Thursday, October 22, 2009

Surah Al-Fatihah






“Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”

Sejak dahulu sudah menjadi kebiasaan di kalangan umat manusia bahwa pekerjaan-pekerjaan penting selalu dimulai dengan menyebut nama para pembesar mereka untuk mendapat berkah darinya. Umpamanya, para penyembah patung atau berhala, mencari berkah dengan nama atau dengan kehadiran para kepala negara. Akan tetapi, Dzat yang lebih besar diantara segala sesuatu yang besar adalah Allah SWT dimana kehidupan segala sesuatu yang hidup ini bermula dari-Nya.



Bukan hanya kitab alam semesta, akan tetapi kitab syareat, yaitu Al-Quran dan semua kitab samawi dimulai dengan nama-Nya. Islam mengajarkan kepada kita agar pekerjaan-pekerjaan kita, yang kecil dan yang besar, makan dan minum, tidur dan bangun, bepergian dan menaiki kendaraan, berbicara dan menulis, kerja dan usaha, dan seterusnya hendaknya kita mulai dengan dengan menyebut nama Allah (Bismillah).

Jika seekor binatang disembelih tanpa menyebut nama Allah, maka kita dilarang memakan daging binatang tersebut. Kata-kata "Bismillah" tidak terbatas pada agama Islam saja. Menurut ayat-ayat Al-Quran, kapal Nabi Nuh as juga bergerak diawali dengan kalimat "Bismillah." Begitu juga surat Nabi Sulaiman as kepada Ratu Balqis. "Bismillah adalah sebuah ayat lengkap, dan bagian dari Surat Al-Fatihah.

Oleh sebab itu, Ahlul Bait Nabi SAWW tidak menyukai orang yang tidak membacanya atau membacanya dengan suara pelan di dalam salatnya. Mereka sendiri selalu membaca ayat: "bismillahirrahmanirrahim" dengan suara keras di dalam setiap salat yang mereka lakukan.

Ada beberapa hal yang dapat kita ambil sebagai pelajaran dari ayat ini. Pertama: "Bismillah" merupakan sumber berkah dan jaminan bagi setiap pekerjaan, juga merupakan tanda tawakkal kepada Allah dan permohonan bantuan dari-nya. Kedua: "Bismillah" memberi warna ketuhanan kepada setiap pekerjaan, dan menyelamatkan pekerjaan-pekerjaan manusia dari bahaya syirik dan riya. Ketiga: "Bismillah" artinya: Ya Allah aku tidak melupakan-Mu, maka janganlah Engkau melupakan aku. Keempat: Orang yang mengucapkan "Bismillah" berarti telah menggabungkan diri kepada kekuatan tak terbatas dan lautan rahmat Ilahi yang tak bertepi.






"Segala puji hanya bagi Allah Tuhan seluruh Alam."

Setelah menyebut nama Allah, maka kalimat pertama yang kita ucapkan ialah syukur kepadanya. Allah Tuhan yang perkembangan dan kehidupan segala sesuatu di jagad raya dan alam semesta ini bersumber darinya, baik alam benda mati maupun benda hidup, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit. Dia-lah yang mengajarkan kepada lebah madu dari mana mencari makanan dan bagaimana cara membuat sarang. Dia juga mengajarkan kepada semut bagaimana menyimpan makanannya untuk musim dingin. Dia pulalah yang menumbuhkan batang-batang gandum yang penuh dengan biji-biji hanya dari sebutir gandum, juga menumbuhkan sebatang pohon apel dari sebutir biji apel.

Dia-lah yang menciptakan langit dengan kehebatan yang amat besar ini dan menetapkan garis peredaran setiap bintang dan setiap galaksinya. Dia-lah yang menciptakan kita dari setetes air yang memancar dan menumbuhkan kita di dalam perut ibu selama kurang lebih 6 hingga 9 bulan. Lalu setelah kita lahir ke dunia Dia pun menyediakan segala keperluan untuk perkembangan kita. Dia membentuk badan kita sedemikian rupa sehingga mampu mempertahankan diri dari kuman-kuman penyebab penyakit dan jika salah satu tulang tubuh kita patah atau retak, maka tubuh kita memiliki kemampuan untuk mengatasinya sedemikian rupa. Kemudian jika tubuh memerlukan darah maka secara alami ia memproduksinya untuk memenuhi keperluan tersebut.

Meski demikian, yang berada di tangan Allah bukan hanya perkembangan dan pemeliharan tubuh kita saja, karena Dia juga menciptakan akal dan perasaan untuk kita lalu mengutus para nabi dan menurunkan kitab-kitab samawi untuk membina kita.

Dari ayat ini ada satu hal yang dapat kita petik sebagai pelajaran yaitu bahwa ketergantungan kita dan seluruh alam semesta ini kepada Allah. Bukan hanya pada saat perciptaan, akan tetapi perkembangan dan keterpeliharaan kita juga datang dari-Nya. Oleh karena itu, hubungan Allah dengan segala yang maujud ini bersifat selamanya dan kekal.

Atas dasar ini pula kita harus mensyukuri nikmat-nikmat-Nya. Bukan hanya di dunia, di hari akhiratpun ucapan para penghuni surga ialah alhamdulillahi rabbil alamiin.







"Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."

Allah yang kita imani ialah Wujud yang penuh kasih sayang, cinta, maaf dan ampunan. Contoh-contoh rahmat dan cinta-Nya terdapat di dalam kebesaran nikmat-nikmatNya yang tak terhingga untuk kita. Bunga-bunga yang indah berbau harum, buah-buahan yang manis dan lezat rasanya, berbagai bahan makanan yang lezat dan bergizi, bahan-bahan pakaian yang beraneka warna, dan lain sebagainya adalah anugerah yang diberikan Allah kepada kita.

Kecinta seorang ibu kepada anaknya Dia tanamkan di dalam sanubari ibu kita, sedangkan Allah sendiri memiliki cinta yang jauh lebih besar daripada kecintaan ibu kepada anaknya. Kemurkaan dan siksaannya pun datang dari tindakan Allah yang bertujuan memperingatkan dan adanya perhatian Allah terhadap kita. Bukannya karena sifat dendam atau niat menuntut balas.

Oleh karena itu jika kita bertaubat dan menutupi kesalahan yang kita lakukan maka Allah pasti akan mengampuni dan menghapus kesalahan. Dari ayat ini dapat kita ambil pelajaran bahwa Allah selalu mendidik dan memelihara segala yang maujud ini dengan rahmat dan mahabbah, karena di samping sifatnya sebagai Rabbul Alamin, penguasan dan pemeliharaan semesta alam, Dia juga menyebut diri-Nya sebagai Arrahman dan Arrahim, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Oleh karena itu jika para pengajar dan pendidik ingin mendapatkan sukses, maka mereka harus bekerja berdasarkan mahabbah dan kasih sayang.




"Pemilik hari pembalasan."

Kata-kata 'din' berarti mazhab atau agama juga berarti pembalasan. Adapun yang dimaksudkan dengan Yaumiddin ialah Hari Qiyamat yang merupakan hari perhitungan pemberian pahala dan pembalasan.

Meskipun Allah SWT adalah pemilik dan penguasa dunia sekaligus pemilik Akhirat, namun kepemilikan dan kekuasaan-Nya di hari Qiyamat memiliki bentuk yang berbeda. Di hari itu tak ada siapa pun yang menguasai sesuatu. Harta kekayaan dan anak sama sekali tidak memiliki peran. Sahabat dan kerabat tak memiliki kekuasaan apapun. Bahkan seseorang tidak memiliki kekuasaan terhadap anggota tubuhnya sendiri. Lidah tak diizinkan untuk mengucapkan permohonan ampun. Tidak pula pikiran memiliki kesempatan untuk berpikir. Hanya Allah yang memiliki kekuasaan penuh di hari itu.

Dari ayat ini terdapat beberapa hal yang dapat kita pelajara. Pertama, di samping harapakan akan rahmat Allah yang tak terbatas sebagaimana yang dipaparkan dalam ayat sebelumnya, kita juga harus merasa takut kepada perhitungan dan pembalasan hari kiamat. Kedua, dengan beriman kepada hari kiamat kita tidak perlu cemas bahwa perbuatan-perbuatan baik kita tidak akan memperoleh balasan atau pahala. Ketiga, Allah SWT Maha Mengetahui segala perbuatan baik dan buruk yang kita lakukan dan Dia Maha Mampu untuk memberikan balasan dan pahala.




"Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada-Mu-lah kami meminta pertolongan."

Di dalam ayat-ayat yang lalu Allah telah kita kenal bahwa Dia itu Rahman dan Rahim serta Rabbul `Alamin juga Maliki Yaumiddin. Sementara oleh karena kehebatan ciptaan-Nya dan nikmat-nikmat-Nya yang tak terhitung yang Dia curahkan kepada kita, maka kita mengucapkan syukur dan pujian kepadanya dengan mengatakan Alhamdulillahi rabbil `alamin.

Sudah sepatutnyalah jika sekiranya kita menghadapkan diri kita kepadanya, dan seraya mengakui ketidakmampuan dan kelemahan kita maka kita juga mengatakan bahwa kita adalah hamba-hamba-Nya yang tulus. Kita ucapkan, Ya Allah, hanya dihadapan perintah-Mu-lah kami menundukkan kepala, bukan dihadapan perintah selain-Mu. Kami bukanlah hamba-hamba emas dan kekayaan duniawi juga bukan budak-budaknya kekuatan dan kekuasaan imperialis.

