Monday, October 25, 2010

~ Tanggung Jawab Penuntut Ilmu (3): Ikhlas dan Niat yang Baik ~

Oleh: Asy Syaikh Abdul Aziz bin Baaz

Orang yang tidak memiliki ilmu tidaklah dianggap sebagai seorang ulama. Orang yang seperti ini tidak akan memberi manfaat kepada manusia, baik dalam permasalahan dakwah atau perkara-perkara dunia. Yang saya maksud di sini adalah manfaat yang konkrit dan hasil yang nyata, walaupun terkadang orang yang tidak berilmu bisa memberi manfaat kepada sebagian manusia dengan nasehat yang dia ketahui, atau dengan suatu permasalahan yang dia hafal, atau dengan bantuan materi yang dia berikan kepada orang lain.

Akan tetapi manfaat yang konkrit akan muncul dari kejujuran, keikhlasan, banyaknya ilmu, kemapanan ilmu serta kesabaran dari seorang penuntut ilmu.

Ada suatu permasalahan yang penting, yaitu tanggung jawab yang ada pada seorang penuntut ilmu dari sisi menyampaikan ilmu dan mengajarkannya kepada manusia. Karena sesungguhnya para ulama adalah pengganti dan pewaris para rasul. Kedudukan para rasul tidaklah tersamar lagi, merekalah pembimbing dan pemberi petunjuk bagi umat. Mereka adalah pengantar umat menuju kepada kebahagiaan dan keselamatan. Sehingga dalam hal ini, para ulama menempati kedudukan para rasul dalam menyampaikan ilmu syar’i.

Kerasulan telah ditutup oleh Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga tugas yang tersisa saat ini adalah menyampaikan syariat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, berdakwah, menjelaskan dan menyebarkannya kepada manusia. Semua itu tidak ada yang lebih pantas untuk melakukannya kecuali para ulama. Karena Allah subhanahu wata’ala telah memberi mereka keahlian untuk berdakwah, membimbing umat dengan perkataan, perbuatan dan perjalanan hidup mereka yang zhahir dan batin.

Oleh karena itu, kewajiban mereka sangatlah besar. Dan mereka harus berhati-hati, karena umat berada dalam tanggungan mereka. Selain itu umat juga sangat membutuhkan penyampaian dan penjelasan ulama dengan berbagai sarananya.

Di zaman ini sarana-sarana untuk melakukan dakwah sangatlah banyak. Di antaranya adalah media massa yang berbentuk bacaan, maupun media audio/visual. Sarana-sarana tersebut mempunyai pengaruh yang besar dalam menyesatkan manusia maupun memberikan petunjuk kepada mereka. Begitu pula khutbah-khutbah di hari Jum’at, hari raya, acara-acara tertentu, seminar, perayaan-perayaan apa saja (yang syar’i), terbitan-terbitan baik berupa buku yang besar ataupun kecil. Sarana-sarana tersebut mempunyai pengaruh yang besar terhadap dakwah. Alhamdullilah, sarana-sarana dakwah yang ada pada zaman ini begitu mudah dan banyak.

Namun, yang menjadi musibah adalah lemahnya semangat seorang penuntut ilmu serta berpaling dan lalainya dia dari menuntut ilmu. Inilah musibah yang sangat besar. Allah subhanahu wata’ala berfirman,

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” (Fushshilat: 33)

Di alam semesta ini, tidak ada seorang pun yang lebih baik ucapannya daripada mereka, terutama para rasul dan nabi, kemudian para ulama yang setelah mereka.

Setiap kali ilmu bertambah banyak, dan rasa taqwa, takut serta ikhlas kepada Allah subhanahu wata’ala bertambah sempurna, maka manfaat yang diperoleh akan bertambah banyak. Sehingga dakwahnya kepada ajaran Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam bertambah sempurna. Begitu juga sebaliknya. Setiap kali rasa taqwa, ilmu dan takut kepada Allah subhanahu wata’ala melemah atau sedikit, di sisi lain dia diuji dengan kesibukan-kesibukan dan syahwat dunia maka akan sedikit pula ilmu dan kebaikannya.

Allah subhanahu wata’ala berfirman,

“Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata.” (Yusuf: 108)

Allah subhanahu wata’ala menjelaskan bahwa misi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah berdakwah kepada Allah subhanahu wata’ala dengan dilandasi ilmu. Dan Allah subhanahu wata’ala memerintahkan beliau untuk menyampaikan hal tersebut kepada umatnya. “قُلْ ” yaitu katakanlah (wahai Rasul kepada manusia), هَذِهِ سَبِيْلِي (inilah jalan (agama) ku) yaitu syariat dan jalan yang aku berada di atasnya, berupa ucapan atau perbuatan. Itulah jalanku dan manhajku menuju kepada Allah subhanahu wata’ala.

Oleh karena itu, seorang yang berilmu wajib untuk berjalan di atas jalan yang telah ditempuh oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ini, yaitu dakwah kepada Allah subhanahu wata’ala dengan berlandaskan ilmu. Itulah jalan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dan juga jalan orang-orang yang mengikutinya.

