” (Surah Al-Isra :32)

Ibu bapa juga perlu memainkan peranan penting untuk mengawasi anak-anak mereka agar tidak meraikan hari tersebut dan melalukan perkara-​perkara yang tidak mendatangkan manfaat. Selain itu, pihak pentadbiran sekolah dan institusi pengajian tinggi juga agar lebih proaktif untuk memastikan tidak wujud program sambutan kepada hari tersebut serta aktiviti bertukar-tukar bunga ros, kad-kad ucapan dan sebagainya.




Secara kesimpulannya, Islam memberi garis panduan yang jelas dan membenarkan hubungan kasih sayang sesama manusia dalam kerangka syariat. Hubungan kasih sayang kepada ibu bapa, sahabat dan sesama masyarakat boleh dilakukan setiap hari dan tujuh golongan manusia yang akan mendapat lindungan `Arasy ialah salah satunya mereka yang berkasih sayang ( bertemu dan berpisah ) kerana Allah SWT.
Firman Allah SWT : 'Wahai kaumku! Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (untuk sementara waktu sahaja) dan sesungguhnya hari akhirat itulah sahaja negeri yang kekal.' (Surah ai-Ghaafir : 39)



Sumber : http:​/​/​www.​islam.​gov.​my/​