Oleh karena solat yang merupakan manifestasi ibadah dan penyembahan Tuhan ditunaikan secara berjamaah maka umat Islam satu suara di dalam satu barisan secara kompak menyatakan 'iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin' , yaitu bahwa bukan hanya aku melainkan kami semua adalah hamba-hamba-Mu dan kepada-Mulah kami memohon pertolongan. Ya Allah bahkan ibadah yang kami tunaikan ini pun adalah berkat pertolongan-Mu. Jika Engkau tidak menolong kami, niscaya kami akan menjadi hamba dan budak selain-Mu.

Kesimpulan yang dapat diambil sebagai pelajaran dari ayat ini ialah sebagai berikut:

Pertama, meskipun undang-undang yang menguasai alam materi dan formula-formula fisika dan kimia kita yakini, namun semua itu berada di bawah kekuasaan Allah dan di bawah kehendak-Nya. Karenanya, kita harus berserah diri kepada Allah, bukan kepada alam. Hanya kepada Allah kita memohon bantuan, termasuk dalam urusan materi.

Kedua, jika dalam setiap solat dengan sepenuh hati dan khusyuk kita nyatakan bahwa kita hanya menghambakan diri kepada Allah, maka kita tidak akan menjadi orang yang congkak dan takabur.






"Tunjukilah kami jalan yang lurus"

Untuk kehidupan manusia terdapat bermacam-macam jalan. Jalan yang ditentukan sendiri oleh manusia berdasarkan keinginan dan tuntutan-tuntutan pribadi, jalan yang dilalui oleh masyarakat, jalan yang dilewati oleh orang-orang tua dan orang-orang bijak kita, jalan yang digariskan untuk masyarakat oleh para taghut dan penguasa lalim, jalan kelezatan lahiriyah duniawi, atau jalan uzlah atau pengasingan diri dari segala bentuk aktifitas sosial.

Di antara sekian banyak jalan dan berbagai cara hidup, apakah manusia tidak memerlukan petunjuk untuk dapat menemukan jalan yang lurus? Allah telah mengutus para nabi dan menurunkan kitab-kitab samawi. Dan hidayah kita terletak pada ketaatan dan kesungguhan kita dalam mentaati Rasulullah SAWW, Ahlul Bait, dan AlQuranul Karim. Oleh sebab itulah dalam setiap salat kita memohon kepada Allah agar menunjuki kita jalan-Nya yang terang dan lurus.

Jalan lurus adalah jalan tengah dan moderat. Jalan yang lurus berarti jalan keseimbangan dan kemoderatan di dalam segala urusan serta keterjauhan dari segala bentuk sifat ekstrim. Sebagian orang dalam menerima pokok-pokok akidah mengalami penyimpangan, sementara sebagian yang lain dalam amal perbuatan dan akhlak, dan yang lain menisbatkan segala perbuatan kepada Allah sehingga menurut mereka manusia tak lagi memiliki kehendak dan peran dalam menentukan nasib sendiri. Ada pula orang lain yang menganggap dirinyalah yang menentukan segala urusan dan pekerjaan sehingga menurut mereka Allah SWT tak lagi memiliki peran sama sekali.

Sebagian orang kafir menganggap para pemimpin agama Ilahi sebagai manusia biasa dan bahkan martabatnya lebih rendah lagi, sebagai orang gila, misalnya. Di lain pihak, sebagian orang yang mengaku beriman menganggap beberapa nabi seperti Nabi Isa Al-Masih as sedemikian tinggi derajatnya sehingga mencapai batas ketuhanan. Pikiran semacam ini menunjukkan penyimpang dari jalan yang lurus yang dicontohkan oleh Rasulullah SAWW dan Ahlul Bait as.

Al Qur'an Al Karim juga memerintahkan kita agar menjaga keseimbangan dan jalan tengah dalam urusan ibadah, ekonomi dan sosial. Beberapa ayat berikut ini adalah contoh yang akan kita tampilkan: Di dalam ayat 31 surat Al-A'raf, Allah SWT berfirman yang artinya:"Makan dan minumlah, akan tetapi janganlah kalian berlebihan". Di dalam ayat 110 surat Al-Isra' Allah SWT berfirman yang artinya: "Janganlah kalian meninggikan bacaan shalat kalian dan janganlah memelankannya. Carilah jalan tengah di antara keduanya". Demikian pula di dalam ayat 67 surat Al-Furqan, Allah SWT berfirman: "Dan orang-orang yang jika menafkahkan harta, tidak berlebihan dan tidak pula terlalu kikir. Mereka mengambil jalan tengah di antara keduanmya".

Islam sangat menekankan agar anak berbakti dan berlaku baik terhadap kedua orang tuanya, dan berkata, `wabil waalidaini ihsaanaa` yang artinya, "Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua". Sungguhpun demikian, Al Qur'an juga mengatakan, `falaa thuti` humaa artinya, "Jangan engkau mentaati keduanya", yaitu ketika kedua orang tua mengajak kepada perbuatan tidak baik.

Kepada orang yang mengejar ibadah dengan mengasingkan diri dari masyarakat, atau orang yang beranggapan bahwa mengabdi kepada rakyat adalah satu-satunya ibadah, Al Qur'an mengajukan shalat dan zakat secara bergandengan dalam ayatnya yang berbunyi, `aqiimush shalata wa aatuz zakaah` artinya "Dirikanlah shalat dan keluarkanlah zakat".

Kita tahu bahwa salat adalah hubungan antara makhluk dengan Khaliq. Sedangkan zakat adalah hubungan antara sesama makhluk. Orang-orang beriman yang sebenarnya adalah mereka yang memiliki dua unsur sekaligus, yaitu daya tolak dan daya tarik. Di dalam ayat terakhir surat Al-Fath, Allah SWT berfirman,

"Muhammad adalah utusan Allah. Dan orang-orang yang bersamanya bersifat keras terhadap orang-orang kafir tetapi berlemah lembut terhadap sesama".

Adapun poin yang dapat kita ambil sebagai pelajaran dari ayat ke 6 surat Al-Fatihah ini adalah sebagai berikut:

Pertama, jalan kebahagiaan adalah jalan yang lurus yaitu shirat al-mustustaqim. Karena:

- Jalan Allah yang lurus bersifat tetap, berbeda dengan jalan-jalan atau cara hidup yang dibuat oleh manusia yang setiap saat berubah-ubah.

- Jarak terpendek antara dua titik adalah garis lurus yang merupakan sebuah jalan yang tidak lebih dan sama sekali tidak memiliki belokan dan tanjakan. Sehingga dalam waktu yang sangat singkat ia akan membawa manusia sampai ke tujuan.

Kedua, dalam memilih jalan juga dalam usaha bertahan untuk tetap berada di atas jalan yang lurus, kita harus memohon pertolongan dari Allah. Karena kita selalu berada dalam ancaman kekeliruan dan kesesatan. Dan jangan dikira bahwa selama ini kita tidak pernah mengalami kesesatan dan penyimpangan dan kita pun akan selamanya berada di jalan yang lurus. Betapa banyak manusia di antara kita yang telah menghabiskan sebagian umurnya dengan iman, namun dia melupakan Allah ketika telah memperoleh kekayaan atau pangkat dan kedudukan.

Oleh karena pengenalan jalan yang lurus adalah pekerjaan yang sulit, maka ayat selanjutnya selain menampilkan para teladan bagi kita agar dapat mencontoh mereka dalam rangka menemukan jalan yang lurus ini, juga menampilkan orang-orang yang menyimpang dari jalan ini agar kita tidak tersesat seperti mereka.







"Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat".

Dalam memilih jalan kehidupan, manusia terbagi menjadi tiga golongan. Golongan pertama ialah orang-orang yang memilih jalan Allah, dan meletakkan kehidupan pribadi dan masyarakat mereka di atas dasar undang-undang dan perintah-perintah yang telah Allah jelaskan di dalam Kitab-Nya. Golongan ini selalu tercakup oleh rahmat dan nikmat Ilahi yang khusus.

Golongan kedua berada di dalam keadaan yang berlawanan dengan golongan pertama. Mereka ini meskipun mengetahui adanya kebenaran, namun tetap saja menolak Allah bahkan lari menuju kepada selain-Nya. Mereka ini lebih mengutamakan hawa nafsu mereka, hasrat buruk orang-orang dekat dan keluarga serta masyarakat mereka daripada keinginan dan kehendak Allah SWT.

Kelompok ini secara perlahan memperlihatkan akibat-akibat perbuatan dan perilaku mereka di dalam keberadaan mereka. Sedikit demi sedikit mereka menjauh dari shirath al-mustaqhim dan bukan menuju ke arah rahmat Allah SWT dan rahmat-Nya. Mereka terpelosok masuk ke jurang kesengsaraan dan kesusahan serta menjadi sasaran kemurkaan dan kemarahan Ilahi yang disebut oleh ayat ini sebagai orang yang `maghdluubi 'alaihim`, orang-orang yang dimurkai.