Sehingga seorang hamba tidak akan menjadi pengikut Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam yang sejati dan sempurna kecuali apabila dia menelusuri jalannya. Maka barangsiapa yang berdakwah kepada Allah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan berlandaskan ilmu, berlepas diri dari syirik dan istiqamah di atas kebenaran, maka dia adalah pengikut beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Oleh karena itu Allah shallallahu ‘alaihi wasallam berfirman setelahnya,

“Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (Yusuf: 108)

Seorang dai yang mengajak kepada Allah subhanahu wata’ala lagi jujur dalam berdakwah, dialah orang yang mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di atas ilmu. Bukannya dengan kedustaan atau perkataan tentang Allah tanpa ilmu, Maha tinggi Allah dari segala hal yang tidak layak bagi-Nya. Bersamaan dengan itu dia mensifati Allah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sifat-sifat kesempurnaan, mensucikan-Nya dari penyerupaan dengan makhluk, mentauhidkan-Nya, ikhlas kepada-Nya dan berlepas diri dari syirik beserta pelakunya.
Seorang dai yang mengajak kepada Allah subhanahu wata’ala wajib untuk mentauhidkan Allah subhanahu wata’ala dan beristiqamah di atas syariat-Nya. Di samping itu, dia mensucikan Allah subhanahu wata’ala dari menyerupakan-Nya dengan makhluk, mensifati-Nya dengan sifat yang ditetapkan oleh Dia sendiri atau oleh Rasul-Nya, mensucikan-Nya dari sifat-sifat kekurangan dan kelemahan, menetapkan Asma`ul Husna dan sifat-sifat-Nya yang tinggi nan sempurna yang terdapat dalam Al Qur`an atau Sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam Al Amin dalam bentuk penetapan yang layak bagi kemuliaan-Nya dengan tanpa tamtsil (menyerupakan sifat Allah subhanahu wata’ala dengan sifat makhluk-Nya -pent) dan mensucikan-Nya tanpa ta’thil (meniadakan makna sifat Allah subhanahu wata’ala yang haq -pent).

Oleh karena itu, seorang hamba wajib menetapkan sifat-sifat dan nama-nama Allah subhanahu wata’ala dengan penetapan yang sempurna tanpa tamtsil dan tasybih (menyerupakan sifat Allah subhanahu wata’ala dengan sifat makhluk-Nya, pen), mensucikan semua sifat-sifat Allah subhanahu wata’ala dari penyerupaan terhadap makhluk dengan pensucian yang bersih dari ta’thil.

Selain itu, seorang hamba wajib menamai Allah subhanahu wata’ala dengan Asma`ul Husna, mensifati-Nya dengan sifat-sifat yang mulia yang terdapat dalam Al Qur`an atau sunnah yang shahih tanpa tahrif, ta’thil, takyif dan tamtsil, tanpa menambah dan mengurangi. Dengan demikian, dia adalah seorang pengikut Rasul, bukan ahlu bid’ah. Dia telah berjalan di atas manhaj lurus yang telah ditempuh oleh para rasul dan para pengikutnya dengan baik, yang paling utama dari mereka adalah Nabi kita Muhammad subhanahu wata’ala dan para shahabat beliau yang setelahnya. Kemudian orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, di mana pelopor mereka adalah para imam yang terkenal setelah shahabat seperti Al Imam Malik bin Anas, Al Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, Al Imam Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsabit, Al Imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal, Al Imam Al Auza’i, Al Imam Sufyan Ats-Tsauri, Al Imam Ishaq bin Rahuyah, dan para ulama selain mereka yang berjalan di atas manhaj yang lurus dalam hal menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah subhanahu wata’ala, serta mensucikan-Nya dari penyerupaan terhadap makhluk.(*)

Sumber: (Ada Tanggung Jawab di Pundakmu, Asy Syaikh Ibn Baaz, penerbit Al Husna Jogjakarta)

Monday, October 18, 2010

Fatwa-Fatwa Para Ulama Tentang Boneka

Oleh: Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin et al.

Tanya:
Ada beragam boneka, di antaranya yang terbuat dari kapas yang memiliki kepala, dua tangan, dan dua kaki. Ada pula yang sempurna menyerupai manusia. Ada yang bisa bicara, menangis, atau berjalan. Lalu apa hukum membuat atau membeli boneka semacam itu untuk anak-anak perempuan dalam rangka pengajaran sekaligus hiburan?

Jawab:
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullahu menjawab: “Boneka yang tidak detail bentuknya menyerupai manusia/ makhluk hidup (secara sempurna) namun hanya berbentuk anggota tubuh dan kepala yang tidak begitu jelas maka tidak diragukan kebolehannya dan ini termasuk jenis anak-anakan yang dimainkan Aisyah radhiallahu ‘anha.

Adapun bila boneka itu bentuknya detail, mirip sekali dengan manusia sehingga seakan-akan kita melihat sosok seorang manusia, apalagi bila dapat bergerak atau bersuara, maka ada keraguan di jiwa saya untuk membolehkannya. Karena boneka itu menyerupai makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala secara sempurna. Sedangkan yang dzahir, boneka yang dimainkan `Aisyah, tidaklah demikian modelnya (tidaklah rinci/ detail bentuknya). Dengan demikian menghindarinya lebih utama. Namun saya juga tidak bisa memastikan keharamannya, karena memandang, anak-anak kecil itu diberikan rukhshah/ keringanan yang tidak diberikan kepada orang dewasa seperti perkara ini. Disebabkan anak-anak memang tabiatnya suka bermain dan hiburan, mereka tidaklah dibebani dengan satu macam ibadah pun sehingga kita tidak dapat berkomentar bahwa waktu si anak sia-sia terbuang percuma dengan main-main. Jika seseorang ingin berhati-hati dalam hal ini, hendaknya ia melepas kepala boneka itu atau melelehkannya di atas api hingga lumer, kemudian menekannya hingga hilang bentuk wajah boneka tersebut (tidak lagi tampak/berbentuk hidung, mata, mulutnya, dsb, -pent.).”