Sementara itu, kelompok ketiga ialah orang-orang yang tidak memiliki jalan yang jelas dan tertentu. Mereka ini disebut sebagai orang-orang yang bingung dan tidak mengetahui. Di dalam ayat ini, mereka disebut sebagai `dlollin`, atau orang-orang yang sesat.

Dalam setiap salat kita mengatakan, `ihdinash shiraathal mustaqiim`, yang artinya, "Ya Allah tunjukilah kami jalan yang lurus". Jalan yang dilalui oleh para Nabi, auliya', orang-orang suci dan orang-orang yang lurus. Mereka yang selalu berada di bawah curahan rahmat dan nikmat-nikmat khusus-Mu. Dan jauhkanlah kami dari jalan orang-orang yang telah menyimpang dari kemanusiaan dan menjadi sasaran kemurkaan-Mu, juga dari jalan orang-orang yang kebingungan dan sesat.

Siapakah orang-orang yang sesat itu? Di dalam Al Qur'an banyak kelompok dan kaum yang disebut dengan sebutan di atas. Di sini kita akan menyinggung salah satu contohnya yang jelas dan nyata.

Al Qur'an menyebut Bani Israil, yang sejarah kehidupan mereka berada di bawah kekuasaan Fir'aun hingga mereka diselamatkan oleh Nabi Musa AS, sebagai umat yang pernah memperoleh rahmat dan anugerah Allah yang tak terhingga berkat ketaatan mereka kepada perintah-perintah-Nya. Bahkan Allah SWT telah melebihkan mereka dari segenap bangsa di atas muka bumi. Hal ini dapat kita baca dalam ayat 47 surat Al-Baqarah yang artinya:

"Wahai Bani Israil, ingatlah nikmat-Ku yang ku berikan kepada kalian dan bahwa Aku telah mengutamakan kalian di atas segenap penghuni alam".

Akan tetapi karena perbuatan dan tingkah mereka di kemudian hari, maka Bani Israil ini juga ditimpa murka Ilahi. Dalam hal ini Allah SWT berfirman,

`Wa baauu bi ghadlabin minallaah`. Artinya, "Merekapun ditimpa murka Allah". Karena para pemuka agama Yahudi suka mengubah-ubah ajaran-ajaran samawi di dalam kitab Taurat, `yuharriful kalima 'an mawaadli'ihi`. Selain itu, mereka juga suka memakan uang hasil riba dan perbuatan-perbuatan haram lainnya, `wa aklihimur riba` .

Kemudian, masyarakat umum Yahudi pun di kemudian harinya juga suka memburu kesenangan duniawi dan terbuai oleh kemewahan hidup sehingga mereka enggan berjuang membela agama dan tanah air. Karenanya, ketika Nabi Musa as mengajak mereka untuk berjuang mengusir penjajah dari tanah air mereka, mereka berkata, “Idzhab anta wa rabbuka faqaatilaa innaa hahunaa qoo'iduun”, artinya, “Pergilah kamu dan Tuhanmu untuk berperang, sedangkan kami akan menunggu di sini”.

Orang-orang yang tergolong baik diantara umat Yahudi ini juga diam tanpa berbuat sesuatu saat menyaksikan penyimpangan dan kesesatan ini. Akibatnya, kaum ini juga terperosok ke dalam jurang kehinaan padahal sebelumnya mereka berada di puncak kemuliaan

Beberapa hal berikut ini dapat kita jadikan sebagai pelajaran dari ayat yang telah kita pelajari ini.

Pertama, dalam memilih jalan yang lurus, kita memerlukan teladan yang telah disebutkan oleh Allah di dalam ayat 69 surat An-Nisa', yaitu para Nabi, shiddiqiin (orang-orang yang mengakui kebenaran), syuhada' dan sholihin. Mereka adalah orang-orang yang selalu mendapatkan rahmat, inayah, dan nikmat-nikmat Allah SWT.

Kedua, meskipun segala sesuatu yang datang dari Allah SWT merupakan nikmat, namun kemurkaan Alah akan datang menimpa kita jika maksiat kita lakukan. Oleh karena itu, berkenaan dengan nikmat Ilahi, Al Qur'an mengatakan, `an'amta` artinya, "Engkau telah memberi nikmat". Namun, ketika berbicara tentang kemurkaan Al Qur'an tidak mengatakan `ghadlibta` yang artinya, "Engkau telah murka", melainkan mengatakan `maghdlubi alaihim`. Kata-kata `maghdlubi alaihim adalah sifat yang menunjukkan lebih kekalnya kemurkaan tersebut.






video

Tafsir Suroh Al-Mu'minun Ayat 62-70

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

(62) وَلا نُكَلِّفُ نَفْساً إِلاَّ وُسْعَها وَ لَدَيْنا كِتابٌ يَنْطِقُ بِالْحَقِّ وَ هُمْ لا يُظْلَمُون
Tidaklah Kami pikulkan kepada suatu diri, melainkan sekedar kesanggupannya. Dan di sini Kami tersedia sebuah Kitab yang berkata dengan benar„ dan mereka tidaklah akan dianiaya.

(63) ﴿ بَلْ قُلُوبُهُمْ في‏ غَمْرَةٍ مِنْ هذا وَ لَهُمْ أَعْمالٌ مِنْ دُونِ ذلِكَ هُمْ لَها عامِلُونَ َ
Tetapi (sayang), hati mereka ter­sesat dalam hal ini, clan mereka pun ada pula mempunyai amal amal yang mereka kerjakan selain ini.

(64) حَتَّى إِذا أَخَذْنا مُتْرَفيهِمْ بِالْعَذابِ إِذا هُمْ يَجْأَرُونَ َ
Sehingga bila telah Kami timpa­kan azab siksa ke atas orang­orang yang hidup mewah di antara mereka, ketika itulah mereka akan berteriak-teriak meminta tolong.

(65) لا تَجْأَرُوا الْيَوْمَ إِنَّكُمْ مِنَّا لا تُنْصَرُونَ
Tak usahlah kamu berteriak­teriak meminta tolong pada hari
ini, karena sesungguhnya tidak­lah kamu akan mendapat per­tolongan Kami lagi.

(66) قَدْ كانَتْ آياتي‏ تُتْلى‏ عَلَيْكُمْ فَكُنْتُمْ عَلى‏ أَعْقابِكُمْ تَنْكِصُونَ َ
Sesungguhnya telah dibacakan kepada kamu ayat-ayat Kami, namun kamu mundur balik belakang.

(67) مُسْتَكْبِرينَ بِهِ سامِراً تَهْجُرُونَ َ
Kamu menyombong , dan seketika memperkatakan al-Quran itu malam hari , kamu keluarkan kata-kata yang kotor.

(68) أَفَلَمْ يَدَّبَّرُوا الْقَوْلَ أَمْ جاءَهُمْ ما لَمْ يَأْتِ آباءَهُمُ الْأَوَّلينَ َ
Tidakkah mereka mau memper­hatikan kata-kata itu? Ataukah tela}i datang kepada mereka hal yang tidak pernah datang ke­pada nenek-moyang mereka?

(69) أَمْ لَمْ يَعْرِفُوا رَسُولَهُمْ فَهُمْ لَهُ مُنْكِرُونَ َ
Ataukah mereka tidak mengenal Rasul mereka, lalu mereka ingkari dia?

(70) أَمْ يَقُولُونَ بِهِ جِنَّةٌ بَلْ جاءَهُمْ بِالْحَقِّ وَ أَكْثَرُهُمْ لِلْحَقِّ كارِهُونَ َ
Atau hendak mereka katakan bahwa dia itu (Rasul) adalah seorang gila. Bahkan Rasul itu telah datang kepada mereka dengan kebenaran, cuma lebih banyak di antara mereka yang tidak suka kepada kebenaran itu.

Agama Tidaklah Berat

Pada ayat 57 sampai ayat 61 sekali lagi diterangkan Tuhan sifat-sifat orang yang beriman, diterangkan bahwa orang yang beriman itu senantiasa berlomba berbuat baik, karena cemas dan rusuhlah kalau-kalau dia datang kelak kembali kepada Tuhan dengan catatan yang tidak baik. Orang yang berfikir dan me­renungkan diri clan menilai hidup, mudahlah memperbaiki tujuan hidupnya. Mudahlah mereka memikul tanggungjawab yang dipikulkan Tuhan kepadanya. Maka pada ayat 62 ini dijelaskan lagi oleh Tuhan bahwasanya menjadi seorang yang beriman, pengikut Nabi, penegak kebenaran tidaklah perkara sukar. Asal mau mengerjakan agama tidaklah ada pekerjaan agama itu yang berat tiada terpikul. Tuhan tidaklah mendatangkan suatu amar (perintah) kalau tidak sesuai dengan diri atau jiwa manusia.

Ingat sajalah kalimat perlambang seketika Rasulullah s.a.w. Mi'raj ke langit menghadap Hadhrat Rububiyah, sedianya akan dijatuhkan perintah kepada ummat Muhammad mengerjakan sembahyang 50 waktu. Tetapi setelah diberi pertimbangan oleh Nabi Musa bahwa 50 waktu itu berat bagi ummatnya mengerjakan dan dimohonkan kepada Tuhan agar dikurangi permohonan itu telah dikabulkan. Demikian sembahyang malam (Qiaamullail) yang dikerjakan Nabi setiap malam sampai ketal dan semutan kakinya, diikuti beramai-ramai oleh ummat, telah datang Wahyu menyatakan bahwa tidak usah ikut berpayah­payah bangun malam sebagai Nabi itu pula. Cukuplah sekedarnya saja. Maka segala perintah yang didatangkan Tuhan dan segala larangan yang diberikan­Nya, semuanya itu adalah yang dapat dipikul dan tidak dilebihi Tuhan daripada batas (maksimum) kekuatan manusia.

Bekerjalah dan beramallah sekedar kekuatan tenagamu, jangan dikurangi dari tenaga dan jangan dilebihi. Karena mengurangi adalah kesia-siaan dan melebihi adalah membawa. diri kepada kepayahan, apatah lagi kalau menambah-nambah, itu dapat membawa kepada menambah-nambah agama sendiri, sehingga jadi bid'ah. Semua amalan itu tiadalah lepas dari catatan Tuhan di dalam Kitab yang telah maklum. Sehingga apabila datang hari perhitungan kelak akan kedapatan bahwa semuanya telah tertulis dengan jelasnya, dan tak usah khuatir, karena tidak ada yang akan dikurangi, semuanya tertulis dan tidak ada yang akan teraniaya.

Amatlah mendalamnya pengaruh ayat ini, berisi rayuan, bujukan yang lemah-lembut supaya orang sudi berbuat baik. Karena berbuat baik itu bukanlah buat orang lain melainkan buat kepentingan din sendiri. Betapa tidak? Sedang di dalam Hadis ada disebutkan, kalau seseorang berbuat baik dia akan mendapat sepuluh pahala, sedang kalau dia terlanjur berbuat jahat, dosanya hanya satu. Kalau hati telah cenderung kepada Tuhan, tidak ada lagi niat hendak mencari jalan lain, memperturutkan hawa nafsu, maka jalan kebaikan itu lebih mudah daripada jalan kejahatan.

Tetapi sayang, kata ayat 63, mereka masih berkeras dalam jalan sesat. Mereka tidak mau perduli Seruan Tuhan untuk muslihat diri mereka sendiri mereka abaikan, tidak mereka acuhkan. Seketika datang seruan Ilahi supaya mereka berbuat yang baik, mereka berbuat juga, tetapi berbuat yang jahat. Asing kehendak Tuhan, lain pula kehendak mereka. Diserukan supaya menempuh jalan kanan, mereka hendak ke kiri juga. Ditunjukkan jalan lurus, supaya cepat sampai dengan selamat kepada yang dituju, namun mereka masih membelok juga sehingga terpilih jalan yang akan membawa mereka kepada kesesatan, sehingga hilang apa yang dituju.

APA SEBAB JADI BEGfTU ?

Pada ayat selanjutnya,.(64), dikatakan bahwa kelak apabila orang-orang yang hidup bermewah-mewah telah ditimpa oleh azab siksaan, barulah mereka memekik-mekik, berteriak meminta tolong, meraung, menggerung mencari pegangan.

Di ayat 65 dijelaskan bahwa pada waktu azab siksa telah datang, pekik­teriak tidak ada faedahnya lagi karena mereka tidak juga akan dapat ditolong, sebab nasi sudah menjadi bubur.

Orang-orang Yang Hidup Mewah

Inilah pangkal penyakit HIDUP MEWAH:

Pada pokoknya tidaklah terlarang hidup mewah. Karena dengan demikian dapat juga kita menyatakan nikmat Tuhan yang telah dianugerahkan kepada kita. Tuhan senang sekali apabila hambaNya menunjukkan bekas nikmatNya atas dirinya. Tetapi haruslah digali dalam jiwa sendiri apa yang mendorong akan mewah itu?

Kebanyakan orang hidup mewah bukanlah karena mensyukuri nikmat Tuhan, hanyalah karena hendak menunjukkan kelebihan dari­pada orang lain, hatinya menjadi kesat kasar, sebab dia lupa bahwa di samping hidupnya yang berlebih-lebihan itu ada lagi makhluk Ilahi, yang diselubungi kemiskinan, kadang-kadang makan, kadang-kadang tidak.

Selanjutnya kemewahan menyebabkan seseorang tidak lagi.dapat menguasai harta bendanya yang dipunyainya itu melainkan dia sendirilah yang diperbudak oleh kemewahan harta benda. Selalu merasa belum cukup, selalu hendak tinggi sebenang dari orang. Padahal ujung kehendak kemewahan itu tidak pernah ada.

Banyak orang yang menyangka bahwa nilai kehidupan ditentukan oleh rumah yang indah, villa yang besar dan bungalow yang mungil, mobil model tahun terakhir yang menterng , berapa juta uang simpanan di bank dan berapa pelayan dalam rumah.

Tidak diperdulikannya lagi nilai-nilai kebenaran dan pegangan hidup. Bahkan untuk itulah orang hendak merebut kekuasaan, sebab kekuasaan adalah kesempatan yang luas untuk berbuat mewah dan se­kehendak hati.

Segala bantahan, acuh tak acuh yang dilakukan kaum kafir kepada Nabi, sebagaimana tersebut di ayat-ayat di atas, adalah akibat hidup mewah. Kemewahan timbul dari kalangan yang mampu (the have) dan yang menderita ialah yang tidak mampu (the have not). Kebiasaan orang yang telah diperbudak mewah itu, kecil kerdil jiwanya. Baru azab siksa datang, mereka berteriak, memekik, meraung, meminta tolong. Alangkah tepat bunyi ayat itu.

Tadinya mereka mencela dan mengejek Nabi-nabi dan Rasul-rasul, atau orang yang membawa seruan Nabi dan Rasul. Karena Utusan-utusan Tuhan itu pada umumnya adalah orang-orang yang hidup sederhana. Sekarang apabila siksaan Tuhan datang, mereka tidak malu-malu meraung-raung meminta tolong kepada orang-orang yang tadinya diejeknya dan dipandangnya tidak berharga karena tidak mempunyai kemewahan sebagai mereka.

Dan apabila terjadi sesuatu pergolakan hebat, memang rumah indah, mobil bagus, TV, kulkas tidak ada gunanya.

Keruntuhan bangsa-bangsa ialah apabila kemewahan yang mampu sudah amat berlebih-lebihan, sehingga tidak ada lagi orang tengah di antara si kaya dengan si miskin. Nilai kebenaran diabaikan orang. Tidak lagi ditanyakan orang apa jasamu di dalam masyarakat, melainkan lambung-melambungkan, puji­memuji, sanjung-menyanjung, pada perkataan yang kosong. Amal dan usaha sedikit, tetapi reklame dan propaganda amat banyak.

Jadi si miskin yang memeras keringat, si tani yang menanam dan mengeluarkan hasil, hilang, karena mereka tidak termasuk orang mewah. Namun orang yang mewah mendapat lagi tumpukan kehormatan dan pujian, laksana menimbun gunung. Lantaran itu kian lama pintu menerima kata yang benar tertutup ke dalam hati mereka. Akhirnya apabila bahaya datang, si mewah tidak dapat bertahan, hanya si melarat juga yang jadi kurban.

Kejatuhan bangsa-bangsa Yunani dan Romawi purbakala ialah apabila kemewahan telah merusak jiwa. Orang Islam pun telah pernah memerintah di Spanyol 700 tahun lamanya. Spanyol pernah menjadi kemegahan Islam dengan seninya yang tinggi dan fikirannya yang mulia dan kebudayaannya yang bersumber dari Tauhid.

Tetapi mereka akhimya diusir dari Jazirah Iberia dan tidak dapat lagi mempertahankan dirinya setelah jiwa diselaputi oleh ke­mewahan! Seketika terjadi peperangan, tentara Islam sebagai penguasa negeri itu, dengan kaum Nasrani yang ingin kembali merebut kuasa atas negerinya, tentara-tentara Islam itu telah tampil ke medan perang dengan pakaian wama­wami, sutera dewangga, pelana kuda dan sanggurdi yang bertatahkan emas­perak.

Padahal tentara Kristen tampil ke medan perang memakai zirah, topeng dan pakaian peperangan dari besi, bukan dari sutera. Kaum Nasrani berperang dengan gagah perkasa, sedang pihak Islam berperang laksana barisan wanita dengan bersolek berhias. Peperangan ini dikenal dengan sebutan: "Pertempuran di Thibirnah". Akhirnya meskipun pihak Islam banyak bilangannya, mereka kalah. Maka bersyairlah seorang penyair demikian bunyinya:

"Mereka memakai pakaian besi ke medan perang; dan kamu memakai pakaian sutera aneka wama.Alangkah indahnya kamu, dan alangkah buruknya mereka. Kalau tak kejadian di Thibimah app yang telah kejadian itu."

Kemewahan meracun jiwa, mengerdilkan semangat dan memadarnkan semangat perjuangan. Orang menjadi takut akan menghadapi mati, karena jiwa telah dibelit oleh akar-akar kemewahan.

Tak usahlah kamu berteriak-teriak meminta tolong pada hari ini, karena pertolongan itu tidak akan datang. Jalan yang kamu tempuh yang salah sejak bermula, mesti berakhir dengan kesalahan pula. Penyesalan tidak dapat lagi ditimpakan kepada orang lain, apatah lagi kepada Tuhan. Ayat-ayat Tuhan telah cukup dibacakan, namun Dia kamu belakangi selama ini.