(Majmu’ Fatawa wa Rasa`il Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, no. 329, 2/277-278)

Tanya:
Banyak sekali dijumpai pendapat dan fatwa seputar permainan anak-anak. Lalu apa hukum boneka/ anak-anakan dan boneka hewan? Bagaimana pula hukumnya menggunakan kartu bergambar guna mengajari huruf dan angka pada anak-anak?

Jawab:
Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjawab: “Tidak boleh mengambil/ menyimpan gambar makhluk yang memiliki nyawa (kecuali gambar yang darurat seperti foto di KTP, SIM). Adapun yang selain itu tidaklah diperbolehkan. Termasuk pula dalam hal ini boneka untuk mainan anak-anak atau gambar yang digunakan untuk mengajari mereka (seperti memperkenalkan bentuk-bentuk hewan dengan memperlihatkan gambarnya, –pent), karena keumuman larangan membuat gambar dan memanfaatkannya. Padahal banyak kita dapatkan mainan anak-anak tanpa gambar/ berbentuk makhluk hidup. Dan masih banyak sarana yang bisa kita gunakan untuk mengajari mereka tanpa menggunakan gambar.

Adapun pendapat yang membolehkan mainan boneka untuk anak-anak, maka pendapatnya lemah karena bersandar dengan hadits tentang mainan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha ketika ia masih kecil. Namun ada yang mengatakan hadits ‘Aisyah tersebut mansukh (dihapus hukumnya) dengan hadits-hadits yang menunjukkan diharamkannya gambar. Ada pula yang mengatakan bentuk boneka/ anak-anakan ‘Aisyah tidaklah seperti boneka yang ada sekarang, karena boneka ‘Aisyah terbuat dari kain dan tidak mirip dengan boneka berbentuk makhluk hidup yang ada sekarang. Inilah pendapat yang kuat, wallahu a’lam. Sementara boneka yang ada sekarang sangat mirip dengan makhluk hidup (detail/ rinci bentuknya). Bahkan ada yang bisa bergerak seperti gerakan makhluk hidup.”

(Kitabud Da’wah, 8/23-24, seperti dinukil dalam Fatawa ‘Ulama` Al-Baladil Haram hal. 1228-1229)

Tanya:
Apakah ada perbedaan bila boneka/ anak-anakan itu dibuat sendiri oleh anak-anak dengan kita yang membuatkannya atau membelikannya untuk mereka?

Jawab:
Aku memandang –kata Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin– membuat boneka dengan bentuk yang menyerupai ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala haram hukumnya. Karena perbuatan ini termasuk tashwir yang tidak diragukan keharamannya. Akan tetapi bila mainan itu dibuat oleh orang-orang Nasrani dan kalangan non muslim, maka hukum memanfaatkannya sebagaimana yang pernah aku katakan. Tapi kalau kita harus membelinya maka lebih baik kita membeli mainan yang tidak berbentuk makhluk hidup seperti sepeda, mobil-mobilan dan semisalnya. Adapun boneka dari kapas/katun yang tidak detail bentuknya walaupun punya anggota-anggota tubuh, kepala dan lutut, namun tidak memiliki mata dan hidung, maka tidak apa-apa (dimainkan oleh anak-anak kita) karena tidak menyerupai makhluk ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

(Majmu’ Fatawa wa Rasa`il Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, no. 330, 2/278)

Tanya:
Apakah benar pendapat sebagian ulama yang mengecualikan mainan anak-anak/boneka dari gambar yang diharamkan?

Jawab:
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullahu berkata: “Pendapat yang mengecualikan mainan anak-anak/ boneka dari gambar yang diharamkan adalah pendapat yang benar. Namun perlu diperjelas, boneka seperti apakah yang dikecualikan tersebut? Apakah boneka yang dulu pernah ada (seperti yang dimainkan oleh ‘Aisyah dengan sepengetahuan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam -pent), yang modelnya tidaklah detail, tidak ada matanya, bibir dan hidung sebagaimana boneka yang dimainkan oleh anak-anak sekarang? Ataukah keringanan/pengecualian dari pengharaman tersebut berlaku umum pada seluruh boneka anak-anak, walaupun bentuknya seperti yang kita saksikan di masa sekarang ini? Maka dalam hal ini perlu perenungan dan kehati-hatian. Sehingga seharusnya anak-anak dijauhkan dari memainkan boneka-boneka dengan bentuk detail seperti yang ada sekarang ini. Dan cukup bagi mereka dengan model boneka yang dulu (tidak detail).”

(Majmu’ Fatawa wa Rasa`il Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, no. 327, 2/275)

~ Pacaran sebelum Menikah ~

Oleh: Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin

Soal:
Bagaimana pendapat agama dalam masalah pacaran ini?

Jawaban:
Perkataan penanya “Sebelum Pernikahan”, apabila yang dimaksud sebelum masuk dan setelah akad nikah, maka tidak mengapa. Sebab dengan akad, wanita tersebut telah menjadi istrinya, meskipun belum mendapatkan surat resmi untuk masuk (membina rumah tangga) bersamanya.

Adapun apabila hubungan tersebut dilakukan sebelum nikah, pada saat mengkhitbah atau sebelumnya, maka hal itu haram dan tidak boleh dilakukan. Tidak boleh bagi seseorang untuk bersenang-senang dengan wanita asing yang bukan mahramnya, tidak dengan ucapan, tidak dengan memandang dan tidak dengan berdua-duaan. Telah tsabit dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwasanya beliau bersabda,

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ وَمَعَهَا ذُوْ مَحْرَمٍ. وَلاَ تُسَافِرِ الْمَرْأَةُ إِلاَّ مَعَ ذِيْ مَحْرَمٍ

“Janganlah seseorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali wanita tersebut disertai mahramnya, dan janganlah wanita melakukan safar kecuali disertai mahramnya” (Muttafaqun ‘alaihi – red)

Walhasil, apabila hubungan tersebut setelah akad, maka tidaklah mengapa. Namun apabila sebelum akad nikah, meskipun setelah khitbah dan diterima, maka sesungguhnya tidak boleh, itu adalah perbuatan haram baginya, sebab wanita tersebut masih asing dan belum menjadi mahramnya hingga dia mengadakan akad dengannya.