Bahkan kamu menyombong. Apatah lagi apabila telah berkumpul kamu sesama kamu, mengobrol pada malam hari di terang bulan, jika kamu membicarakan seruan al-Quran, tidaklah untuk kamu perhatikan, hanyalah untuk kamu ejek dam kamu cela, kamu keluarkan perkataan-perkataan kotor penuh cemuh. Demi­kian tersebut dalam ayat 66 dan 67.

Pada ayat-ayat yang selanjutnya, ditunjukkan sifat perangai yang biasa ber­temu pada orang yang ingkar, yang kafir.

أَفَلَمْ يَدَّبَّرُوا الْقَوْلَ"

Tidakkah mereka mau memperhatikan kata-kata itu?" (ayat 68).

Cobalah pergunakan pertimbangan yang adil dan fikiran yang terang. Coba tanyai hati sanubarimu sendiri, bukankah perasaan hati sanubari itu mengakui sendiri akan kebenaran apa yang dibawa oleh al-Quran. Susun bahasanya, soal yang dibawanya, seruan clan ajakannya, semuanya tidaklah dapat ditolak oleh hati sanubarimu itu. Kalau kamu bantah clan kamu cemuh­kan, bukanlah bantahan dan cemuhan itu timbul daripada pertimbanganmu yang bersih, hanyalah dari sebab kekerasan kepala clan belitan kemewahan tadi. Nafsu angkaramu merasa sakit menerima kebenaran.

َ أَمْ جاءَهُمْ ما لَمْ يَأْتِ آباءَهُمُ الْأَوَّلينَ َ

"Ataukah telah datang kepada mereka hal yang tidak pemah datang kepada nenek-moyang mereka yang dahulu?" (ayat 68).

Bukankah riwayat manusia yang datang di belakang adalah semata-mata meneruskan apa yang telah dijalani oleh nenek-moyang yang telah terdahulu? Mereka sendiri mengakui bahwa sebelum Muhammad s.a.w., nenek-moyang yang telah terdahulu itu pun telah didatangi oleh Nabi-nabi dan Rasul-rasul clan membawa soal-soal clan ajaran bagi kemuslihatan mereka itu. Khusus kepada ummat Arab telah datang Nabi Ibrahim atau puteranya Ismail. Mereka telah mendirikan Ka'bah sebagai lambang kesatuan akidah seluruh ummat Tauhid di dunia, bahkan itulah Bait Allah yang mula-mula didirikan untuk manusia.
Ka'bah itu masih berdiri dengan jayanya dan mereka lihat setiap hari dengan mata kepala mereka.

أَمْ لَمْ يَعْرِفُوا رَسُولَهُمْ فَهُمْ لَهُ مُنْكِرُونَ َ
"Ataukah mereka tiada mengenal Rasul mereka, lalu mereka ingkari Rasul mereka?" (ayat 69).

Kalau sekiranya Nabi Muhammad s.a.w. itu orang lain yang datang dari tempat jauh, bolehlah difahami kalau mereka tolak ajarannya. Padahal mereka menyaksikan kehidupan Muhammad sejak kecilnya, mengetahui sejarahnya dan sejarah keluarganya Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib. Mereka mengakui bahwa semuanya itu orang baik-baik di zaman lampau. Apatah lagi Muhammad itu sendiri, mereka kenal sejak kecilnya, dan mereka kenal kejujurannya, dan mereka kenal kebaikan budinya. Bukankah seketika terjadi perselisihan di antara mereka tentang siapa yang layak menjadi pendamai, ketika berebut hendak mengembalikan "Hajarul Aswad" (batu hitam) ke tempatnya semula, Muhammadlah yang mereka angkat menjadi hakim, lalu mereka beri dia gelar "Al-Amin", yaitu orang yang amat dipercaya.

Seorang yang jujur lalu menjadi pengikut Nabi Muhammad, yaitu Ja'far bin Abu Thalib, saudara dari Ali bin Abu Thalib seketika hijrah ke negeri Habsyi, menceritakan tentang peribadi Nabi Muhammad s.a.w. di hadapan raja Najasyi (Negus): "Allah telah mengutus kepada kami seorang Rasul, yang kami kenal nasab keturunannya dan kami kenal kejujurannya dan amanatnya."

Bahkan Abu Sufyan sendiri, yang sampai saat takluknya negeri Makkah ke dalam kekuasaan Nabi, masih bertahan dan memimpin perlawanan terhadap beliau, seketika ziarah ke Syam dan menghadap raja Hiraqlu telah mengakui terus­terang bahwa Muhammad itu adalah seorang yang jujur dan tidak ingin akan pangkat. Bahkan seketika Nabi Muhammad mengawini anak perempuannya Ummi Habibah, Abu Sufyan tidaklah'dapat menyembunyikan rasa kebanggaannya, walaupun dia sendiri memusuhi Nabi. Dia mengakui bahwasanya Muhammad adalah jodoh yang pantas bagi anaknya.

أَمْ يَقُولُونَ بِهِ جِنَّةَ

"Ataukah hendak mereka katakan bahwa dia itu (Rasul) adalah seorang gila," (ayat 70), miring otak, psychopad.

Mereka tuduh dia kena penyakit yang mendekati gila, ataupun gila sama­sekali (majnun). Padahal dari kecil pula mereka mengenal dia sebagai seorang pemuda yang sihat dan kuat.

Memang, sudah diakui sebagai satu bagian dari Ilmu Sosiologi bahwa manusia tidak cepat mau berkisar daripada kedudukannya yang lama. Perkembangan akal budi selalu dikalahkan oleh ikatan-ikatan. Nabi Muhammad mencela penyembahan berhala, sedang mereka memasukkan penyembahan berhala dalam sebagian hidupnya.

Nabi Muhammad mencela keras perzinaan, sedang berzina adalah menjadi adat bagi orang-orang besar kaumnya.
Nabi Muhammad mencela orang-orang yang makan riba, sehingga orang­orang yang melarat tidak terlepas dari hutang, sedang memberi pinjam dengan riba adalah mata pencarian orang-orang hartawan pada masa itu. Kedatangan Nabi Muhammad membawa ajaran yang baru itu mereka tuduh "gila", sebab berniat hendak merombak masyarakat yang "stabil" dalam keadaan begitu.

Mereka sengaja menyumbat telinga daripada mendengarkannya, sebab kalau didengarkan juga tidak dapat membatalkannya. Itu sebabnya maka disebut dalam sambungan ayat selanjutnya:

بَلْ جاءَهُمْ بِالْحَقِّ وَ أَكْثَرُهُمْ لِلْحَقِّ كارِهُونَ َ
"Bahkan Rasul itu telah datang kepada mereka dengan kebenaran, cuma lebih banyak di antara mereka yang tidak suka kepada kebenaran itu." (ayat 70).

Nyatalah sekarang dari ujung ayat itu bahwa soalnya sekarang bukanlah bahwa yang dibawa oleh Rasul itu ajaran yang tidak benar. Mereka dalam hati sanubarinya mengakui kebenaran itu, sebab jibillah manusia, dasar fikiran yang sadar tidaklah dapat menolak kebenaran. Soalnya sekarang bukan lagi benar atau tidak benar seruan Nabi. Tetapi yang jadi soal ialah bahwa mereka tidak mau menerimanya, mereka tidak mau tunduk kepadanya. Karena kalau me­reka tunduk kepadanya, niscaya mereka wajib melepaskan kebiasaan yang lama, mengubah samasekali kebiasaan hidup yang buruk, tetapi telah dirasa enaknya. Itu adalah berat!

Mereka rupanya hanya mau tunduk dan mengakui Muhammad sebagai Rasul, mereka hanya mau mencabut rasa bencinya kepada Nabi kalau soal­soal yang mengenai hawanafsu mereka itu jangan disinggung-singgung, bah kan dibiarkan saja. Biarkan mereka terus menyembah berhala, biarkan mereka terus memakan riba, biarkan mereka terus berbuat zina. Bahkan kalau sekira­nya Muhammad suka menutup mulut, tidak lagi membongkar-bongkar ke­biasaan mereka yang buruk itu, mereka akan hormat kepada Muhammad dan memberikan dia kedudukan yang layak. Karena dalam hati, sudah terasa bahwa Muhammad memang seorang yang layak dibenarkan.

Oleh karena itu pemahlah mereka tawarkan kepada Nabi Muhammad s.a.w. pangkat yang tinggi, yaitu menjadi raja bagi mereka semua atau kalau Muhammad suka, mereka pun sudi memilihkan gadis-gadis Quraisy yang jelita buat menjadi kekasihnya, atau kalau dia ingin berniaga, mereka pun suka memberi modal besar, asal pekerjaan mencela-cela adat kebiasaan lama ini, mencela penyembahan berhala itu, dihentikannya.

Tetapi Nabi Muhammad telah menjawab kepada pamannya Abu Thalib seketika beliau menjadi perantara menyampaikan tawaran itu clan orang Quraisy:

"Wahai Paman, walaupun akan diletakkan matahari sebelah kananku dan bulan sebelah kiriku, supaya aku berhenti dari seruanku ini, tidaklah dia akan aku hentikan, sebelum Tuhan Allah sendiri memberikan keputusan siapa di antara kami yang akan menang."

Alangkah jauhnya jalan fikiran mereka daripada cita yang ditegakkan Nabi. Mereka mengukur seorang Nabi dengan ukuran mereka sendiri. Disangkanya Nabi akan sudi menerima diangkat menjadi raja, tetapi jadi raja yang memper­tahankan penyembahan berhala. Mereka telah menjanjikan ganti uang ke­kayaan, disangkanya bahwa Nubuwwat clan Wahyu dapat dinilai dengan pangkat, jabatan dan harta dan kecantikan perempuan. Disangkanya Nabi dapat dibeli. Alangkah jauh perbedaan pangkalan tempat bertolak fikiran di antara Iman dengan Kufur.

Perbedaan yang sekali-kali tidak dapat didamaikan.

Tafsir Suroh An-Nuur ayat 30 - 31

قُلْ لِلْمُؤْمِنينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصارِهِمْ وَ يَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذلِكَ أَزْكى‏ لَهُمْ إِنَّ اللهَ خَبيرٌ بِما يَصْنَعُونَ
3O Katakanlah kepada 0rang-0rang beriman (laki-laki) itu, supaya mereka menekurkan sebahagian pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka. Yang demikian adalah lebih bersih bagi mereka, Sesungguhnya Tuhan Allah lebih mengetahui apa yang mereka kerjakan.

وَ قُلْ لِلْمُؤْمِناتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصارِهِنَّ وَ يَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدينَ زينَتَهُنَّ إِلاَّ ما ظَهَرَ مِنْها وَ لْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلى‏ جُيُوبِهِنَّ وَلا يُبْدينَ زينَتَهُنَّ إِلاَّ لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبائِهِنَّ أَوْ آباءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنائِهِنَّ أَوْ أَبْناءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوانِهِنَّ أَوْ بَني‏ إِخْوانِهِنَّ أَوْ بَني‏ أَخَواتِهِنَّ أَوْ نِسائِهِنَّ أَوْ ما مَلَكَتْ أَيْمانُهُنَّ أَوِ التَّابِعينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلى‏ عَوْراتِ النِّساءِ وَلا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ ما يُخْفينَ مِنْ زينَتِهِنَّ وَ تُوبُوا إِلَى اللهِ جَميعاً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
31 Dan katakan pula kepada 0rang- orang yang beriman (perempuan) supaya mereka pun , menekurkan pula sebahagian pandang mereka dan memelihara kemaluan mereka. Dan janganlan mereka perlihatkan perhiasan mereka kecuali kepada yang zahir saja. Dan hendaklah mereka menutup dada mereka dengan selendang. Dan janganlah mereka nampakkan perhiasan mereka kecuali kepada suami mereka sendiri atau kepada ayah mereka , atau bapa dari suami mereka, atau anak mereka sendiri, atau anak-anak dan suami mereka (anak tin) atau saudara laki-laki mereka , atau anak dari saudara laki-laki mereka , atau anak dan saudara perempuan mereka, atau sesama mereka perempuan atau siapa-siapa yang dimiliki oleh tangan mereka, atau pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan atau anak-anak yang belum melihat aurat perempuan. Dan janganlah mereka hentak kan kaki mereka supaya diketahui orang perhiasan mereka yang tersembunyi. Dan taubatlah kamu sekalian kepada Allah wahai orang-orang yang beriman agar supaya kamu mendapat kejayaan .

Laki-Iaki Dan Wanita

Tujuan Islam ialah membangunkan masyarakat Islam yang bersih sesudah terbangun rumah tangga yang bersih. Manusia laki-laki dan perempuan diberi syahwat kelamin (sex) agar supaya mereka jangan punah dan musnah dari muka bumi ini. Laki-laki memerlukan perempuan dan perempuan memerlukan laki-laki. Jantan memerlukan betina dan betina memerlukan jantan. Tetapi masyarakat dlberi akal, dan akal sendiri menghendaki hubungan-hubungan yang teratur dan bersih. Syahwat adalah keperluan hidup. Tetapi kalau syahwat tidak terkendali maka kebobrokan dan kekotoranlah yang akan timbul . Ke- kotoran dan kebobrokan yang amat sukar diselesaikan .

Untuk itu maka kepada laki-laki yang beriman, diberi ingat agar matanya jangan liar bila melihat wanita cantik , atau meman- dang bentuk badannya yang menggiurkan syahwat. Dan hendaklah pula dia memelihara kemaluannya , ataupun memelihara tenaga kelaki-lakiannya supaya jangan diboroskan .

Pandangan mata yang tidak terkendali memberansang syahwat buat memiliki . Apabila syahwat telah menguasai diri , sehing- ga tidak terkendali lagi maka kelamin menghendaki kepuasaannya pula. Dan syahwat selamanya tidakkan puas.

Apabila sekali syahwat yang tidak terkendali itu telah menguasai kelamin , sukarlah bagi seseorang melepaskan din daripada kungkungannya. Sehingga lama-kelamaan segenap ingatannya sudah dikuasai belaka oleh syahwat itu . Dia akan berzina , dan zina sekali adalah permulaan dari zina terus. Kata orang , syahwat nafsu kepada seorang wanita, hanyalah semata-mata sebelum disetubuhi dan setelah nafsu itu dipuaskan , dia meminta lagi dan meminta lagi .

Memuaskan kehendak syahwat sekali, artinya ialah permulaan dari penyakit tidak akan puas Selama-lamanya, sampai hancur peribadi dan hilang kendali atas diri. Menjadilah kita orahg yang kotdr. Kadang-kadang terperosok lagi kepada penyaki penyakit lain yang bertemu gejalanya dalam zaman moden ini.

Sehingga 0rang-0rang yang berkedudukan tinggi dalam masyarakat ditimpa penyakit “homo sexuil ", laki-laki menyetubuhi laki-laki atau perempuan menyetubuhi perempuan (lesbian) atau memainkan alat kelamin dengan tangan sendiri (onanie).
Nlaka dalam ayat 30 itu diterangkan bahwa usaha yang pertama ialah menjaga penglihatan mata. Jangan mata diperliar !

Pandang pertama tidaklah disengaja. Namun orang yang beriman tidaklah menuruti pandang pertama dengan pandang kedua. Kedua talah memelihara kemaluan atau kehormatan diri . Karena alat kelamin adalah amanat Allah yang disadari oleh manusia yang berakal apa akan gunanya . Menahan penglihatan mata itu adalah menjamin kebersihan dan ketenteraman jiwa.

Pada ayat yang seterusnya disuruh pula Nabi menerangkan kepada kaum perempuan supaya dia pun terlebih-lebih lagi hendaklah memelihara penglihatan matanya , jangan pula pandangannya diperliarnya. Tunjukkanlah slkap sopanmu pada pandangan matamu, sebab pandangan mata wanita itu ialah :

Rama-rama terbang di dusun,
anak Keling bermain kaca;
Bukan hamba mati diracun,
mati ditikam si sudut mata.

Hal ini disuruh Tuhan memperingatkan kepada orang yang beriman , artinya yang ini mempunyai dasar kepercayaan kepada Tuhan Allah dan kepercayaan kepada nilai kemanusiaan , baik laki-laki atau perempuan. Orang yang beriman tidaklah dikendalikan oleh syahwat nafsunya. Jika sekiranya berbahaya pandangan laki-laki , niscaya sepuluh kali lebih berbahaya lagi ditikam sudut mata perempuan :Ke pekan ke Payakumbuh , membeli ikan tenggiri .

Kalau tak nampak tanda sungguh , takutlah laki-laki menghampiri .Peringatan kepada perempuan , selain menjaga penglihatan mata dan memelihara kemaluan, ditambah lagi, yaitu janganlah dipertontonkan perhiasan mereka kecuali yang nyata saja. Cincin di jari , muka dan tangan , itulah perhiasan yang nyata. Artinya yang sederhana dan tidak menyolok dan menganjurkan. Kemudian diterangkan pula bahwa hendaklah selendang (kudung) yang telah memang tersedia ada di kepala itu ditutupkan kepada dada.

Memang amatlah payah menerima anjuran ini bagi orang yang lebih tenggelam kepada pergaulan moden sekarang ini. Kehidupan moden adalah pergaulan yang amat bebas di antara laki-laki dan pérempuanlah permulaan dan penyakit yang tidak akan sembuh selama-lamanya, sampai hancur peribadi dan hilang kendali atas din.

Menjadllah kita orang yang kotor , orang dipaksa mesti sopan dan berpekerti halus terhadap wanita, tetapi pintu-pintu
buat mengganggu syahwat dibuka selebar-lebamya. Mode·mode pakaian wanita terlepas sama sekali dari kendali agama, lalu masuk ke dalam kekuasaan "diktator" ahli mode di Paris, London dan New York.

Kaum wanita adalah dibawah cengkeraman ahli mode “Chnstian Dior". Tempat-tempat permandian umum terbuka dan dikerumuni oleh pakaian·pakaian yang benar-benar mempertontonkan tubuh wanita dan pria. Ahli-ahli film membuat bentuk pakian yang mendebarkan seluruh tubuh dengan nama “You can see” (Engkau boleh lihat). Dan rok mini yang memperlihat kan pangkal paha perempuan yang menimbulkan syahwat.