(Dinukil untuk http://ulamasunnah.wordpress.com dari buku “Bingkisan ‘tuk Kedua Mempelai” hal 475, Abu Abdirrahman Sayyid bin Abdirrahman As Shubaihi, taqdim dan Murajaah oleh Asy Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, penerjemah Abu Huzaifah, penerbit Maktabah Al Ghuroba, Solo)

Thursday, October 14, 2010

~ 8 Tips Mudah Membersihkan Hati ~

"Sesungguhnya dalam diri manusia itu ada seketul daging. Jika daging itu baik, maka baiklah seluruh anggota badannya tetapi seandainya daging itu rosak dan kotor, maka kotor dan rosaklah seluruh anggota badannya. Daging yang dimaksudkan ini adalah hati." - Hadis riwayat Bukhari dan Muslim daripada Nu'man bin Basyir

Bagaimana kita nak membersihkan hati dan membuang sikap-sikap negatif di dalam diri kita secara perlahan-lahan?

Berikut adalah 8 tips mudah yang ingin kami kongsikan bersama.

Bersyukur dengan kurniaan Tuhan
Beribadat dengan benar dan seikhlas hati
Berakhlak baik
Menimba ilmu tanpa henti
Bekerja keras cara bijak
Bersederhana dalam hidup
Ringan tangan membantu sesiapa sahaja
Memaafkan orang lain
Sekiranya sahabat lain ingin berkongsi tips masing-masing, boleh kongsikan di bahagian komen.

Saturday, September 18, 2010

~ DO's and DONT's of visiting ~

Antaranya ialah :-

1:Sebaik2nya beritahu tuanrumah melalui talipon /sms akan kedatangan kita .

Lebih2 lagi kita datang berkumpulan.

2:beri salam pada tuanrumah

3:masuk bila di izin

4: bersalaman dgn yg MAHRAM saja.

*Nabi Muhammad saw tidak pernah bersalaman dgn yg bukan Mahram nya.

5:duduk bersopan,berbual dgn sopan dan mata jgn banyak roaming .

6:jangan buat macam rumah sendiri.

7:minum/mkn dgn sederhana

8:jemput minum/makan pada tuanrumah

9:minta izin kalau nak ke tandas/bilik

10:kawal anak2 yg masih kecil

11:sebaik2 solat di masjid/di rumah sendiri

12:jgn merokok

13:jgn berbual kosong diHandphone

14:jgn duduk lama2 kalau ada tetamu yg lain datang segera utk bergerak.

15:jgn ziarah selepas jam10mlm .

16:bermaafan dgn keluarga tuanrumah.

17:Terima kasih/doa utk keluarga tuanrumah.

Thursday, September 16, 2010

~ Menyambut Perayaan Cara Islam dan Sunnah Rasulullah ~

Salam bahagia dan salam gembira kepada semua pengunjung. Di kesempatan ini saya ingin mengucapkan selamat hari raya maaf zahir dan batin kepada semua pengunjung blog ini, saya mohon maaf kalau-kalau setiap artikel dan jawapan saya berikan kepada persoalan anda semua tidak menepati apa yang anda inginkan. Saya juga memohon maaf jika ada apa-apa kesilapan yang telah dilakukan. Semperna nak menyambut hari raya ini, saya cuba siapkan satu artikel yang berkaitan sambutan hari raya yang telah diajarkan oleh Baginda Nabi Muhammad saw kepada umatnya. Jika kita melakukannya, maka kita semua akan mendapat pahala sunah atau pahala menghidupkan amalan yang telah diajarkan oleh Baginda.





Bertakbir

Bertakbir pada tarikh 1 Syawal bersempena Aidilfitri merupakan suatu amalan yang disyariatkan. Takbir pada hari Aidilfitri bermula ketika terlihatnya hilal (anak bulan) dan berakhir setelah selesainya kemuncak hari raya, iaitu ketika imam selesai berkhutbah. Firman Allah yang bermaksud :

“Supaya kamu cukupkan bilangan puasa (sebulan Ramadan), dan supaya kamu membesarkan Allah kerana mendapat petunjukNya, dan supaya kamu bersyukur.” (Al-Baqarah : 185)

Adalah juga disunnahkan untuk kita bertakbir disepanjang perjalanan dari rumah kita menuju ke masjid untuk menunaikan solat Aidilfitri. Menurut Syeikh Muhammad Nasiruddin al-Albani dalam Kitab Meneladani Rasulullah saw Dalam Berhari Raya :

“Mengenai syariat bertakbir (pada hari raya Aidilfitri) yang perlu dilakukan oleh kaum muslimin ialah bertakbir dengan suara lantang ketika dalam perjalanan menuju ke tempat solat walaupun kebanyakan umat Islam mula memandang remeh sunnah ini.”

Bertakbir sejak mula keluar dari rumah bertujuan menyerlahkan syiar Islam di setiap pelusuk jalan yang dilalui ketika menuju ke masjid.

Lafaz Ucapan Selamat Pada Hari Raya Aidilfitri

Majoriti amalan umat Islam di Malaysia akan mengucapkan antara satu sama lain pada hari lebaran dengan ucapan “Selamat Hari Raya Aidilfitri Maaf Zahir dan Batin”. Namun, apa yang lebih bertepatan dengan amalan para salafussoleh dalam meneladani sunnah Nabi saw adalah sebagaimana yang diceritakan oleh al-Hafiz Ibn Hajar al-Asqalani yang dinukilkan daripada Jubair bin Nufair ra dalam Kitab Fath Al-Bari :

“Apabila para sahabat Rasulullah saw bertemu di hari raya, sebahagian mereka mengucapkan kepada yang lain ‘taqabbalullah minna waminka’ (Semoga Allah menerima amalan kami dan amalanmu).”

Meneruskan Qiamullail

Jika sepanjang bulan Ramadan kita telah bersungguh-sungguh menghidupkan malam kita dengan pelbagai ibadah terutamanya solat qiyam Ramadan (solat tarawih), ia seharusnya diteruskan juga pada hari-hari berikutnya dengan mengerjakan solat tahajjud. Saranan ini tidak bermaksud mengkhususkan pada malam Aidilfitri untuk dikerjakan qiamullail. Apa yang cuba ditekankan di sini adalah semangat mengerjakan qiyam Ramadan (solat tarawih) haruslah diteruskan dengan mengerjakan qiamullail pada hari-hari berikutnya sesudah bulan Ramadan.

Mandi Pada Pagi Hari Raya

Disunnahkan mandi di pagi hari raya sebagaimana mandi wajib, iaitu sebelum berangkat menuju ke masjid. Ali bin Abi Thalib ra pernah ditanya mengenai mandi :

“Adakah diharuskan mandi setiap hari? Beliau menjawab : Tidak harus melakukannya. Namun, mandi yang diharuskan ialah mandi pada hari Jumaat, hari Arafah, hari Aidiladha dan Aidilfitri.” (Riwayat Imam Syafie di dalam Musnad al-Syafi’i)

Makan Sebelum Solat Aidilfitri

Disunnahkan kaum muslimin menjamah makanan sebelum berangkat menunaikan solat Aidilfitri. Perbuatan ini bertujuan menutup segala andaian bahawa dibenarkan berpuasa pada hari raya. Menurut al-Muhallab dalam Kitab Fath Al-Bari :

“Mengenai hikmah menjamah makanan sebelum mengerjakan solat hari raya adalah agar seseorang tidak berpendapat bahawa dia boleh berpuasa sehingga solat hari raya Aidilfitri dilaksanakan. Seolah-olah Rasulullah s.a.w ingin menutup prasangka semacam ini.”

Kebiasaannya, Rasulullah saw akan memakan kurma dalam jumlah yang ganjil pada pagi hari raya. Namun, tidak bermakna umat Islam perlu menyediakan buah kurma untuk dimakan pada pagi hari raya Aidilfitri. Mereka bebas memakan apa sahaja. Tetapi, mengikut sunnah itu lebih baik daripada menyanggahinya. Sedangkan, sunnah itu termasuk perkara tauqifi (tidak boleh dipersoalkan). Anas bin Malik ra berkata :

“Rasulullah saw tidak akan pergi ke tempat solat pada pagi Aidilfitri sebelum memakan beberapa biji kurma. Murajja bin Raja berkata : Ubaidillah menceritakan kepadaku bahawa Anas r.a berkata : Rasulullah saw memakannya dalam jumlah yang ganjil.” (Riwayat al-Bukhari)

Namun, jika tidak memiliki kurma maka dibolehkan untuk mengisi perut dengan makanan lain terutamanya makanan yang manis-manis seperti madu. Sekiranya tidak ada makanan sama sekali, memadai dengan hanya meminum air.

Memakai Pakaian Yang Indah

Disunnahkan kaum muslimin menghiaskan diri dengan pakaian yang indah-indah pada hari raya. Imam Syafi’i berkata dalam Kitab Al-Umm :

“Aku lebih menyukai seseorang memakai pakaian terbaik yang dimilikinya pada hari-hari raya, iaitu pada hari Jumaat, dua hari raya (Aidiladha dan Aidilfitri) dan tempat diadakan majlis (seperti majlis perkahwinan). Dia hendaklah memakai baju yang bersih dan memakai wangi-wangian.”

Bagi kaum wanita pula walaupun disunnahkan memakai pakaian yang terbaik, namun mereka hendaklah menghindari dari memakai pakaian yang bercorak-corak serta perhiasan yang berlebih-lebihan sehingga menarik perhatian golongan lelaki. Bagi golongan kanak-kanak pula, Imam Syafi’i menambah :

“Mengenai golongan kanak-kanak pula, mereka boleh memakai pakaian paling bagus yang dimilikinya, baik lelaki mahupun perempuan dan mereka juga boleh memakai perhiasan emas atau apa sahaja perhiasan.”

Semoga di pagi hari raya kita akan memilih pakaian yang terbaik serta paling mahal mengikut kemampuan masing-masing menuju ke tempat solat hari raya. Disunnahkan juga bagi kaum lelaki memakai wangi-wangian tetapi tidak disunnahkan kepada kaumwanita. Sabda Rasulullah saw :

“Mana-mana wanita yang memakai wangian lalu dia melintas di hadapan lelaki supaya mereka dapat menghidu kewangiannya, dia adalah penzina.”(Riwayat al-An-Nasai)

Berjalan Kaki Menuju Tempat Dikerjakan Solat Hari Raya

Umat Islam dianjurkan berjalan kaki menuju ke tempat solat Aidilfitri jika tidak keberatan. Ali bin Abi Thalib ra :

“Termasuk sunnah, iaitu engkau berjalan kaki menuju ke tempat solat hari raya dan memakan sesuatu sebelum berangkat.” (Riwayat al-Tirmizi)

Namun begitu bagi yang sesiapa yang perlu menggunakan kenderaan kerana tempat solat terlalu jauh, ia dibolehkan dalam syarak. Tetapi, berjalan kaki menuju ke tempat solat lebih afdal berbanding menaiki kenderaan.