Dalam ayat ini disuruh menutupkan selendang kepada ’juyub” artinya “lobang" yang membukakan dada sehingga kelihatan pangkal susu. Kadang-kadang pun tertutup tetapi pengguntingnya menjadikannya seakan terbuka juga. Dalam ayat ini sudah diisyaratkan bagaimana hebatnya peranan yang diambil oleh buah dada wanita dalam menimbulkan syahwat,
Wanita yang beriman akan membawa ujung selendangnya ke dadanya supaya jangan terbuka , karena ini akan menimbulkan minat laki-laki dan menyebabkan kehilangan kendali mereka atas diri mereka.

Dalam “filsafat” pandangan hidup modem dikatakan bahwasanya hubungan yang amat dibatasi di antara laki-laki dengan perempuan akan menimbulkan semacam “tekanan batin" pada seseorang. Oleh sebab itu dalam pergaulan yang bebas, sekedar pandang-memandang , bercakap bebas , bergaul dan bersenda-gurau yang tak keterlaluan di antara laki-laki dan perempuan hendaklah dibiarkan. Supaya tekanan syahwat terpendam itu dapat dilepaskan sedikit.

Filsafat yang begini dimulai oleh pendapa-pendapat yang dikeluarkan oleh Sigmund Freud, ahli ilmu jiwa yang terkenal dari Austria. Menurut pendapat dan pandangan beliau, segala kegiatan hidup ini, segala amanat semangat berapi-api dalam perjuangan, kalau dikaji berdalam-dalam asalnya ialah dari pada “syahwat terpendam" itu `asalnya dari "Libido".

Teori-teori ajaran agama yang selalu membatasi dan mengekang hubungan laki-laki dengan perempuan adalah menjadi sebab “penyakit” dalam jiwa itu sendiri. Malahan menurut beliau, agama itu pun asalnya ialah karena manusia merasa berdosa.Sebab pada mulanya dahulu kala , entah apabila "beliau sendiri tidak tahu”, karena timbul dari beliau sendiri, yang dikatakan "ilmiah" sebab beliau "Professor”.

Katanya dahulu kala manusia laki-laki setelah lahir dari perut ibunya, dia kian lama kian besar dan dewasa, lalu dia jatuh cinta kepada ibunya itu. Karena saking cintanya kepada ibunya, lalu dibunuhnya ayahnya dan disetubuhinyalah ibunya. Akhirnya dia menyesal lalu taubat dan dibuatnyalah agama. Jadi agama itu kata ilmiah Professor Yahudi Freud ialah karena manusia hendak taubat dari setubuh! lnilah yang dinamai teori Oedipus.

Dengan demikian Freud hendak menelanjangi manusia daripada peri kemanusiaan nya yang telah diagung agungkan beribu tahun lamanya. Sebagai kawannya Marx (sama-sama Yahudinya) berfilsafat bahwa asal-usul segala pertentangan hidup ini adalah dari perut, maka Freud menjawabnya turun kebawah sedikit dari perut, yaitu alat kelamin.

Menurut ajaran Freud ini, te-kanan pada batin karena aturan agama , terutama karena ajaran "dosa waris” dalam agama Kristen hendaklah dihabiskan dengan memberikan kebebasan pergaulan laki-laki dengan perempuan.
Karena menurut penyelidikan beliau , demi setelah menyelidiki penyakit-penyakit dari orang-orang yang abnormal, dengan mengadakan Psykhoanarlisa , lebih daripada 70% adalah karena sex (syahwat).

Sebab itu hendaklah dilatih diri itu supaya jangan ditekan oleh urusan-urusan demikian. Bebaskanlah ..... !
Sekarang apa jadinya? Benarkah dalam pergaulan yang telah mentaati teori Freud itu, dengan pergaulan bebas, manusia telah terlepas cengkeramannya ?

Orang mandi di kali Ciliwung yang masih secara primitif, atau perempuan-perempuan Bali yang terbuka dadanya, tidaklah dengan niat pada mereka sendiri hendak menggiurkan syahwat orang yang lalu-lintas. Tetapi mode pakaian yang tertutup untuk lebih terbuka, sekali pandang sudah nampak bahwa ketika membuat dan memakainya sudah ada maksud “tertentu”. Yaitu untuk menarik mata laki-laki.

Punggung terbuka , dada terbuka , paha terbuka , dengan maksud apa ? orang disuruh sopan, tetapi dia “diperintahkan" melihat. Laki-laki pun menjadi nakal. Segala sikap, lenggang dan lenggok, seakan-akan meminta lawan, seakan-akan meminta dipegang. Diadakan berbagai etiket supaya laki-laki berlaku sopan terhadap kenyataan yang ada di hadapan matanya itu. Orang tidak akan dapat mengendalikan din lagi, jatuhlah kepada penyakit jiwa. Freud menyatakan soal penyakit jiwa dari sebab “sex”, padahal setelah mempertututkan teorinya , penyakit sex meningkat berlipat-ganda dari pada dahulu.

Memang positifnya laki-laki dan negatifnya perempuan adalah Undang-undang dan alam itu sendiri , Fithrinya ialah ingin bertemu karena keduanya mempunyai tugas, yaitu melahirkan manusia untuk menyambung turunan. Manusia tidak boleh punah dan musnah, sebab manusia tidakkah khalifah Allah dalam dunia ini.

Kecenderungan laki-laki kepada perempuan dan sebaliknya , tidaklah dapat dibunuh·oleh karena tugas suci itu, tidaklah
boleh dia dilepaskan dari kekangnya, melainkan dipelihara dan diatur. Kalau peraturannya tidak ada, payahlah mengendali kan dan mengekang siksaan batin yang tidak berhenti-hentinya , yang telah terbukti pada pergaulan hidup moden ini,

Sungguh, gelak ramai perempuan menimbulkan syahwat, gerak lenggang-lenggoknya menimbulkan syahwat, pandang matanya menikam syahwat , tidaklah pantas kalau hal itu dibatasi ? Sehingga kecenderungan syahwat itu dapat disalurkan menurut jalannya_yang wajar ? Kemudian itu diterangkan pula kepada siapa perempuan hanya boleh memperlihatkan perhiasannya. Dia hanya boleh memperlihatkan perhiasaan-nya hanya kepada:

(1) Suaminya sendiri.
(2) Kepada ayahnya.
(3) Kepada bapa suaminya (mertua laki—laki). ·
(4) Kepada anaknya sendiri.
(5) Kepada anak suaminya (anak tiri dan perempuan itu).
(6) Kepada saudara laki-laki mereka.
(7) Anak laki-laki dari saudara laki-laki
(8) Anak laki-laki dan saudara perempuan (keponakan).
(9) Sesama wanita.
(10) Hamba sahaya budak (semasih dunia mengakui perbudakan).
(11) Pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan.
(12) Anak-anak yang belum melihat tegasnya, belum tahu apa bagian yang menggiurkan syahwat dari tubuh perempuan.

Dengan suami pergaulan memang telah bebas , dan hati kedua belah pihak pun sama terbuka apabila beperhiasan. Ayah ,
mertua laki-laki, cucu, keponakan, memang sudah tidak halal nikah. Sama-sama wanita tidak apa-apa. Budak-budak yang ada dalam rumah, ke luar ke dalam, sudah dengan sendirinya si wanita merasa jiwanya lebih tinggi, sehingga tidak akan menimbulkan apa-apa, karena dari pangkal sudah nyata tadi, dia adalah perempuan yang beriman.

Demikian juga peIayan-pelayan rumah tangga, orang-orang gajian. Apatah lagi kanak-kanak yang masih kecil, yang belum kenal bagian-bagian tubuh wanita yang sakit. Ini pun hanya semata-mata kebolehan memperlihatkan perhiasan tetapi membuka aurat atau kemaluan tetap terlarang juga.

Dengan ayat teranglah bahwa berhias tidak dilarang bagi wanita. Kalau dia wanita, dia mesti ingin berhias. Agama tidaklah menghambat “instink” atau naluri. Setiap wanita cantik, dan kelihatan cantik , Perhiasan pun tidak sama dahulu dengan sekarang, tetapi dasar keinginan berhias tidak berbeda dahulu dengan sekarang. Kadang-kadang perhiasan itu berputar-putar laksana menghesta kain sarung.

Setelah digali orang kuburan Fir‘aun di Mesir, bertemulah perhiasan yang dipakai 4,000 tahun yang lalu, lalu ditiru dan dijadikan mode, dia pun baru kembali. Islam tidak menghalanginya, hanya mengaturnya. Untuk siapa perhiasan itu ? Tujukanlah kepada orang satu , yaitu suami , teman hidup.

Berhiaslah terus untuk menambat hatinya jangan menjalar kepada orang Iain.Berpuluh tahun pun pergaulan suami isteri, setiap han akan dirasai baru terus, asal saja keduanya berhias untuk yang lain. Jangan sampai di rumah bersikotor-kotor saja, tetapi kalau sudah akan keluar melagak, berhias sepuas-puas hati. Untuk menarik mata siapa ? Mata perhiasan yang zahir itu ? Nabi kita Muhammad s.a.w. telah mengatakan kepada Asma binti Abu Bakar as-Shiddiq demikian:

يااسماء انّ المرأة اذا بلغت المحيض لا يصلح أن ير منها إ لاّ هذا فأ شار
الى وجهه وكفّيه

“Hai Asma ! Sesungguhnya perempuan kalau sudah sampai masanya berhaidh, tidaklah dipandang dari dirinya kecuali ini. (Lalu- beliau isyaratkan mukanya dan kedua telapak tangunnya) ! Bagaimana yang lain ? Tutuplah baik-baik dan hiduplah terhormat.