Mengikuti Jalan Yang Berbeza Ketika Pergi Dan Kembali Dari Mengerjakan Solat Hari Raya

Disunnahkan juga mengikuti jalan yang berbeza ketika pergi dan balik dari mengerjakan solat hari raya. Jabir bin Abdullah ra berkata :

“Nabi saw melalui jalan yang berbeza pada hari raya.” (Riwayat al-Bukhari)

Imam Ibn Qayyim al-Jauziyyah berkata dalam Kitabnya Zaadul Maad :

“Baginda saw selalu melalui jalan yang berbeza ketika menuju dan pulang dari tempat solat pada hari raya. Ada yang berpendapat, hal ini dilakukan agar dapat bersalaman dengan orang-orang yang melalui kedua-dua jalan itu. Sebahagian lain berpendapat untuk memberikan barakah kepada mereka. Ada juga berpendapat untuk memberikan pertolongan kepada mereka yang memerlukannya di kedua-dua jalan itu. Menurut pendapat lain pula untuk menampakkan syiar Islam di jalan-jalan. Pendapat yang lebih tepat adalah supaya perjalanan yang ditempuh lebih jauh (banyak langkahnya). Orang yang berjalan ke masjid atau tempat solat, salah satu langkah kakinya akan meninggikandarjat. Sedangkan langkah kaki yang lain akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya.”

Tempat Perlaksanaan Solat Hari Raya

Sunnah mengerjakan solat hari raya di kawasan lapang atau musholla (tempat terbuka seperti padang sehingga khatib dapat melihat semua hadirin) merupakan satu amalan yang jarang dilakukan di Malaysia melainkan beberapa kelompok kecil yang benar-benar kuat berpegang kepada sunnah Nabi saw. Apakah musholla itu berbeza dengan masjid? Abu Said al-Khudri ra berkata :

“Pada hari Aidilfitri dan Aidiladha, Rasulullah s.a.w keluar menuju ke musholla. Ketika itu, perkara pertama yang dilakukan oleh baginda ialah mengerjakan solat hari raya (tanpa ada sebarang solat sunat).” (Riwayat al-Bukhari)

Tentang hikmah mengerjakan solat hari raya di musolla, Syeikh Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan telah berkata dalam Kitabnya Koreksi Total Ritual Solat :

“Sesungguhnya mengerjakan kedua-dua solat hari raya di tanah lapang mengandungi hikmah yang besar. Di antaranya adalah seluruh kaum muslimin setidak-tidaknya mereka boleh berkumpul bersama (bersua muka) dua kali dalam setahun. Semua orang dariseluruh pelusuk negeri akan berkumpul di sebuah tempat sama ada lelaki, perempuan atau kanak-kanak. Mereka semua menghadap Allah dengan hati yang penuh konsentrasi, dikumpulkan dengan satu kalimat (tauhid), solat di belakang seorang imam, membaca takbir dan tahlil bersama dan berdoa kepada Allah dengan penuh ikhlas. Seakan-akan hati mereka terikat menjadi satu, merasa bahagia dan mensyukuri nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepada mereka. Dengan itu, hari raya benar-benar bermakna bagi mereka.”

Mengerjakan Solat Aidilfitri

Di antara syiar yang palin utama dalam menyambut Aidilfitri adalah perlakasanaan solat Aidilfitri sebanyak 2 rakaat oleh seluruh umat Islam. Ibn Abbas ra berkata :

“Rasulullah s.a.w telah keluar pada hari raya Aidilfitri kemudian terus mengerjakan solat hari raya sebanyak dua rakaat. Baginda tidak melakukan sebarang solat sebelumnya dan sesudahnya.” (Riwayat al-Bukhari)

Disunnahkan menyampaikan khutbah sesudah mengerjakan solat hari raya Aidilfitri. Abu Said al-Khudri ra berkata :

“Pada hari raya Aidilfitri dan Aidiladha, Rasulullah saw akan keluar menuju musolla. Perkara pertama yang dilakukan oleh baginda (apabila tiba di masjid) baginda akan mengimami solat. Kemudian, baginda akan berpusing dan menghadap ke arah makmum yang sedang duduk di dalam saf mereka. Seterusnya, baginda akan memberikan nasihat, wasiat dan perintah kepada mereka (khutbah).” (Riwayat al-Bukhari)

Para jemaah tidak diwajibkan menghadiri atau mendengar khutbah hari raya. Sebaik sahaja selesai mengerjakan solat hari raya, sesiapa yang tidak ingin turut serta mendengar khutbah maka dia dibenarkan meninggalkan majlis itu. Abdullah bin al-Saib ra berkata :

“Aku pernah menghadiri solat hari raya bersama Nabi saw. Setelah selesai solat baginda bersabda : Sesungguhnya kami akan berkhutbah. Oleh itu, sesiapa ingin duduk mendengar khutbah, dia boleh duduk. Sesiapa yang ingin pergi, dia boleh beredar.” (Riwayat Abu Daud)

Bergembira Pada Hari Raya Aidilfitri

Islam adalah agama yang begitu praktikal lagi munasabah. Setelah sebulan umat Islam memberi tumpuan sepenuhnya untuk beribadah kepada Allah, maka kini tiba masanya untuk menyambut kejayaan itu dengan kegembiraan dan kemeriahan. Oleh itu, usaha-usaha untuk menimbulkan suasana kegembiraan di dalam keluarga masing-masing pada hari raya Aidilfitri adalah sebahagian daripada syiar Islam. Suasana kegembiraan ini berbeza mengikut adat setempat. Bagi kita di Malaysia, kegembiraan sambutan hari rayaAidilfitri dapat dilihat dengan memakai baju-baju baru yang indah, seluruh ahli keluarga berkumpul, ziarah-menziarah sesama umat Islam dan pelbagai lagi. Di sesetengah negara Timur Tengah, cuti umum hari raya Aidilfitri dipergunakan untuk membawa ahli keluarga bersiar-siar serta berkelah di tempat-tempat peranginan. Semua bentuk suasana kegembiraan dan kemeriahan ini adalah sebahagian dari tuntutan agama Islam sempena menyambut hari raya Aidilfitri selagi ia dilaksanakan sesuai dengan lunas-lunas syarak. Syeikh Sayyid Sabiq berkata dalam Kitabnya Fiqh Al-Sunnah :

“Mengadakan permainan serta kegembiraan yang tidak melanggar aturan agama, termasuk pelbagai bentuk nyanyian yang baik (dari segi makna), semua itu termasuk syiar agama yang disyariatkan oleh Allah pada hari raya untuk melatih tubuh jasmani dan memberi kepuasan serta kegirangan hati.”

Mengerjakan Puasa Sunat Enam Hari Pada Bulan Syawal

Sabda Rasulullah saw :

“Sesiapa yang berpuasa pada bulan Ramadan lalu diiringi dengan puasa enam hari di bulan Syawal, seolah-olah dia telah berpuasa setahun.” (Riwayat Muslim)

Demikianlah keutamaan puasa sunat enam hari di bulan Syawal. Cara yang paling afdal untuk melaksanakannya adalah memulakan berpuasa sesudah hari raya Aidilfitri secara berturut-turut (bermula pada 2 Syawal) sebagaimana yang ditetapkan oleh para ulama. Ini juga merupakan pendapat Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi’i. Namun, seseorang bebas memilih mana-mana hari sepanjang bulan Syawal sama ada di awal, pertengahan mahupun di akhirnya bahkan dia juga boleh mengerjakan secara berturut-turut atau berpisah-pisah.

Penutup

Inilah sebahagian daripada hukum-hakam dan amalan yang disunnahkan ketika menyambut bulan Ramadan al-Mubarak dan hari raya Aidilfitri menurut al-Quran dan sunnah yang sepatutnya dijadikan contoh ikutan bagi seluruh umat Islam. Mudah-mudahan, sambutan hari raya Aidilfitri yang akan menjelma nanti disambut dengan penuh keikhlasan, kemeriahan dan selari dengan perintah Allah serta Rasul saw.

Tuesday, September 7, 2010

~ Jangan Biar Dia Mendekati ZINA ~




Hati kita belum boleh tenang walaupun kita sudah mendidik anak-anak dengan baik di rumah. Berapa ramai ibu bapa yang baik-baik, tapi memiliki anak yang punah. Agak merungsingkan juga apabila didapati sebahagian daripada anak-anak gadis yang dihantar ke tempat-tempat perlindungan bagi wanita terlanjur adalah anak kepada ibu bapa yang beragama dan berpendidikan.

Kepincangan dalam sistem pendidikan, bahana media bobrok yang semakin canggih, pengaruh rakan sebaya serta kelemahan dalam didikan anak mungkin antara punca yang menyebabkan anak-anak terjebak dengan mungkar zina.

Dalam siri yang lepas, saya telah mengulas beberapa aspek pendidikan berkaitan hubungan pergaulan dalam Islam. Kurangnya kepekaan ibu bapa dalam ilmu batas-batas pergaulan dalam Islam, kadang-kadang turut menjadi penyebab menularnya wabak zina dalam masyarakat. Tidak kurang ibu bapa yang gagal memahami perkembangan psikologi dan biologi anaknya sendiri dan tidak menyedari tarikan persekitaran yang kuat yang mengajak anak-anak muda ke arah perzinaan. Bahkan lebih malang lagi, zina yang termasuk dalam dosa besar itu, kadang-kadang dianggap remeh oleh sesetengah ibu bapa lantaran ceteknya kesedaran Islam.

Gejala seks yang meruncing…

Pengaruh bahaya zina pada hari ini begitu meruncing. Hari ini terdapat segelintir anak-anak gadis di bangku sekolah yang berasa malu dan tersisih dengan kawan-kawannya jika masih belum ada pengalaman tidur dengan lelaki. Ada dari kalangan mereka pula yang telah mula berjinak dengan budaya seks sejak dari sekolah rendah. Di kalangan remaja lelaki pula, mereka yang terlibat dengan gejala seks sehingga mengunjungi pusat-pusat pelacuran. Kerap kali juga kita mendengar remaja-remaja lelaki dan wanita hari ini tinggal serumah bercampur bebas mengadakan pesta seks. Malah ada di kalangan mereka yang sudah tingal bersama seolah-olah seperti pasangan suami isteri walaupun tanpa apa-apa ikatan yang sah.

Gejala hodoh seks bebas ini kononnya berpijak di atas perasaan cinta yang suci murni. Kotak fikiran anak-anak muda diisi dengan propaganda cinta yang dianggap sebagai satu perasaan murni yang mendekatkan antara lelaki dan wanita serta menghalalkan apa sahaja bentuk hubungan fizikal.