Islam pun mengakui estetika (keindahan) dan kesenian . Tetapi hendaklah keindahan dan kesenian yang timbul dari kehalusan perikemanusiaan , bukan dari kehendak kehewanan yang ada dalam din manusia itu . Keindahan bukan untuk mempertontonkan diri dan bertelanjang, atau menggiurkan seakan-akan sikap dan isyarat berkata: "Pegang aku." Di tegah lagi, jangan dihentakkan kaki ke tanah agar jangan diketahui oleh orang perhiasanya yang tersembunyi.

Alangkah mendalamnya maksud ayat ini jika dikaji dengan ukuran ilmu jiwa. Diketahui benar bahwa khayal dalam soal kelamin ini kadang·kadang lebih tajam dari kenyataan. Syahwat seorang pengkhayal bisa timbul hanya karena melihat tumit wanita, lebih dari melihat tubuhnya sendiri , Hal ini dibincangkan oleh ahli-ahli jiwa moden panjang lebar. Jangan dihentakkan kaki agar perhiasan tersembunyi jangan kelihatan. Alangkah dalam maksudnya , Artinya ialah bahwa segala sikap yang mengandung "daya tarik" untuk laki-laki yang "mabuk kepayang" hendaklah dibatasi, kalau engkau mengakui seorang perempuan yang beriman .

Akhirnya Tuhan tutup périntah itu dengan seruan ;

وَ تُوبُوا إِلَى اللهِ جَميعاً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُون
“Dan taubatlah kamu sekaliannya kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beroleh kejayaan."

Disuruh taubat, karena selama laki-laki masih laki-laki dan perempuan masih perempuan, selama burung di dahan dan binatang di hutan masih berkelamin jantan dan betina, selamanya itu pula manusia tidak akan terlepas dan rayuannya. Jaranglah hati laki-Iaki yang tidak tergetar melihat perempuan cantik. Jaranglah perempuan yang tidak terpesona melihat
laki-laki gagah tampan (ganteng kata orang Jakarta). Islam tak menutup mati perasaan itu , sebab dia tidak dapat dipisahkan dari hidup itu sendiri. Tetapi Islam menyuruh menjaganya baik-baik dan mengaturnya supaya dituntun oleh iman , diperintahkan mernbatasi diri, menekurkan mata, menahan hati dan menjaga kehormatan.

Kesopanan Iman

Sekarang timbullah pertanyaan: " Tidakkah al-Quran memberi petuniuk bagaimana hendaknya gunting pakaian ?
Apakah pakaian yang dipakai diwaktu sekarang oleh wanita Makkah itu telah menuruti petunjuk al-Quran ?
Yaitu yang hanya matanya saja kelihatan ? Al-Quran tidaklah masuk sampai kepada soal detail itu, al-Quran bukan buku model Al-Quran tidak menutup rasa keindahan (estetika) manusia dan rasa seninya . Islam adalah anutan manusia di Barat dan di Timur. Di Pakistan atau di Skandinavia. Bentuk dan gunting pakaian terserahlah kepada ummat manusia menurut ruang dan waktunya.

Yang ditekankan oleh Islam ialah pedoman iman yang ada dalam dada dan sikap hidup yang diatur oleh kesopanan iman. Bentuk pakaian sudah termasuk dalam ruang kebudayaan , dan kebudayaan ditentukan oleh ruang dan waktu ditambahi dengan kecerdasan. Sehingga kalau misalnya wanita Indonesia , karena harus gelombang zaman , beransur atau bercepat menukar kebaya dengan kain batiknya dengan yurk dan gaun secara Barat, sebagaimana yang telah merata sekarang ini, Islam tidaklah hendak mencampurinya.

Barangkali larangan dari kesadaran kebangsaan dan peribadi bangsa akan lebih keras daripada Iarangan Islam sendiri. Karena kalau suatu bangsa telah mudah saja meniru-niru pakaian bangsa Iain, tandanya bahwa pertahanan jiwa bangsa itu mulai goyah.

Yang diperingatkan oleh Islam kepada ummatnya yang beriman, baik Iaki-laki maupun perempuan ialah supaya mata jangan diperliar, kehormatan diri dan kemaluan hendaklah dipelihara, jangan menonjolkan perhiasan yang seharusnya tersembunyi, jangan membiarkan bagian dada terbuka, tetapi tutuplah baik-baik.

Di samping pakaian-pakaian menyolok mata yang dipakai bintang-bintang film, atau pakaian mandi bikini yang ditolak oleh rasa susila, wanita Barat pun mempunyai pakaian yang sangat sopan, baik di Amerika ataupun di Eropa. Banyak mode pakaian mereka yang sesuai dengan kehendak al-Quran.

Apabila keluar rumahnya mereka memakai pakaian luar (coat) menutupi pakaian dan perhiasan dalam, tangan dan kaki diberi kaus, kepala ditutup dengan topi , dada tertutup rapat , dan rasa keindahan dan berhias tidak hilang.
Bila sampai di rumah kembali , barulah coat Iuar itu ditanggalkannya, sehingga perhiasan dalam hanya dilihat oleh suami dan anak-anak dan orang-orang gajiannya.

Kalau gelombang dan harus pakaian Barat itu sudah tak dapat ditolak Iagi mengapa tidak pakaian yang sesuai dengan kehendak agama kita yang hendak kita tiru ? Mengapa tidak kita memilih yang sesuai dengan keperibadian kita ?
Tidaklah seluruh pakaian Barat itu ditolak oleh Islam , dan tidak pula seluruh pakaian negeri kita dapat menerimanya.
Kebaya model Jawa yang sebagian dadanya terbuka, tidak dilindungi oleh selendang, dalam pandangan Islam adalah termasuk pakaian "You can see" juga.

Baju kurung cara-cara Minang yang guntingnya sengaja disempitkan sehingga jelas segala bentuk badan laksana ular melilit, pun ditolak oleh Islaml

Dalam mode pakaian Barat pun ada selendang. Alangkah manisnya jika "Babosca" cara Italia dililitkan di kepala diikatkan ke leher sebagai pasangan gaun ? Mengapa meniru pakaian Barat tanggung-tanggung , dan dipilih hanya yang sesuai dengan selera sendiri saja, padahal ditegur oleh agama kita ? Alhasil, dari merenungi kedua ayat di atas nampaklah bahwa kehendak agama Islam ialah ketenteraman dalam pergaulan , kebebasan yang dibatasi oleh aturan syara‘ , penjagaan yang mulia terhadap setiap peribadi, baik Iaki-Iaki rnaupun perempuan.

Membawa manusia naik ke atas puncak kemanusiaan. Bukan membawanya turun ke bawah, menghilangkan ciri-cirinya sebagai insan, lalu turun menjadi binatang, sesudah mendapat Psychoanalisa dari paduka tuan Professor Freud.

Hasil yang lain pula yang didapat dari kedua ayat ini ialah pertanggungan­jawab memelihara iman yang sama diperintahkan Tuhan kepada laki-laki dan perempuan, tidak ada perbedaan. Sebagai laki-laki disuruh memelihara penglihatan dan memelihara kemaluan , maka perempuan beriman pun dapat peringatan demikian. Tegasnya, jiwa perempuan beriman disuruh berkembang sendiri dengan tuntunan ilahi, sebagai juga jiwa laki-laki.

Kalau terdapat dalam beberapa negeri Islam perempuan dikurung dalam rumah (purdah) dan disuruh menutupi seluruh badannya, sehingga hanya yang sesuai dengan selera sendiri bukanlah hal itu peraturan Islam. Hal itu timbul ialah setelah kaum laki-laki membukut segala kekuasaan dan menutup keras perempuan, supaya jangan buka mulut. Karena si laki-laki ingin berkuasa sendiri.

Dia dinding dengan serba macam dinding, sehingga lama-lama perempuan itu sendiri pun tidak percaya lagi atas dirinya sendiri. Segala pintu hubungan ke luar rumah ditutup rapat, sehingga iman itu sendiri pun tidak dapat masuk ke dalam rumah. Lantaran itu maka yang menjadi pembicaraan perempuan sesamanya lain tidak hanya bergunjing, bersolek, takhyul meng­intip-intip dari belakang tabir, ingin bebas berlari ke luar. Bebas melihat segala laki-laki dan lalu-lintas, dan haram dilihat oleh orang lain.

Kalau di Barat wanita bebas lepas sesuka dengan tidak ada kontrole, maka di negeri-negeri Islam yang jumud wanita dikurung oleh laki-laki. Keduanya kehilangan pedoman hidup. Maka jalan yang baik ialah kembali kepada jalan tengah yang diwariskan Nabi s.a.w. Kaum wanita tidak dikurung dan ditindas, dan tidak pula dibiarkan mengacaukan masyarakat dengan kerling matanya. Tetapi dipupuk rasa tanggung jawabnya atas dirinya, dengan bimbingan laki­laki , dalam rangka membangun masyarakat yang beriman!