Sejak dari pra sekolah hingga ke menara gading, anak-anak kita hari ini dicandukan dengan pemikiran cinta bebas ala-Barat ini, melalui segala wahana promosi seperti kartun animasi, iklan, filem, drama, computer game, novel dan lain-lain. Kebobrokan tata budaya dan kehancuran institusi keluarga di Barat itu seolah-olahnya mahu diimport seluruhnya bagi menjangkiti masyarakat Islami di sini. Sedangkan bagi Islam, soal zina dan penjagaan keturunan merupakan soal besar yang perlu ditangani dengan penuh berhemah.

Bahkan dalam sebuah Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim, Nabi s.a.w mengaitkan zina dengan iman, mafhumnya: “Tiada berzina seorang yang berzina sedang dia seorang yang beriman”.

Dekat pun tak boleh!

Allah SWT bukan sahaja mengharamkan zina, bahkan melarang umat Islam mendekati zina. Ini bermakna segala bentuk tindakan yang boleh mendekatkan seseorang itu dengan zina dikira sebagai dosa dan maksiat. Bahkan dalam satu hadis, perkara-perkara yang membawa kepada zina ini juga dinamakan sebagai zina dalam konteks yang lebih luas. Ini bermakna terdapat zina mata, zina telinga, zina mulut, zina pada wangian dan lain-lain.

Seseorang lelaki dianggap melakukan dosa zina mata apabila melihat wanita dengan penuh ghairah dan bernafsu kerana berbuatan itu menghampirkan kepada zina hakiki. Demikian juga wanita yang melihat lelaki dengan perasaan yang sama. Serupa juga dengan wanita atau lelaki yang sengaja menggayakan pakaian, diri atau wangi-wangian dengan hasrat untuk menarik perhatian dan menggoda perasaan orang lain.

Selain itu, Islam amat menjaga soal akhlak-akhlak mulia yang perlu diamalkan agar tidak terjebak dalam pergaulan bebas berlainan jantina. Sebenarnya pergaulan bebas inilah yang menjadi permulaan kepada masalah zina sebenar. Budaya keluar dating, berpakaian tidak menutup aurat dengan sempurna, berkawan bebas lelaki wanita dan sebagainya mendorong kepada zina. Jika ibu bapa dapat mengawal gejala ini sejak awal lagi, maka ia telah dapat menutup satu pintu besar ke arah zina.

Rejam yang menggerunkan

Hukuman rejam bermakna melemparkan batu ke arah pesalah zina sehingga dia meninggal dunia. Batu yang bersaiz sederhana dilempar dengan kuat ke arah pesalah zina oleh mereka yang disekelilingnya secara bertubi-tubi sehingga dia meningal dunia. Hukuman ini dikenakan ke atas penzina muhsan atau yang pernah berkahwin. Hukuman ini memang keras dan menakutkan. Kekerasan hukum ini menunjukkan betapa zina merupakan satu dosa yang amat besar dan penyakit yang serius.

Bagi pesalah yang bukan muhsan pula, Islam menetapkan hukuman sebat sebanyak 100 kali. Kedua-dua hukuman ini ditetapkan oleh Allah bagi menghapuskan kesalahan zina dari akar umbi. Islam amat mengambil berat soal maruah, kehormatan dan keturunan kerana ia menjadi asas kepada kekuatan sesuatu masyarakat.

Oleh yang demikian, menjadi tanggungjawab ibu bapa untuk sentiasa mengingatkan anak-anak agar sentiasa menjauhi perbuatan zina. Mereka perlu difahamkan tentang betapa besarnya kesalahan zina di sisi Allah. Rasulullah s.a.w bersabda (riwayat al-Bukhari):

“Tidak halal darah seorang muslim yang mengucap ‘tiada Tuhan melainkan Allah dan aku ini Rasulullah’, kecuali kerana tiga perkara iaitu: Penzina yang telah berkahwin, membunuh balas nyawa dengan nyawa dan orang yang meninggalkan agamanya dan meninggalkan jemaah (kaum Muslimin).”

Derita berpenyakit

Dr Abdullah Nasih ‘Ulwan, menyebut bahawa zina bukan sahaja mendatangkan kemurkaan Allah, bahkan membawa kecelakaan yang besar sepanjang hidup seperti penyakit-penyakit kronik serta bahaya sosial, moral dan rohani. Mereka yang melakukan zina akan terjebak dengan pelbagai penyakit seperti AIDS, sifilis, penyakit saluran kencing, jangkitan di anggota kemaluan.

Hal ini bertepatan dengan sabda Rasulullah s.a.w (riwayat Ibn Majah dan Al-Baihaqi):

“Wahai Muhajirin! Lima perkara jika kamu ditimpa balanya, sedang aku berlindung diri daripada Allah agar kamu tidak ada di waktu itu…tiada muncul zina yang dilakukan secara terang-terangan dalam sesuatu kaum, melainkan akan merebaknya penyakit taun dan penyakit yang belum pernah dikenali sebelumnya.”

Kesimpulannya, zina merupakan satu penyakit masyarakat yang melanda dunia hari ini. Umat Islam yang sentiasa berpegang bahawa zina sebagai satu dosa besar perlu berusaha sedaya upaya untuk menghindari wabak yang datang dari Barat ini. Ibu bapa sebagai manusia yang paling hampir dengan anak-anak perlu mendidik anak-anak memahami bahaya zina dan perbuatan yang dapat menghampiri zina. Anak-anak perlu difahamkan tentang besarnya kemurkaan Allah ke atas penzina dan mereka yang hidup dalam budaya zina.

Sumber - http://www.almuslimah.com.my/?p=177